Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
30 April 2026 14:55
Jakarta, CNBC Indonesia- Satu turis bisa menghabiskan hampir sebulan di Indonesia. Yang lain datang, menginap dua malam, lalu pulang.
Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kunjungan Wisatawan Mancanegara 2025 terbaru membeberkan bahwa rata-rata lama tinggal wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 9,92 malam, naik dari 7,60 malam pada 2024. Lonjakan ini langsung mengubah nilai ekonomi tiap turis.
Seharusnya, semakin lama mereka tinggal, semakin besar pengeluaran untuk hotel, makanan, transportasi, hingga aktivitas wisata.
Angkanya tidak merata. Wisman asal Yaman mencatat durasi tertinggi mencapai 25,98 malam. Hampir satu bulan.
Setelah itu Rusia di 24,39 malam, lalu Tiongkok 22,50 malam. Dari Eropa, Belanda mencatat 19,81 malam dan Jerman 17,45 malam, turis jarak jauh tinggal lebih lama.
Perjalanan lintas benua mahal dan memakan waktu. Sekali datang, mereka mengoptimalkan durasi. Visa yang lebih panjang, itinerary multi-destinasi, dan kecenderungan slow travel membuat mereka tidak terburu pulang. Setiap tambahan malam berarti tambahan transaksi.
Bandingkan dengan negara tetangga. Wisman asal Timor Leste hanya 2,34 malam. Singapura 3,28 malam, Malaysia 4,10 malam, dan Papua Nugini 4,33 malam. Mayoritas berada di rentang tiga hingga empat malam.
Tipikal short trip kunjungan cepat, yang sering kali berbasis kedekatan geografis.
Sepuluh turis yang tinggal tiga malam belum tentu menghasilkan nilai yang sama dengan tiga turis yang tinggal tiga minggu. Durasi tinggal mengubah komposisi pendapatan volume menjadi kualitas kunjungan.
Ada sinyal pergeseran perilaku di balik kenaikan rata-rata menjadi 9,92 malam. Wisatawan global ke arah tinggal lebih lama. Tren ini sering dikaitkan dengan pola kerja fleksibel, digital nomad, hingga preferensi perjalanan yang lebih dalam, bukan singgah semata.
Namun, struktur pasar Indonesia masih berat di kawasan dekat. ASEAN menyumbang arus besar kunjungan, tapi dengan durasi pendek. Artinya, volume tinggi belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi nilai optimal.
Negara-negara dengan durasi tinggal panjang membuka ruang untuk pendapatan yang lebih stabil per wisatawan. Sementara pasar regional tetap penting sebagai penopang jumlah kunjungan.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

6 hours ago
1
















































