Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
06 August 2026 12:55
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah perlambatan laju pertumbuhan industri pengolahan, industri pengolahan nonmigas justru mencatat kenaikan pada kuartal II-2026. Laju pertumbuhan tahunannya meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya.
Industri pengolahan secara keseluruhan tumbuh 4,52% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II-2026. Dilansir dari data Badan Pusat Statistik (BPS), angka tersebut melambat dari 5,04% pada kuartal I-2026 dan 5,68% pada kuartal II-2025.
Meski melambat, industri pengolahan tetap menjadi lapangan usaha terbesar dalam struktur produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Kontribusinya mencapai 18,50% terhadap PDB dan memberikan andil 0,90 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2026.
Perlambatan industri pengolahan terutama berasal dari industri batu bara dan pengilangan migas.
Subsektor tersebut mengalami kontraksi 3,97% yoy pada kuartal II-2026, setelah masih tumbuh 3,88% pada kuartal sebelumnya.
Kondisi berbeda terlihat pada industri pengolahan nonmigas.
Laju pertumbuhannya meningkat dari 5,14% yoy pada kuartal I-2026 menjadi 5,32% pada kuartal II-2026. Pertumbuhannya juga lebih tinggi dibandingkan industri pengolahan secara keseluruhan yang sebesar 4,52%.
Di dalam industri pengolahan nonmigas, tiga subsektor bahkan mencatat pertumbuhan hingga dua digit. Industri pengolahan lainnya serta jasa reparasi dan pemasangan mesin tumbuh 12,22% yoy, industri furnitur tumbuh 11,82%, sedangkan industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki tumbuh 11,30%.
Ketiganya bukan hanya tumbuh tinggi secara tahunan, tetapi juga mengalami percepatan dibandingkan kuartal sebelumnya.
Industri Pengolahan Lainnya Melesat 12,22%
Pertumbuhan tertinggi terjadi pada industri pengolahan lainnya serta jasa reparasi dan pemasangan mesin. Laju pertumbuhannya melonjak dari 6,39% yoy pada kuartal I-2026 menjadi 12,22% pada kuartal II-2026.
Kenaikannya mencapai 5,83 poin persentase hanya dalam satu kuartal. Dibandingkan kuartal II-2025 yang tumbuh 7,13%, terjadi percepatan sebesar 5,09 poin persentase.
Pertumbuhan pada kuartal II-2026 juga menjadi yang tertinggi dalam tiga kuartal terakhir. Angka yang lebih tinggi terakhir tercatat pada kuartal III-2025 sebesar 13,90%.
Namun, subsektor ini merupakan kategori gabungan dengan cakupan yang luas.
Industri pengolahan lainnya mencakup antara lain perhiasan, alat musik, peralatan olahraga, mainan, serta peralatan medis dan kedokteran gigi. BPS kemudian menggabungkannya dengan jasa reparasi dan pemasangan mesin.
Furnitur Bangkit Setelah Sempat Tertekan
Industri furnitur mengalami perubahan yang paling tajam. Setelah tumbuh 4,32% yoy pada kuartal I-2026, lajunya melonjak menjadi 11,82% pada kuartal berikutnya. Pertumbuhan yang sekaligus menjadi tertinggi dalam 7 tahun terakhir atau sejak kuartal I-2019 yang kala itu tumbuh hingga 12,89%.
Pertumbuhan tersebut meningkat 7,50 poin persentase dibandingkan kuartal sebelumnya. Kenaikannya jauh lebih besar jika dibandingkan kuartal II-2025, ketika industri furnitur mengalami kontraksi 0,05%.
Basis pembanding yang rendah atau low base effect menjadi salah satu penjelasan tingginya pertumbuhan industri furnitur pada kuartal II-2026. Kontraksi pada periode yang sama tahun sebelumnya terjadi ketika perang dagang Amerika Serikat menimbulkan ketidakpastian bagi eksportir furnitur Indonesia.
Pada April 2025, Amerika Serikat mengumumkan tarif resiprokal terhadap banyak negara. Produk Indonesia saat itu terancam dikenai tarif tambahan sebesar 32%, meskipun penerapannya kemudian ditunda selama proses perundingan.
Kebijakan tersebut sangat berpengaruh bagi industri furnitur karena Amerika Serikat menyerap sekitar 54% ekspor furnitur dan kerajinan Indonesia. Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) ketika itu mencatat adanya penundaan pengiriman dan kekhawatiran pembeli akibat ketidakpastian tarif.
Sehingga, ketika produksi membaik pada 2026, basis pembanding yang rendah membuat persentase pertumbuhan tahunannya terlihat sangat tinggi.
Meski memperoleh dorongan dari low base effect, data Bank Indonesia menunjukkan aktivitas industri furnitur memang membaik. Dalam Survei Kegiatan Dunia Usaha Kuartal II-2026, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha furnitur meningkat dari minus 0,01% pada kuartal I-2026 menjadi 0,01%.
Pemanfaatan kapasitas produksi industri furnitur juga naik dari 65,46% menjadi 66,13%. Kenaikan kedua indikator tersebut menunjukkan adanya peningkatan kegiatan produksi, meskipun perubahannya tidak sebesar lonjakan yang terlihat pada data pertumbuhan tahunan.
Alas Kaki Tumbuh Bersama Pemulihan Ekspor
Industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki tumbuh 11,30% pada kuartal II-2026, meningkat dari 8,31% pada kuartal yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi dalam 15 kuartal atau sejak kuartal III-2022 yang tumbuh sebesar 13,44%.
Pertumbuhan dua digit tersebut menunjukkan industri kulit dan alas kaki mampu mempercepat produksi di atas kinerja tahun lalu.
Peningkatan produksi berlangsung bersamaan dengan menguatnya kinerja ekspor. Berdasarkan Satu Data Perdagangan Kementerian Perdagangan, ekspor alas kaki dengan kode HS 64 mencapai US$3,29 miliar sepanjang Januari-Mei 2026, tumbuh 5,59% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Amerika Serikat masih menjadi pasar terbesar dengan nilai ekspor sebesar US$1,18 miliar atau sekitar 35,8% dari keseluruhan ekspor alas kaki Indonesia. Nilainya meningkat 8,77% secara tahunan.
Ekspor ke Belanda melonjak 52,42% menjadi US$413 juta. Ekspor ke Jepang meningkat 1,47% menjadi US$186 juta, sedangkan pengiriman ke Australia dan Italia masing-masing tumbuh 13,06% dan 10,73%.
Data tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan dua digit industri kulit dan alas kaki pada kuartal II-2026 berlangsung bersamaan dengan peningkatan permintaan dari sejumlah negara yang memang menjadi tujuan ekspor.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

1 hour ago
2

















































