Usai Huru-Hara MSCI: Saham Konglo Diskon, Waktunya Masuk?

3 hours ago 2

FUNDAMENTAL PUNDIT

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

12 February 2026 13:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah MSCI Crash hingga membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) trading halt dua kali akhir bulan lalu, pelaku pasar mulai lebih selektif memilih saham yang memiliki value, termasuk di saham konglo.

Kekhawatiran mengenai MSCI kini mereda. IHSG pada pekan kedua Februari 2026 sudah tiga hari beruntun berada di zona hijau dan berhasil bertengger lagi ke level 8200, setelah pekan lalu jatuh sampai level 7600-an.

Saat ini secara teknikal, IHSG potensi menguji resistance 8400, jika berlanjut ada gap yang potensi ditutup dulu di 8900. Namun, untuk mencapai itu, diperlukan nilai transaksi harian yang cukup besar, bisa lebih dari Rp30 triliun. ,

Jadi, tetap perlu diantisipasi kalau penguatan IHSG lebih condong pada teknikal rebound jangka pendek dan geraknya masih rawan lanjut terkonsolidasi atau sideways dulu.

Perhatian pasar saat ini akan beralih fokus pada rilis laporan keuangan sepanjang tahun lalu dan agenda bisnis perusahaan, baik itu ekspansi maupun aksi korporasi yang akan dilakukan.

Selain itu, dari sisi regulasi, pelaku pasar juga masih memantau, bagaimana kelanjutan transparansi di bursa yang secara perlahan diharapkan memulihkan kepercayaan investor lagi.

Saham Konglo Sudah Mulai Hijau Lagi

Seiring dengan penguatan IHSG dalam tiga hari terakhir, saham konglomerat yang sudah banyak turun dalam, akhirnya sudah mulai bangkit lagi.

Flashback dulu, sebelum terjadi MSCI Crash, saham-saham konglo sebenarnya sudah berada pada jalur uptrend, tak sedikit yang harganya menuju level All TIme High atau posisi tertinggi yang pernah disentuh dalam beberapa tahun terakhir.

Sebut saja, contohnya saham yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu, PT Petrosea Tbk (PTRO) dari puncak tertinggi 12.900 yang dicapai 15 Januari lalu, sempat jatuh lebih dari 60% menuju posisi terendah secara intraday di 5.200 pada 3 Februar 2026.

Namun, saat ini sudah mulai hijau lagi, tercermin dari penguatan Rabu kemarin (11/2/2026), nyaris 20% kembali ke level 7.200.

Contoh lain juga terjadi di saham grup Bakrie yang berkongsi dengan Salim seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang harganya pada pekan pertama Januari sempat mau ke 500, tetapi harus rela tersungkur lagi pada akhir bulan lalu, bahkan sempat menyentuh area terendah di 198.

Penurunan itu sudah lebih dari 50%, meskipun saat ini sudah mulai bernapas lega karena kemarin Rabu ada kenaikan hampir 10% kembali ke posisi 272.

Kasus serupa juga terjadi di saham yang berafiliasi dengan konglo lagi, seperti saham-nya Happy Hapsoro yaitu PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan PT Raharja Energy Cepu Tbk (RATU).

Penurunan dua saham itu juga sangat drastis lebih dari 60%, dari puncak tertinggi ke terendah sepanjang Januari 2026 secara intraday.

Namun, menariknya dua saham itu mengalami fase rebound yang cepat juga. Saham RAJA kemarin terbang lebih dari 20%, RATU menyusul dengan kenaikan kisaran 19%.

Berikut kami rekap beberapa gerak saham konglo yang sudah mulai bangkit pada pekan ini setelah IHSG berhasil hijau tiga hari beruntun:

Dari data di atas memang tak semuanya kemarin bergerak naik signifikan, tetapi sudah ada yang naik dalam beberapa hari dan mencetak penguatan mingguan double digit.

Pasar Butuh Alasan Lebih Konkret

Saat ini, narasi atau ekspektasi semata tidak lagi cukup menjadi dasar untuk mempertahankan suatu saham dalam jangka panjang, terlebih jika hanya berpatokan pada potensi masuk kembali ke indeks seperti MSCI.

Dinamika pasar semakin rasional, dan investor cenderung menuntut dasar fundamental yang lebih kuat serta proyeksi yang terukur.

Diperlukan alasan yang lebih matang dan terstruktur, seperti valuasi yang dapat dipertanggungjawabkan serta masuk akal dibandingkan dengan potensi pertumbuhan laba ke depan.

Investor juga perlu mencermati apakah agenda ekspansi, penambahan kapasitas, atau aksi korporasi yang direncanakan benar-benar berpotensi meningkatkan pendapatan dan profitabilitas secara berkelanjutan, bukan sekadar memperbesar aset tanpa menghasilkan return yang optimal.

Selain itu, penting untuk menilai kualitas arus kas, struktur permodalan, kemampuan menjaga margin, serta konsistensi manajemen dalam mengeksekusi strategi.

Dalam kondisi likuiditas global yang fluktuatif, saham dengan fundamental kuat dan valuasi wajar cenderung lebih mampu bertahan dibandingkan saham yang hanya mengandalkan sentimen.

Dengan kata lain, keputusan hold dalam jangka panjang sebaiknya didasarkan pada kombinasi antara valuasi yang atraktif, visibilitas pertumbuhan laba yang realistis, serta katalis bisnis yang konkret.

Tanpa itu, potensi kenaikan harga hanya akan bersifat sementara dan rentan terkoreksi kembali ketika sentimen berubah.

Lantas, siapa yang layak dipertahankan?

Memilah saham apa saja yang masih layak dipertahankan di portofolio menjadi pekerjaan rumah bagi siapapun yang nyangkut karena susah keluar sejak MSCI Crash akhir bulan lalu.

Momen teknikal rebound yang terjadi seperti saat ini bisa jadi peluang untuk mulai keluar bertahap untuk amankan modal dulu, sembari kita memilah saham yang masih bisa dipertahankan karena ada story yang masih running, mungkin bisa dari potensi aksi korporasi ke depan, atau memang secara fundamental masih solid dan valuasi wajar.

Secara khusus untuk saham konglo, ada beberapa yang kami nilai masih menarik karena punya value fundamental make sense dengan valuasi, dan agenda bisnis potensial mendorong laba jangka panjang.

Setidaknya ada lima pilihan saham yang menurut kami menarik yaitu, BUMI, ADRO, ADMR, EMAS, RAJA.

BUMI

Saham BUMI meskipun sudah turun tajam, saat ini sudah mulai ada penguatan dan secara teknikal membentuk higher low baru. Artinya, area bottom kemungkinan besar sudah terlewati.

PR besar untuk yang masih nyangkut kalau beli di atas adalah harus memberikan ruang untuk average down atau ketika ada kenaikan seperti sekarang ini bisa kurangi porsi untuk amankan modal dulu dan beli lagi di bawah nanti supaya average harga tidak jauh mencapai BEP lagi.

Kami menilai saham BUMI menarik untuk dipertahankan karena saham ini tidak hanya memiliki narasi bisa masuk MSCI saja.

Edisi Februari mungkin gagal masuk secara teknis, tetapi untuk bulan Mei bisa saja BUMI masuk, apalagi saat ini memang sudah di small caps indeks. Dengan free float BUMI yang besar dan transparansi yang jelas, di mana UBO secara terang-terangan berakhir pada Bakrie dan Salim, seharusnya ini bisa menguatkan kepercayaan investor lagi pelan-pelan.

Di sisi lain, secara fundamental, BUMI sudah lebih baik dibandingkan 2018 lalu, neraca sudah semakin kuat dengan ekuitas positif. Prospek bisnis ke depan juga sudah bukan coal play murni, melainkan merambah lebih luas ke diversifikasi mineral.

BUMI sudah empat kali menggulirkan obligasi dan masih akan lanjut lagi dengan total Rp5 triliun, dengan dana itu diharapkan akuisisi-akuisisi tambang mineral akan lebih ekspansif lagi untuk meningkatkan kontribusi pendapatan di luar batu bara sampai 50%.

ADMR

Berikutnya ada emiten Boy Thohir, ADMR yang kami nilai menarik dipertahkan karena memiliiki prospek bisnis aluminium yang potensi menjadi game changer dalam jangka panjang.

Hilirisasi dan integrasi smelter aluminium akan mengubah positioning perusahaan dari sekadar penambang menjadi pemain industri bernilai tambah.Saat ini, pemain alumunium juga terbatas, selain ADMR hanya ada Inalum yang membuat JV dengan ANTM.

Adapun, saat ini free float ADMR masih di bawah 15%. Namun kondisi tersebut justru membuka peluang aksi korporasi ke depan, seperti right issue atau penambahan saham publik untuk memenuhi ketentuan free float. Jika dilakukan dengan strategi ekspansi yang jelas, langkah ini bisa menjadi katalis positif.

Meski demikian, dalam jangka pendek investor tetap perlu mencermati pergerakan harga coking coal yang masih dalam tren relatif menurun, karena dapat memengaruhi kinerja interim. Karena perlu diakui juga, bahwa bisnis dalam jangka pendek-menengah,selama kontribusi alumunium belum signifikan, bisnis batu bara untuk industri ini masih jadi saluran pendapatan utama.

ADRO

Berikutnya, ada saham ADRO yang punya afiliasi dengan Boy Thohir dan merupakan induk usaha dari ADMR.

ADRO dikenal sebagai salah satu pemain besar di sektor energi. Transformasi model bisnis dari coal heavy menjadi integrated energy player menjadi tema utama beberapa tahun terakhir.

Memiliki saham ADRO itu seperti bundle membeli saham ADMR dan AADI dengna nilai valuasi lebih murah.

Saat ini ADRO memiliki market cap Rp65 triliun, tertinggal dari market cap ADMR sebesar Rp79 triliun. Padahal, ADRO itu punya 85% saham ADMR, jadi dalam jangka panjang akan menerima manfaat dari bisnis alumunium-nya dan punya 15% saham AADI sebagai safety net pendapatan dari dividen.

EMAS

Saham EMAS yang masih ada afiliasi dengan Boy Thohir juga menarik karena tren harga-nya masih naik, jadi masih bisa keep hold dengan strategi follow the trend.

Selain itu, saham EMAS walaupun baru IPO tahun lalu, ada potensi masuk ke ETF global seperti GDX serta rencana ekspansi atau dual listing di bursa Hong Kong menjadi katalis tambahan yang menarik. Dua hal ini bisa mendorong minat asing berinvestasi di saham EMAS.

Prospek saham EMAS bergantung pada pergerakan harga logam mulia secara global. Beberapa waktu lalu memang sempat ada koreksi, tetapi selama ketidakpastian di dunia masih meningkat, seperti huru-hara geopolitik, yield obligasi meningkat, dan bank sentral masih memburu emas, maka permintaan emas juga masih akan naik tentunya.

RAJA

Terakhir, ada saham RAJA yang punya afiliasi dengan Happy Hapsoro masih kami nilai menarik meskipun sudah turun signifikan harga saham-nya.

Kami melihat katalis IPO anak usaha RAJA di tahun ini bisa meramaikan bursa lagi, meskipun di awal tahun ini masih tertahan dari reformasi transparansi pasar modal yang masih terus dipantau.

Namun, jika nanti tekanan terhadap isu transparansi sudah reda, pasar akan kembali memantau saham-saham yang mau IPO lagi.

Manajemen RAJA disebut tengah mengkaji kemungkinan membawa unit bisnis midstream atau distribusi gas ke pasar modal.

Opsi ini, jika direalisasikan, dapat kembali membuka potensi re-rating valuasi melalui pemisahan lini bisnis yang lebih fokus dan transparan.

Artinya, RAJA tidak hanya bertumpu pada satu entitas publik, tetapi berpotensi memiliki beberapa kendaraan bisnis yang masing-masing memiliki valuasi sendiri.

Di sisi lain, RAJA juga menjalankan program buyback saham dengan alokasi dana maksimal sekitar Rp250 miliar yang bersumber dari kas internal perusahaan. Aksi ini dilakukan dalam periode awal tahun dan menjadi sinyal bahwa manajemen menilai harga saham saat ini berada di bawah nilai wajarnya. Buyback dalam jangka pendek setidaknya menjadi peredam penurunan harga.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |