Jakarta, CNBC Indonesia- Penutupan selat Hormuz akibat perang Iran Vs AS dan Israel telah mengerek harga minyak mentah dunia hingga ke atas level USD 110 per Barel pada 30 Maret 2026. Di sisi lain, ketegangan Timur Tengah ini berimbas pada gangguan rantai pasok bahan pangan termasuk distribusi pupuk.
Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital & Hubungan Antarlembaga Kemenko Pangan, Bara Krishna Hasibuan mengatakan dampak perang dan penutupan selat Hormuz saat ini belum begitu besar terhadap pasokan pangan nasional. Mengingat ketergantungan RI terhadap pangan impor semakin berkurang karena kebutuhan beras hingga jagung sudah mengandalkan produksi dalam negeri.
Sementara terkait impor gandum hingga kedelai mengandalkan Australia, Rusia, Kanada hingga Ukraina yang tidak melalui Selat Hormuz. Meski untuk bahan baku pupuk yang impor utamanya Sulfur dari Kuwait dan Qatar sehingga cukup terganggu oleh karena alternatif Sulfur diganti dengan Asam Sulfat yang diproduksi dalam negeri.
Seperti apa strategi RI hadapi dampak perang Timur Tengah? Selengkapnya simak ulasan Andi Shalini dengan Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital & Hubungan Antarlembaga Kemenko Pangan, Bara Krishna Hasibuan dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Senin, 30/03/2026)
Add
source on Google

4 hours ago
3
















































