Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali membuka peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi setelah Presiden Donald Trump menyatakan kedua negara sedang menjalani "pembicaraan yang baik". Namun, di saat yang sama, ketegangan di Timur Tengah belum mereda setelah serangan drone menghantam target energi di Arab Saudi.
"Kami sedang melakukan pembicaraan yang baik. Saya rasa ada peluang besar sesuatu bisa terjadi, dan jika itu terjadi, bagus. Jika tidak, kami akan kembali melakukan apa yang kami lakukan dua hari yang lalu," kata Trump, seperti dikutip Reuters, Selasa (28/7/2026).
Dalam kampanye di Michigan, ia kembali menegaskan pendekatan keras terhadap Iran, namun menyebut negosiasi yang berlangsung saat ini sebagai proses yang "sangat bersahabat."
Dari pihak Iran, juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei menegaskan Teheran tetap membuka jalur diplomasi melalui negara-negara mediator, tetapi membantah laporan yang menyebut Iran meminta dimulainya kembali perundingan.
"Hal itu tidak ada dalam DNA kami," ujarnya. Seorang pejabat senior Iran juga mengatakan negaranya akan menghentikan serangan selama gencatan senjata yang diumumkan Trump tetap diberlakukan.
Meski sinyal diplomasi mulai menguat, situasi keamanan di kawasan belum mereda. Arab Saudi mengaku berhasil mencegat sejumlah drone yang menargetkan instalasi perminyakan, termasuk di Riyadh. Riyadh menuduh pesawat nirawak tersebut diluncurkan dari Irak oleh kelompok bersenjata yang didukung Iran dan menegaskan berhak memberikan respons.
Di saat bersamaan, kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menyerang jaringan Pipa Timur-Barat yang menghubungkan ladang minyak di wilayah timur Arab Saudi dengan pelabuhan ekspor Yanbu di Laut Merah sebagai balasan atas serangan drone Saudi ke wilayah Yaman.
Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan serangan itu merupakan respons atas apa yang disebutnya sebagai pelanggaran wilayah udara Yaman oleh drone Saudi. Ancaman terhadap jalur ekspor minyak tersebut menjadi perhatian pasar karena Arab Saudi selama ini mengandalkan pipa Timur-Barat untuk menghindari risiko gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz yang terus menjadi titik panas konflik.
Sementara itu, Iran menegaskan tetap mengendalikan lalu lintas di Selat Hormuz. Media pemerintah Iran melaporkan enam kapal yang disebut sebagai "kapal pelanggar" diperintahkan berbalik karena mencoba melintasi selat tersebut tanpa izin. Teheran juga menuduh militer AS berupaya menerapkan blokade maritim ilegal dengan mengancam kapal dan tanker minyak di kawasan, yang disebut sebagai bentuk eskalasi baru konflik.
Di Washington, penghentian sementara operasi pengeboman disebut dilakukan setelah militer menilai efektivitas serangan telah mencapai batas maksimal. Seorang pejabat AS mengatakan para komandan melaporkan sebagian besar target utama telah dihancurkan, sementara Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengingatkan soal menipisnya stok amunisi udara. Trump membantah adanya kekurangan persenjataan dan menyatakan militer AS sedang mempercepat pemulihan stok serta menyiapkan persenjataan yang lebih canggih.
Meredanya operasi militer AS dan munculnya harapan terhadap perundingan langsung memicu penurunan tajam harga minyak dunia. Minyak mentah AS ditutup di level US$81,98 per barel, turun 8,21%. Sementara minyak Brent melemah 9,31% menjadi US$87,77 per barel.
Di sisi politik domestik, konflik berkepanjangan mulai menjadi tantangan bagi Trump menjelang pemilu sela November. Survei Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap Trump naik tipis menjadi 37%, tetapi hanya sekitar sepertiga warga Amerika yang mendukung perang melawan Iran.
Mayoritas responden menilai pemerintah belum mampu menjelaskan tujuan konflik secara meyakinkan, sehingga keberhasilan jalur diplomasi akan menjadi faktor penting dalam perkembangan perang Timur Tengah ke depan.
(tfa/tfa)
Addsource on Google

4 hours ago
1

















































