Wartawan Bukanlah Instrumen Darurat

3 hours ago 3
Opini

9 Februari 20269 Februari 2026

Wartawan Bukanlah Instrumen Darurat

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

Oleh Syafrizal ZA 

“Wartawan bukanlah mobil pemadam kebakaran”, ungkapan itu merefleksikan persoalan mendasar,  dalam relasi antara pers dan pemegang otoritas. Pers sering diposisikan sebagai instrumen reaktif, bukan institusi publik, yang bekerja secara berkelanjutan. 

Lazimnya, wartawan dihubungi saat krisis komunikasi terjadi, namun diabaikan ketika situasi kembali normal. Persis seperti mobil pemadam kebakaran, yang dihubungi hanya saat terjadinya kebakaran. Setelah api padam langsung diacuhkan. Pola ini tidak hanya keliru secara etis, tetapi juga kontraproduktif dalam praktik tata kelola modern.

Dalam perspektif akademik, jurnalistik merupakan bagian dari public accountability system. Pers berfungsi sebagai mekanisme pengawasan (watchdog), penyedia informasi (informant) dan ruang deliberasi publik. 

Fungsi-fungsi tersebut tidak bekerja secara insidental, melainkan memerlukan akses, kontinuitas dan relasi profesional yang stabil. Sebagaimana ditegaskan dalam literatur komunikasi politik, “Transparency is not a crisis response, but a governance principle.”

Memperlakukan wartawan hanya sebagai alat pemadam krisis, menunjukkan kegagalan memahami komunikasi publik sebagai proses jangka panjang. 

Dalam praktik terapan, organisasi yang hanya membuka diri saat krisis, justru meningkatkan risiko distrust, misinformasi dan delegitimasi institusional. Reputasi tidak dibangun melalui klarifikasi sesaat, melainkan melalui konsistensi keterbukaan. “Trust is accumulated over time, but can be lost in a moment.”

Dari sudut etika jurnalistik, wartawan tidak bekerja atas dasar kepentingan institusi, melainkan kepentingan publik. Karena itu, relasi dengan narasumber seharusnya bersifat setara dan profesional, bukan transaksional. 

Akses informasi bukanlah privilese, tetapi konsekuensi dari prinsip akuntabilitas. Dalam konteks ini, menutup diri setelah krisis berlalu sama artinya dengan mengingkari tanggung jawab komunikasi publik.

Secara terapan, praktik hubungan pers yang sehat menuntut tiga hal utama. Masing-masing, keterbukaan reguler, kejelasan informasi dan penghormatan terhadap independensi media. Institusi yang memahami ini, cenderung lebih siap menghadapi krisis, karena narasi publik telah dibangun sejak awal. 

Sebaliknya, institusi yang alergi terhadap pers, akan selalu berada dalam posisi defensif. “Good communication prevents crises; poor communication creates them.”

Dengan demikian, wartawan tidak dapat direduksi menjadi pemadam kebakaran yang dipanggil saat api membesar. Ia adalah bagian dari ekosistem demokrasi dan tata kelola, yang berfungsi mencegah kebakaran itu sendiri.

Mengakui peran ini, bukan hanya soal menghormati profesi, tetapi juga soal membangun kepercayaan publik yang berkelanjutan dan rasional. Selamat Hari Pers Nasional, Pers Dikekang Informasi Hilang.

Penulis adalah Wartawan Harian Waspada dan Waspada.id Wilayah Aceh Barat Daya 

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |