Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak orang mengira pengeluaran terbesar yang menguras keuangan berasal dari cicilan, belanja barang mewah, atau liburan. Namun menurut self-made miliuner sekaligus pakar keuangan pribadi Ramit Sethi, sumber kebocoran uang terbesar justru berasal dari kebiasaan lain, yaitu makanan!
Dalam buku terbarunya Money for Couples, Sethi mengungkapkan, sekitar 90% orang yang ia temui memiliki peluang untuk menghemat uang paling banyak dari pos pengeluaran makanan, baik makan di restoran maupun memesan makanan secara online.
"Dari 90% orang yang saya ajak bicara, makanan adalah kategori terbesar di mana ada uang yang bisa ditabung dan dialihkan ke hal yang lebih penting," tulis Sethi dikutip dari CNBC Make It, Senin (8/6/2026).
Ia bilang, pengeluaran untuk makanan sering kali tidak disadari karena berkaitan dengan emosi dan kebiasaan sehari-hari.
"Beli makan malam bukan hanya soal lapar. Ada unsur kenyamanan, impulsif, hadiah untuk diri sendiri, dan banyak faktor lainnya," ujarnya.
Sethi menjelaskan, pengeluaran makanan sering tersebar dalam banyak transaksi kecil yang sulit dilacak. Semisal seseorang membeli makan siang saat bekerja, pasangannya makan malam bersama teman, membeli pizza untuk anak-anak menggunakan uang tunai, atau memesan makanan dalam perjalanan pulang. Akibatnya, total pengeluaran bulanan untuk makanan sering kali jauh lebih besar dari perkiraan.
"Ini menjadi campuran berbagai pengeluaran kecil yang mudah lepas dari perhatian," kata ia.
Tak sedikit orang yang baru menyadari besarnya biaya makan di luar setelah memeriksa laporan kartu kredit atau rekening bank mereka.
Cara Mengubahnya
Sethi menyarankan pasangan atau keluarga mulai mencatat seluruh pengeluaran makan di luar menggunakan kartu kredit atau metode pembayaran yang sama agar lebih mudah dipantau.
Selain itu, perubahan kebiasaan perlu dilakukan secara bertahap dan saling mendukung. Beberapa orang yang pernah berkonsultasi dengannya berhasil memangkas pengeluaran makanan dengan berbagai cara.
Salah satunya adalah membeli bahan makanan dalam jumlah besar untuk disimpan di freezer sehingga selalu tersedia stok makanan untuk dimasak di rumah pada hari kerja.
Ada pula yang mengganti kebiasaan nongkrong di restoran dengan acara makan bersama teman di rumah, di mana setiap orang membawa makanan masing-masing. Sementara sebagian lainnya mulai menjadwalkan hari khusus untuk memasak dan memanfaatkan sisa makanan untuk beberapa kali makan berikutnya.
Sethi mengatakan, tujuan utama bukan sekadar berhenti makan di luar, melainkan memahami pengeluaran yang selama ini tidak disadari. Dengan mengetahui ke mana uang mengalir, kata ia, seseorang bisa mengalihkan dana tersebut untuk tujuan yang lebih penting, seperti menabung, berinvestasi, membayar utang, atau mempersiapkan dana pensiun.
Salah satu klien Sethi mengaku berhasil mengurangi kebiasaan makan di luar yang sebelumnya mencapai lima hingga enam kali dalam seminggu. Uang yang berhasil dihemat kemudian digunakan untuk mempercepat pelunasan utang kartu kredit.
"Setelah hari yang panjang memang melelahkan untuk memasak dan membereskan dapur. Tapi melihat utang terus berkurang memberikan kepuasan tersendiri," ujar klien tersebut.
Sethi menilai langkah pertama yang perlu dilakukan adalah bersikap jujur terhadap kebiasaan belanja sendiri.
"Mulailah dengan percakapan yang jujur. Apa yang terlalu banyak Anda belanjakan? Di mana Anda bisa mengurangi pengeluaran?" tulisnya.
Ia menekankan, semakin terbuka seseorang membahas keuangan, semakin mudah pula mengelola uang secara lebih bijak dan sesuai tujuan hidup.
(hsy/hsy)
Addsource on Google

3 hours ago
5

















































