Bersiaplah Hadapi Badai, Perang Iran-Agenda Besar China Bisa Goyang RI

1 day ago 3
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pekan lalu, IHSG stagnan sementara rupiah melemah
  • Dow Jones ambruk pada pekan lalu
  • Perang Iran, rapat akbar di China hingga data inflasi dalam negeri akan menggerakkan sentimen pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada pekan lalu. Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan menghadapi tekanan berat hari ini dan sepanjang pekan ke depan setelah serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran.

Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan hari ini dan sepanjang pekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  berakhir stagnan pada perdagangan Jumat (27/2/2026), setelah tertekan dalam sepanjang hari.

IHSG yang sempat tercatat turun 1,47% mampu memangkas koreksi secara signifikan dan berakhir menguat tipis. Pada akhir perdagangan sesi kedua IHSG stagnan atau naik 0,22 poin ke level 8.235,48.

Dari sisi likuiditas, nilai transaksi tercatat mencapai Rp38,25 triliun dengan volume 47,64 miliar saham dalam 2,53 juta kali transaksi. Sebanyak 315 saham melemah, 341 saham menguat, sementara 163 stagnan.

Mengutip data Refinitiv, kinerja suboptimal IHSG Jumat pekan lalu terutama disebabkan oleh koreksi saham-saham berkapitalisasi jumbo (big caps) yang memiliki bobot besar terhadap indeks.

Beralih ke pasar valas, Rupiah berakhir melemah lawan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari terakhir pekan lalu, Jumat (27/2/2026).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup di posisi Rp16.760/US$ atau terdepresiasi 0,06%.

Pelemahan rupiah pada perdagangan Jumat masih dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal. Dolar AS sempat bangkit dari pelemahan pada Kamis kemarin setelah data klaim awal pengangguran mingguan AS naik 4.000 menjadi 212.000.

Angka tersebut lebih rendah dari proyeksi pasar 216.000, sehingga mempertegas sinyal pasar tenaga kerja yang masih solid.

Penguatan dolar juga didorong oleh meningkatnya kebutuhan likuiditas setelah pasar saham AS tertekan. Namun, ruang penguatan dolar relatif terbatas seiring munculnya komentar dovish dari Presiden bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) Chicago, Alan Goolsbee, yang menilai suku bunga masih berpeluang turun tahun ini jika inflasi terus melandai.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik tipis ke 6,41% pada Jumat dari 6,40% pada perdaganagn sebelumnya.

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |