10 Peluang Usaha di Desa 2026 yang Potensial dan Menguntungkan

1 hour ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Desa memiliki peran penting dalam menopang perekonomian nasional dan kini menjadi fokus utama pembangunan, terutama dalam sektor ekonomi.

Perkembangan infrastruktur, program dukungan UMKM, serta kembalinya tenaga muda dan sarjana ke desa membuka peluang besar untuk mengembangkan usaha lokal.

Dengan sumber daya alam yang melimpah, biaya operasional yang rendah, dan kebutuhan masyarakat yang terus ada, peluang usaha di desa tidak hanya menjanjikan tetapi juga berkelanjutan.

Mengapa Usaha di Desa Menjanjikan di Tahun 2026?

Beberapa faktor yang membuat usaha di desa semakin prospektif:

  • Biaya sewa tempat relatif murah atau bahkan gratis (menggunakan rumah sendiri)

  • Kebutuhan masyarakat bersifat rutin dan stabil

  • Persaingan bisnis lebih sedikit dibandingkan kota

  • Akses internet semakin luas hingga ke desa

  • Program dukungan UMKM dari pemerintah dan lembaga keuangan

Dengan memilih usaha yang sesuai kebutuhan warga, peluang untuk cepat mendapatkan pelanggan akan lebih besar.

1. Ternak Ayam Kampung

Ternak ayam kampung menjadi salah satu usaha di desa yang cukup menjanjikan karena permintaannya stabil dan harga jualnya lebih tinggi dibanding ayam broiler. Ayam kampung banyak dicari untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga, warung makan, hingga acara hajatan karena rasanya dianggap lebih gurih dan alami.

Selain itu, usaha ini relatif fleksibel karena bisa dimulai dari skala kecil di halaman rumah tanpa memerlukan lahan luas.

Estimasi Modal Awal

  • Bibit ayam kampung (DOC) 50 ekor: Rp400.000 - Rp600.000

  • Pakan awal: Rp500.000 - Rp800.000

  • Kandang sederhana: Rp300.000 - Rp600.000

  • Vitamin dan obat dasar: Rp100.000

Total modal awal: sekitar Rp1-2 juta

Masa Panen

Ayam kampung biasanya siap jual dalam waktu 3-4 bulan, tergantung perawatan dan kualitas pakan.

Potensi Keuntungan

Jika tingkat kematian rendah dan perawatan optimal:

  • Harga jual ayam kampung: Rp45.000 - Rp70.000 per ekor (tergantung daerah dan ukuran)

  • Jika 45 ekor berhasil dipanen dari 50 ekor awal, potensi omzet bisa mencapai Rp2-3 juta per siklus.

Dengan manajemen yang baik, usaha ini bisa memberikan keuntungan bersih sekitar Rp500.000 - Rp1 juta per periode panen.

Cara Memulai Ternak Ayam Kampung untuk Pemula

  1. Mulai dari skala kecil, Idealnya 30-50 ekor terlebih dahulu untuk mengurangi risiko kerugian.

  2. Gunakan kandang sederhana tapi bersih, Pastikan sirkulasi udara baik dan kandang tidak lembap untuk mencegah penyakit.

  3. Berikan pakan berkualitas dan teratur, Kombinasi pakan pabrikan dan pakan tambahan seperti dedak atau jagung bisa menekan biaya.

  4. Lakukan vaksinasi dan pemberian vitamin, Ini penting untuk menurunkan tingkat kematian ayam.

  5. Pisahkan ayam sakit sejak awal, Agar tidak menular ke ayam lain.

Target Pasar yang Potensial

  • Tetangga dan warga sekitar

  • Pedagang pasar tradisional

  • Warung makan atau penjual ayam kampung

  • Penjualan saat musim hajatan atau hari besar

Jika produksi sudah stabil, Anda juga bisa menjual dalam bentuk ayam hidup maupun ayam potong untuk meningkatkan nilai jual.

Tips Agar Cepat Balik Modal

  • Gunakan sistem pemeliharaan bertahap (batch) agar panen bisa rutin setiap bulan

  • Manfaatkan limbah dapur atau pakan alternatif untuk menekan biaya

  • Bangun jaringan dengan pedagang pasar agar penjualan lebih pasti

  • Catat biaya pakan dan kematian ayam untuk evaluasi setiap siklus

Risiko yang Perlu Diperhatikan

  • Penyakit seperti tetelo atau flu ayam

  • Tingkat kematian jika kandang tidak bersih

  • Harga pakan yang naik

  • Cuaca ekstrem yang memengaruhi daya tahan ayam

Dengan manajemen yang baik, risiko tersebut bisa diminimalkan dan usaha ternak ayam kampung dapat menjadi sumber penghasilan jangka panjang.

2. Usaha Penggilingan atau Jasa Serut Kelapa

Di lingkungan desa, kebutuhan akan jasa sederhana namun praktis masih sangat tinggi. Salah satu peluang usaha yang sering dianggap sepele tetapi memiliki pasar stabil adalah jasa penggilingan atau serut kelapa. Layanan ini banyak dibutuhkan oleh masyarakat untuk keperluan memasak sehari-hari, usaha kuliner rumahan, hingga acara hajatan.

Tidak semua rumah memiliki alat parut atau mesin kelapa, terutama untuk jumlah besar. Karena itu, keberadaan jasa serut kelapa di desa bisa menjadi solusi praktis bagi warga sekaligus peluang usaha dengan modal kecil dan risiko rendah.

Estimasi Modal Awal

  • Mesin parut/serut kelapa listrik: Rp800.000 - Rp1.500.000

  • Meja kerja dan wadah: Rp200.000 - Rp300.000

  • Instalasi listrik tambahan (jika diperlukan): Rp100.000 - Rp200.000

Total modal awal: sekitar Rp1-2 juta

Biaya operasional relatif rendah karena hanya membutuhkan listrik dan perawatan mesin secara berkala.

Potensi Keuntungan

  • Tarif jasa: Rp500 - Rp2.000 per butir kelapa (tergantung daerah)

  • Jika melayani 50-100 butir per hari, potensi pendapatan harian bisa mencapai:
    Rp25.000 - Rp200.000

Saat musim hajatan, bulan Ramadan, atau hari besar keagamaan, jumlah pelanggan biasanya meningkat signifikan sehingga pendapatan bisa lebih tinggi.

Mengapa Usaha Ini Menjanjikan di Desa?

  1. Kebutuhan rutin masyarakat: Kelapa sering digunakan untuk santan, bumbu masakan, kue tradisional, dan berbagai olahan makanan.

  2. Persaingan relatif rendah: Tidak semua desa memiliki layanan serupa, terutama yang menggunakan mesin listrik.

  3. Bisa dijalankan dari rumah: Tidak perlu menyewa tempat usaha, sehingga biaya operasional lebih hemat.

  4. Cocok sebagai usaha sampingan: Waktu operasional fleksibel dan bisa disesuaikan dengan aktivitas utama.

Cara Memulai Usaha Serut Kelapa

  1. Pilih lokasi yang mudah dijangkau: Misalnya di pinggir jalan desa atau area yang sering dilalui warga.

  2. Gunakan mesin berkualitas: Mesin yang kuat dan stabil akan mempercepat pekerjaan serta mengurangi risiko kerusakan.

  3. Tetapkan tarif yang kompetitif: Sesuaikan dengan harga pasar di wilayah sekitar agar mudah mendapatkan pelanggan.

  4. Jaga kebersihan alat dan area kerja: Karena berkaitan dengan bahan makanan, kebersihan menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan pelanggan.

  5. Sediakan layanan tambahan. Misalnya:

  • Memarut dalam jumlah besar untuk hajatan

  • Jasa antar untuk pelanggan tetap

  • Menjual kelapa utuh sebagai tambahan penghasilan

Target Pasar Potensial

  • Ibu rumah tangga

  • Penjual kue dan jajanan tradisional

  • Warung makan atau usaha kuliner

  • Kebutuhan acara seperti hajatan, pengajian, atau syukuran

Jika dikelola dengan baik, pelanggan tetap bisa terbentuk dari lingkungan sekitar.

Tips Agar Usaha Parut Kelapa Lebih Menguntungkan

  • Tambahkan layanan peras santan untuk nilai jual lebih tinggi

  • Buka layanan di pagi hari saat kebutuhan memasak meningkat

  • Promosikan melalui grup WhatsApp warga atau komunitas RT/RW

  • Lakukan perawatan mesin secara rutin agar tidak cepat rusak

Risiko Usaha Parut Kelapa yang Perlu Diperhatikan

  • Mesin rusak karena penggunaan berlebihan tanpa perawatan

  • Tegangan listrik tidak stabil

  • Penurunan pelanggan jika lokasi kurang strategis

  • Persaingan jika ada usaha serupa di dekat lokasi

Namun, dibandingkan usaha lain, risiko bisnis ini tergolong rendah dan mudah dikelola.

Potensi Pengembangan Usaha

Jika usaha sudah berjalan stabil, Anda bisa mengembangkan layanan menjadi:

  • Penjualan santan siap pakai

  • Produksi kelapa parut kemasan

  • Jualan kelapa kupas

  • Menyediakan jasa parut bahan lain seperti singkong atau jagung

Dengan inovasi sederhana, usaha kecil ini bisa berkembang menjadi sumber penghasilan utama.

3. Usaha Ternak Lele atau Nila

Budidaya ikan air tawar seperti lele atau nila merupakan salah satu usaha yang paling cocok dijalankan di desa, terutama bagi pemula. Selain teknik pemeliharaannya relatif mudah dipelajari, usaha ini juga tidak membutuhkan lahan luas dan dapat dimulai dengan modal kecil menggunakan kolam terpal.

Permintaan ikan konsumsi di Indonesia terus meningkat setiap tahun, baik untuk kebutuhan rumah tangga, warung makan, pedagang pecel lele, hingga pasar tradisional. Karena itu, usaha ternak lele atau nila memiliki peluang pasar yang stabil dan berkelanjutan.

Estimasi Modal Awal

Untuk skala pemula (1 kolam terpal ukuran 2 x 3 meter):

  • Kolam terpal dan rangka: Rp400.000 - Rp700.000

  • Bibit ikan (1.000 ekor): Rp200.000 - Rp300.000

  • Pakan awal: Rp500.000 - Rp800.000

  • Obat dan vitamin: Rp100.000

Total modal awal: sekitar Rp1-2 juta

Biaya ini bisa ditekan jika menggunakan bahan lokal untuk rangka kolam atau membeli bibit langsung dari pembudidaya terdekat.

Masa Panen

  • Lele: 2-3 bulan hingga ukuran konsumsi (7-9 ekor/kg)

  • Nila: 3-4 bulan hingga ukuran konsumsi

Lele umumnya lebih cepat panen dan lebih tahan terhadap perubahan kondisi air, sehingga sering menjadi pilihan utama bagi pemula.

Potensi Keuntungan

Jika tingkat kelangsungan hidup ikan mencapai 80-90%:

  • Panen lele sekitar 80-100 kg per kolam

  • Harga jual rata-rata: Rp18.000 - Rp25.000/kg (tergantung daerah dan musim)

Potensi omzet: Rp1,5 juta - Rp2,5 juta per siklus - Estimasi keuntungan bersih: Rp300.000 - Rp800.000 per kolam per panen

Jika jumlah kolam ditambah secara bertahap, keuntungan bisa meningkat signifikan.

Mengapa Usaha Ini Menjanjikan di Desa?

  1. Permintaan stabil sepanjang tahun: Lele dan nila merupakan lauk harian yang terjangkau bagi masyarakat.

  2. Teknik pemeliharaan sederhana: Tidak membutuhkan teknologi rumit dan bisa dipelajari secara otodidak.

  3. Bisa dijalankan di lahan sempit: Halaman rumah atau lahan kosong kecil sudah cukup untuk beberapa kolam.

  4. Skalanya mudah dikembangkan: Pemula bisa mulai dari satu kolam, lalu menambah kolam setelah panen pertama.

Cara Memulai Ternak Lele untuk Pemula

  1. Siapkan kolam dengan baik: Isi air dan diamkan selama 3-5 hari agar kondisi air stabil.

  2. Pilih bibit berkualitas, Ciri bibit sehat: aktif bergerak, ukuran seragam, dan tidak cacat.

  3. Berikan pakan secara teratur: Umumnya 2-3 kali sehari dengan jumlah sesuai ukuran ikan.

  4. Jaga kualitas air: Ganti sebagian air jika sudah keruh atau berbau.

  5. Pisahkan ikan yang sakit atau mati: Untuk mencegah penularan penyakit.

Target Pasar Potensial

  • Pedagang pecel lele atau warung makan

  • Pasar tradisional

  • Tetangga atau warga sekitar

  • Pengepul ikan

Jika memiliki jaringan langsung ke warung makan, harga jual biasanya lebih stabil.

Tips Agar Cepat Balik Modal

  • Gunakan sistem tebar bertahap agar panen tidak bersamaan

  • Beli pakan dalam jumlah besar untuk mendapatkan harga lebih murah

  • Jalin kerja sama dengan pedagang sebelum panen

  • Catat penggunaan pakan dan pertumbuhan ikan untuk evaluasi

Risiko yang Perlu Diperhatikan

  • Kematian massal akibat kualitas air buruk

  • Harga pakan yang naik

  • Serangan penyakit jika kolam tidak dirawat

  • Harga jual turun saat panen bersamaan dengan banyak peternak

Namun, risiko tersebut bisa diminimalkan dengan manajemen pakan, kebersihan kolam, dan perencanaan waktu panen.

Potensi Pengembangan Usaha

Jika usaha sudah stabil, Anda bisa mengembangkan menjadi:

  • Menambah jumlah kolam

  • Menjual bibit lele atau nila

  • Membuka usaha pecel lele sendiri

  • Menjual ikan segar langsung ke konsumen melalui WhatsApp atau media sosial

Dengan pengelolaan yang konsisten, usaha ternak lele atau nila dapat berkembang menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarga di desa. 

4. Usaha Gorengan atau Jajanan Rumahan

Usaha gorengan merupakan salah satu peluang bisnis paling realistis di desa karena memiliki pasar yang luas dan stabil. Makanan ringan dengan harga terjangkau selalu diminati oleh berbagai kalangan, mulai dari anak sekolah, pekerja, hingga ibu rumah tangga.

Keunggulan usaha ini adalah modal kecil, perputaran cepat, serta risiko kerugian yang relatif rendah. Jika dijalankan di lokasi yang tepat dan dengan rasa yang konsisten, usaha gorengan bisa menjadi sumber penghasilan harian yang cukup menjanjikan.

Estimasi Modal Harian

Untuk skala kecil:

  • Bahan baku (tepung, minyak, bumbu): Rp120.000 - Rp180.000

  • Bahan isi (tempe, tahu, pisang, sayur): Rp80.000 - Rp120.000

  • Gas dan kemasan: Rp20.000 - Rp30.000

Total modal harian: Rp200.000 - Rp300.000

Jika habis terjual, potensi omzet bisa mencapai Rp300.000 - Rp450.000 per hari, dengan keuntungan bersih sekitar Rp50.000 - Rp150.000 per hari.

Jenis Gorengan yang Paling Laku di Desa

Agar usaha lebih cepat berkembang, penting memilih jenis gorengan yang sesuai dengan selera masyarakat sekitar. Berikut beberapa gorengan yang paling diminati:

1. Tempe Goreng Tepung

Harga murah dan disukai semua kalangan. Cocok dijual Rp1.000 - Rp2.000 per potong.

2. Tahu Isi

Tahu diisi sayuran seperti kol dan wortel, kemudian digoreng dengan tepung. Banyak diminati sebagai camilan sore.

3. Bakwan (Bala-bala)

Campuran sayuran seperti kol, wortel, dan daun bawang. Salah satu gorengan paling populer dan selalu laku.

4. Pisang Goreng

Bisa menggunakan pisang kepok atau pisang uli. Variasi seperti pisang goreng krispi atau pisang cokelat dapat meningkatkan nilai jual.

5. Cireng atau Cilor

Cocok untuk target anak-anak dan remaja, terutama jika lokasi dekat sekolah.

6. Singkong atau Ubi Goreng

Bahan murah dengan margin keuntungan yang cukup baik.

7. Risoles atau Pastel Sederhana

Bisa dijual dengan harga sedikit lebih tinggi, cocok untuk menambah variasi produk.

Strategi Kombinasi Produk yang Menguntungkan

Untuk meningkatkan penjualan, idealnya menyediakan 4-6 jenis gorengan sekaligus, misalnya:

  • Bakwan

  • Tahu isi

  • Tempe goreng

  • Pisang goreng

  • Cireng

Variasi produk membuat pelanggan tidak bosan dan meningkatkan peluang pembelian dalam jumlah lebih banyak.

Lokasi Jualan yang Paling Potensial

  • Dekat sekolah

  • Pinggir jalan desa yang ramai

  • Area pasar

  • Dekat kantor desa atau pabrik kecil

  • Depan rumah jika berada di jalur lalu lintas warga

Waktu terbaik berjualan biasanya:

  • Pagi (06.00-09.00)

  • Sore (15.00-18.00)

Cara Memulai Usaha Gorengan untuk Pemula

  1. Gunakan resep yang konsisten: Rasa yang enak dan stabil adalah kunci pelanggan kembali.

  2. Gunakan minyak bersih: Minyak yang terlalu hitam akan menurunkan kualitas dan kepercayaan pembeli.

  3. Buat dalam jumlah bertahap: Goreng sedikit demi sedikit agar selalu hangat dan tidak terbuang.

  4. Gunakan kemasan sederhana: Kertas minyak atau kertas nasi sudah cukup untuk usaha awal.

Tips Agar Usaha Gorengan Cepat Balik Modal

  • Jual dengan harga terjangkau (Rp1.000 - Rp2.000 per item)

  • Tawarkan paket hemat (misalnya 5 gorengan Rp5.000)

  • Promosikan melalui grup WhatsApp warga

  • Terima pesanan untuk acara kecil seperti rapat atau arisan

  • Tambahkan sambal atau cabai rawit sebagai nilai tambah

Jika penjualan stabil, modal awal peralatan seperti kompor dan wajan biasanya bisa kembali dalam waktu 1-2 bulan.

Risiko yang Perlu Diperhatikan

  • Gorengan tidak habis terjual (basi)

  • Harga minyak goreng naik

  • Kualitas rasa tidak konsisten

  • Lokasi kurang strategis

Untuk mengurangi risiko, perhatikan pola penjualan harian dan sesuaikan jumlah produksi.

Potensi Pengembangan Usaha

Jika usaha sudah berjalan lancar, Anda bisa mengembangkan dengan cara:

  • Menambah menu seperti martabak mini atau sosis goreng

  • Menjual minuman (teh manis, es jeruk, kopi)

  • Membuka sistem titip jual di warung sekitar

  • Membuat brand sederhana untuk dikenal warga

Dengan manajemen yang baik, usaha gorengan yang awalnya kecil bisa berkembang menjadi sumber penghasilan tetap di desa.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |