Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
23 March 2026 21:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Arus balik Lebaran mulai berjalan dan masyarakat yang tengah balik ke kota tujuan diimbau untuk tetap menjaga kondisi tubuh selama perjalanan.
Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah microsleep, yaitu kondisi tertidur singkat yang kerap terjadi tanpa disadari saat seseorang sedang beraktivitas, termasuk ketika mengemudi.
Microsleep merupakan fase tidur yang sangat singkat, umumnya berlangsung kurang dari 30 detik. Meski hanya sebentar, kondisi ini sangat berbahaya karena dapat membuat pengendara kehilangan fokus, terlambat merespons situasi di jalan, hingga memicu kecelakaan.
Fenomena ini tidak bisa dianggap remeh. Data tahun 2024 menunjukkan sekitar 35% kecelakaan berkaitan dengan microsleep. Bahkan, ketika frekuensi microsleep terjadi sangat sering dalam waktu singkat, risiko kecelakaan bisa meningkat sangat tajam.
Beberapa kelompok dinilai lebih rentan mengalami microsleep, seperti lansia, penderita demensia, orang dengan kualitas tidur yang buruk, hingga mereka yang memiliki riwayat cedera kepala. Namun pada praktiknya, siapa pun bisa mengalaminya jika tubuh terlalu lelah dan tetap dipaksa berkendara.
Data kepolisian menunjukkan perbaikan signifikan dalam arus mudik tahun ini. Jumlah kecelakaan lalu lintas tercatat turun 3,23% menjadi 1.259 kasus pada 2026, dari 1.301 kasus pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan lebih tajam terlihat pada angka fatalitas. Korban meninggal dunia akibat kecelakaan mudik merosot 24,61%, dari 191 jiwa pada 2025 menjadi 144 jiwa pada 2026.
Meski demikian, pengendara tetap diminta tidak lengah. Sebelum melanjutkan perjalanan jauh, penting untuk mengenali tanda-tanda microsleep berikut ini.
Gejala microsleep yang perlu diwaspadai:
1. Respons tubuh menurun
Saat microsleep mulai terjadi, tubuh biasanya tidak lagi sigap merespons rangsangan dari luar, misalnya suara klakson, getaran kendaraan, atau perubahan kondisi jalan.
2. Mata terasa sangat berat
Salah satu tanda paling umum adalah kelopak mata yang sulit terbuka. Kondisi ini sering muncul sebelum seseorang benar-benar kehilangan fokus.
3. Kesadaran sempat hilang beberapa detik
Pengendara bisa merasa seperti "blank" atau tidak menyadari apa yang terjadi dalam beberapa detik terakhir.
4. Sering menguap dan berkedip
Munculnya rasa kantuk berat, mata perih, dan frekuensi menguap atau berkedip yang meningkat patut menjadi alarm untuk segera berhenti beristirahat.
5. Kepala menunduk atau tubuh tersentak
Dalam beberapa kasus, microsleep ditandai kepala yang tiba-tiba jatuh ke depan atau tubuh yang mendadak tersentak saat mencoba tetap terjaga.
Kalau tanda-tanda itu sudah muncul, perjalanan sebaiknya tidak dipaksakan. Berhenti sejenak lalu tidur singkat sekitar 15-20 menit jauh lebih aman dibanding terus berkendara dalam kondisi lelah.
Penyebab microsleep yang paling umum antara lain:
1. Kurang tidur
Ini merupakan penyebab utama. Ketika tubuh tidak mendapat waktu istirahat yang cukup, otak akan berusaha "mencuri" waktu tidur, termasuk di saat yang berbahaya seperti ketika menyetir.
2. Kelelahan fisik atau mental
Aktivitas padat, perjalanan jauh, atau tekanan pikiran dapat membuat tubuh cepat kehilangan konsentrasi.
3. Perjalanan yang monoton
Jalan lurus, suasana sepi, dan ritme berkendara yang berulang bisa membuat otak cepat jenuh lalu memicu rasa kantuk.
4. Pengaruh alkohol atau obat tertentu
Beberapa zat dapat menekan kerja sistem saraf pusat dan membuat rasa kantuk datang lebih cepat.
Microsleep makin berbahaya jika dikaitkan dengan tingginya angka kecelakaan pada kendaraan roda dua. Data menunjukkan sepeda motor menjadi jenis kendaraan yang paling banyak terlibat kecelakaan, yakni mencapai 73%. Setelah itu disusul kendaraan angkut orang atau bus sebesar 12%, angkutan barang 10%, mobil pribadi 2%, dan sisanya kendaraan lain.
Karena itu, perjalanan jauh saat arus balik tidak cukup hanya mengandalkan kondisi kendaraan yang prima. Pengemudi juga harus memastikan tubuh dalam kondisi fit, cukup tidur, dan tidak memaksakan diri ketika rasa kantuk mulai datang.
Dalam banyak kasus, istirahat singkat bisa menjadi pembeda antara perjalanan aman dan kecelakaan di jalan.
Bagaimana Cara Mencegahnya?
Microsleep menjadi salah satu penyebab kecelakaan fatal, terutama saat arus balik Lebaran. Untuk itu, pengemudi perlu meningkatkan kewaspadaan dengan langkah berikut:
1.Atur konsumsi kafein
Minum kopi dapat membantu menjaga kewaspadaan, namun efeknya baru terasa sekitar 30 menit setelah dikonsumsi. Pastikan waktu konsumsi tepat sebelum berkendara.
2. Jaga tubuh tetap akti
Lakukan aktivitas ringan seperti mengobrol dengan penumpang agar tetap terjaga. Alternatif lain, gunakan transportasi umum yang memungkinkan bergerak atau berdiri.
3. Penuhi waktu tidur
Pastikan tidur cukup selama 7-9 jam sebelum perjalanan agar kondisi tubuh dan konsentrasi tetap optimal.
4. Segera istirahat saat mengantuk
Jika mulai lelah, segera menepi dan beristirahat. Untuk perjalanan jauh, disarankan berhenti setiap 1-2 jam guna mencegah kelelahan.
Langkah-langkah ini penting untuk menekan risiko kecelakaan akibat hilangnya konsentrasi secara tiba-tiba di jalan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

2 hours ago
2
















































