Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
08 January 2026 13:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Singapura (SGD) diproyeksikan masih berpeluang untuk melanjutkan tren kenaikannya pada 2026. Terutama terhadap mata uang regional.
Hal ini disampaikan Kepala Ekonom OCBC, Selena Ling, dalam seminar untuk nasabah private OCBC pada Selasa (6/1/2026).
Dalam paparannya yang dikutip dari The Straits Times, Ling menilai dolar Singapura berpotensi terus menguat secara moderat terhadap mata uang regional pada 2026. Menurutnya, kondisi ini menguntungkan bagi warga Singapura yang berencana bepergian ke luar negeri karena nilai tukar yang lebih kuat berpotensi meningkatkan daya beli saat bertransaksi di luar negeri.
Sebagai catatan, sepanjang 2025 SGD berhasil terapresiasi hingga 5,84% terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dari posisi SGD 1,36/US$ pada pembukaan awal 2025 dan ditutup di level SGD 1,2855/US$. Adapun, kurs nya saat pada data terakhir di penutupan perdagangan Rabu (7/1/2026) ada di level SGD1,2818/US$.
Dengan tren positif di tahun lalu, SGD pun masih diperkirakan mampu melanjutkan penguatan di 2026 ini.
Kenapa SGD Diproyeksikan Menguat?
Poin utamanya ada pada arah kebijakan moneter Singapura. Ling menjelaskan bahwa inflasi rendah yang terjadi pada 2025 memang sedikit meningkat pada 2026, namun kondisi itu tidak serta merta memunculkan urgensi bagi bank sentral Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) untuk mengubah kebijakan moneternya.
"Sangat mungkin mereka akan mempertahankannya tanpa perubahan. Itu berarti kemiringan S$NEER (Singapore Dollar Nominal Effective Exchange Rate) akan sedikit positif," kata Ling.
Dengan kerangka kebijakan tersebut, ia memperkirakan SGD tetap punya ruang apresiasi, khususnya terhadap mata uang kawasan.
"Dolar Singapura akan menguat secara moderat terhadap mata uang regional, dan ini kabar baik untuk kalian semua karena itu berarti Singdolar akan menguat terhadap, entah itu yen Jepang atau negara lain," tambahnya.
Fondasi Ekonomi Singapura: Growth Solid & Demand Tahan Banting
Dari sisi fundamental, Ling menilai Singapura berada pada posisi "sweet spot" pada 2026 karena kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kuat, permintaan domestik yang resilien, serta lingkungan moneter yang stabil.
Ia menyoroti pertumbuhan ekonomi Singapura pada 2025 yang mencapai 4,8%, melampaui proyeksi pemerintah sebesar 4% dan menjadi kinerja terbaik sejak 2021 yang tumbuh 9,8% ketika ekonomi bangkit dari resesi 2020 akibat pandemi.
Menyebut 2025 sebagai tahun pertumbuhan yang "stunning", Ling menilai ada peluang ekonomi Singapura bahkan bisa melampaui 3% pada 2026.
"Jika ledakan kecerdasan buatan terus berlanjut, jika kita terus melihat sektor keuangan dan asuransi berkinerja baik, jika kita terus melihat kedatangan wisatawan, kita mungkin memiliki peluang yang sedikit lebih besar untuk melampaui batas atas proyeksi resmi 1% hingga 3% secara tahunan," ujarnya.
Ia juga menyinggung dinamika ASEAN pada 2025 yang tetap solid meski dibayangi ketidakpastian tarif AS.
Pasar sempat memperkirakan percepatan ekspor pada paruh pertama 2025 akan "dibayar" pada paruh kedua, tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
"Payback itu tidak terjadi. Bahkan, paruh kedua justru lebih kuat dibanding paruh pertama. Seluruh ledakan terkait AI, ledakan pusat data, telah menguntungkan banyak negara. Namun secara umum, kita juga melihat suku bunga menurun. Konsumsi domestik relatif tangguh," kata Ling.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa banyak negara ASEAN, termasuk Singapura, bisa saja mengalami perlambatan pada 2026. Menurutnya, perlambatan itu sebagian besar disebabkan oleh adanya "kejutan besar di sisi pertumbuhan" pada 2025 yang membuat basis pertumbuhan tahun sebelumnya sangat tinggi.
Faktor Eksternal: Arah The Fed & Dolar AS Jadi Penentu Tambahan
Dari eksternal, OCBC memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga setidaknya sekali pada 2026. Tetapi, menurut Ling, jumlah pemangkasan selanjutnya akan bergantung pada inflasi.
"Namun apakah akan ada lebih dari satu pemangkasan tahun ini atau ke depannya, itu bergantung pada arah inflasi. The Fed akan memiliki ketua baru yang sangat mungkin juga lebih dovish," ujarnya, sambil menambahkan masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed dijadwalkan berakhir pada Mei.
Ling menyebut pemangkasan suku bunga The Fed pada 2025 ikut membuat dolar AS berkinerja lebih lemah.
Ke depan, OCBC memperkirakan dolar AS melemah secara moderat pada 2026, meski tekanan bisa datang dari ketidakpastian kebijakan dan kenaikan level utang AS. Di sisi lain, dolar AS bisa mendapat dukungan bila The Fed menahan pemangkasan, atau jika terjadi krisis geopolitik maupun krisis pertumbuhan besar.
Bagi warga Indonesia, masih perkasanya dolar Singapura tentu menjadi kabar buruk. Biaya berwisata atau sekedar nonton konser di Singapura bakal semakin mahal.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

22 hours ago
7
















































