Jakarta, CNBC Indonesia — Tekanan jual investor asing membayangi pasar saham domestik pada perdagangan sesi pertama Kamis (30/4/2026), seiring dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih dari 2%.
Pada penutupan sesi I, IHSG tercatat di level 6.926,55 atau turun 175 poin (-2,42%). Level ini sekaligus menjadi titik terendah sepanjang tahun 2026. Secara year-to-date (ytd), IHSG juga telah terkoreksi sekitar 20%, mencerminkan tekanan yang semakin dalam di pasar ekuitas domestik.
Data intraday menunjukkan investor asing masih melanjutkan aksi jual bersih (net sell) dengan nilai mencapai Rp977,1 miliar. Total nilai beli asing tercatat Rp4 triliun, sementara nilai jual mencapai Rp5 triliun.
Aksi jual asing terfokus pada saham-saham big caps, khususnya sektor perbankan dan komoditas.
Berikut saham dengan net foreign sell terbesar pada sesi I:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) - Rp383,8 miliar
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) - Rp285,6 miliar
- PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) - Rp143,0 miliar
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) - Rp46,1 miliar
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) - Rp37,8 miliar
- PT Darma Henwa Tbk (DEWA) - Rp22,5 miliar
- PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) - Rp21,4 miliar
- PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) - Rp16,1 miliar
- PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) - Rp15,4 miliar
- PT Petrosea Tbk (PTRO) - Rp14,8 miliar
Di tengah derasnya outflow, asing masih terlihat melakukan akumulasi terbatas pada sejumlah saham, meski belum cukup kuat untuk menahan pelemahan indeks.
Saham dengan net foreign buy terbesar antara lain:
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) - Rp37,9 miliar
- PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) - Rp31,9 miliar
- PT Vale Indonesia Tbk (INCO) - Rp19,5 miliar
- PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) - Rp16,5 miliar
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) - Rp16,0 miliar
Seluruh sektor perdagangan melemah, dengan koreksi paling dalam dicatatkan oleh infrastruktur, barang baku dan energi.
Sementara itu, emiten tambang batu bara Grup Sinar Mas, Dian Swastatika Sentosa (DSSA), menjadi beban utama kinerja IHSG dengan pelemahan 13,22 indeks poin. Lalu diikuti oleh BBRI dan BBCA dengan pelemahan masing-masing 12,54 dan 11,71 indeks poin.
Emiten lainnya yang menjadi pemberat IHSG termasuk BREN, MEGA, TPIA, BRPT, MDKA, AMMN dan UNTR.
Analis Doo Financial Futures mengatakan, sentimen yang menghantam IHSG masih seputar ketidakpasian geopolitik global yang masih terjadi saat ini.
"Secara umum memang global masih risk off dari ketidakpastian perdamaian di timteng, harga minyak yg kembali naik, merespon ancaman militer terbaru Trump dan FOMC yang hawkish semalam," ujarnya saat dihubungi oleh CNBC Indonesia, Kamis (30/4/2026).
Selain itu, belum ada pengungkit dari dalam negeri yang dapat dijadikan angin segar bagi pasar saham Indonesia. Nilai mata uang Rupiah terus mencetak pelemahan tertinggi, ditambah dengan kekhawatiran defisit anggaran. Belum lagi persoalan rebalancing dari MSCI yang juga masih menghantui.
"Belum ada sentimen yang bisa mengunkit, walau valuasi beberapa saham blue chip sudah cukup menarik, namun downside geopolitikal dan AI bubble masih mengancam," tambahnya.
(mkh/mkh)
Addsource on Google

7 hours ago
1
















































