Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) gencar mengguyur likuiditas di perbankan Indonesia melalui kebijakan insentif likuiditas makroprudensial atau KLM.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, total penyaluran insentif KL hingga pekan pertama April 2025 mencapai Rp 427,9 triliun, lebih tinggi dari catatan bulan sebelumnya.
"BI memberikan insentif KLM sampai April Rp 427,9 triliun rupiah disalurkan BUMN Rp 20,24 triliun. Insentif makro disalurkan ke pemerintah lewat Asta Cita termasuk sektor pertanian, perumahan, koperasi. Kebijakan makro juga longgar untuk pertumbuhan kredit," kata Perry, dalam konferensi pers KSSK, Kamis (7/5/2026).
Untuk mempercepat penyaluran KLM ini, BI meluncurkan Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI 2026) pada akhir April 2026. Dalam PINISI, BI mencoba menghubungkan antara KSSK, regulator, investor hingga perbankan. PINISI juga dihadirkan untuk mendukung penyaluran kredit UMKM.
"Koordinasi dengan KSSK menjaga kredit melalui PINISI. Kebijakan diarahkan untuk UMKM antara lain insentif KLM 1% dari DPK (dana pihak ketiga)," katanya
Sebagai catatan, KLM ini hadir untuk mendorong bank agar menyalurkan kredit ke sektor prioritas Pemerintah dan mempercepat penurunan suku bunga kredit.
Hal ini didukung dengan kapasitas pembiayaan perbankan yang memadai yang tecermin dari rasio likuiditas perbankan (AL/DPK) yang terjaga sebesar 27,85% serta pertumbuhan DPK yang mencapai 13,55% (yoy) pada Maret 2026.
(haa/haa)
Addsource on Google

1 hour ago
2
















































