Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat dan Venezuela diam-diam membuka jalur komunikasi untuk membahas kemungkinan ekspor minyak mentah Venezuela ke kilang-kilang di AS, sebuah langkah yang berpotensi mengalihkan pasokan yang sebelumnya ditujukan ke China sekaligus memberi napas bagi perusahaan minyak negara PDVSA yang terancam pemangkasan produksi lebih dalam.
Lima sumber dari kalangan pemerintah, industri, dan pelayaran mengatakan kepada Reuters pada Selasa (6/1/2026) waktu setempat bahwa pembicaraan tersebut berlangsung di tengah menumpuknya jutaan barel minyak Venezuela yang terjebak di kapal tanker dan tangki penyimpanan. Minyak itu tak bisa dikapalkan akibat blokade ekspor yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump sejak pertengahan Desember lalu.
Blokade tersebut merupakan bagian dari peningkatan tekanan Washington terhadap pemerintahan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang mencapai puncaknya akhir pekan ini ketika pasukan Amerika Serikat menangkap Maduro. Situasi itu membuat PDVSA kesulitan menyalurkan produksinya dan memperparah krisis penyimpanan.
Menurut dua sumber, skema awal kesepakatan yang sedang dibahas kemungkinan mengharuskan realokasi kargo minyak yang semula ditujukan ke China. Dalam satu dekade terakhir, terutama sejak AS menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan yang terlibat perdagangan minyak Venezuela pada 2020, China menjadi pembeli terbesar minyak negara Amerika Selatan tersebut.
Jika terealisasi, langkah ini akan menambah volume minyak Venezuela yang masuk ke pasar AS, yang saat ini seluruhnya dikendalikan oleh Chevron, mitra usaha patungan utama PDVSA, berdasarkan otorisasi khusus dari pemerintah AS. Chevron dalam beberapa bulan terakhir mengekspor sekitar 100.000 hingga 150.000 barel per hari minyak Venezuela ke AS.
Di tengah blokade, Chevron muncul sebagai satu-satunya perusahaan yang relatif lancar memuat dan mengapalkan minyak dari Venezuela. Sementara itu, PDVSA telah terpaksa memangkas produksi karena kapasitas penyimpanan yang semakin terbatas.
Salah satu sumber memperingatkan bahwa tanpa jalan keluar untuk mengekspor minyak dalam waktu dekat, perusahaan negara itu harus memangkas produksi lebih jauh.
Gedung Putih, pejabat pemerintah Venezuela, dan PDVSA belum memberikan komentar resmi. Namun, Kementerian Perminyakan Venezuela sebelumnya menuduh AS ingin mencuri cadangan minyak negara itu dan mengecam penangkapan Maduro sebagai sebuah penculikan.
Sebelum sanksi energi pertama kali diberlakukan Washington, kilang-kilang minyak di kawasan Teluk Amerika Serikat mampu dan biasa mengolah minyak berat Venezuela, dengan volume impor mencapai sekitar 500.000 barel per hari.
Meski demikian, masih belum jelas bagaimana PDVSA, yang berada di bawah sanksi, akan menerima hasil penjualan minyak tersebut.
Para pejabat dilaporkan sedang membahas berbagai mekanisme penjualan, termasuk opsi lelang yang memungkinkan pembeli AS ikut menawar kargo, serta penerbitan lisensi Amerika Serikat bagi mitra bisnis PDVSA yang dapat berujung pada kontrak pasokan, menurut dua sumber.
Selain itu, pembicaraan juga mencakup kemungkinan penggunaan minyak Venezuela untuk mengisi kembali cadangan minyak strategis AS di masa mendatang, kata salah satu sumber.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

1 day ago
5

















































