Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyusun langkah pengembangan bahan bakar minyak (BBM) campuran bioetanol 50% atau E50. Hal tersebut menyusul kesuksesan program biodiesel B50 yang telah berjalan.
Bahlil mengatakan pemerintah diminta mempelajari keberhasilan B50 dan menerapkan pendekatan serupa dalam penyusunan program E50. Arahan itu disampaikan Prabowo dalam Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional (DEN) di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
"Kami juga telah memutuskan bahwa untuk jangka panjang kita mempelajari tentang kesuksesan daripada B50. Berangkat belajar dari ini, Bapak Presiden tadi memerintahkan untuk segera menyusun langkah-langkah yang sama untuk kita membangun E50," ujar Bahlil usai sidang DEN dikutip dari akun instagram resmi Kementerian ESDM, Senin (21/9/2026).
Menurut Bahlil, pengembangan E50 menjadi salah satu langkah untuk mendorong ketersediaan BBM dari dalam negeri. Hal ini sejalan dengan tingginya konsumsi BBM nasional.
Ia mencatat konsumsi solar nasional mencapai sekitar 39 juta kiloliter (KL) per tahun, sedangkan konsumsi bensin berada di kisaran 39 juta hingga 40 juta KL per tahun.
"Kita tahu konsumsi BBM kita untuk solar kita per tahun 39 juta kl dan bensin sama hampir 39-40 juta ini sebagai bentuk daripada mendorong ketersediaan bbm dalam negeri," kata Bahlil.
Berdasarkan bahan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pemerintah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengantisipasi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional yang terus meningkat. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat ketersediaan BBM dari dalam negeri sekaligus mendorong peningkatan produksi minyak nasional.
Konsumsi BBM nasional saat ini berada pada level yang tinggi. Konsumsi solar tercatat sekitar 39 juta kiloliter (KL) per tahun, sementara konsumsi bensin mencapai sekitar 39-40 juta KL per tahun. Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk meningkatkan kapasitas produksi minyak dalam negeri melalui sejumlah langkah strategis.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah mendorong eksplorasi migas baru, khususnya pada cekungan dan blok-blok minyak yang masih memiliki potensi. Eksplorasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan potensi produksi minyak nasional.
Selain eksplorasi baru, pemerintah juga akan mengoptimalkan sekitar 45.000 sumur tua melalui intervensi teknologi. Pengelolaan sumur-sumur tersebut akan diperkuat secara profesional agar produksi dapat dioptimalkan sekaligus mencegah terjadinya pelanggaran maupun penjualan minyak secara ilegal di lokasi produksi.
Di sisi hilir, pemerintah juga menyiapkan pengembangan E50 dengan mempelajari keberhasilan program B50. Pengembangan E50 diarahkan untuk memperkuat ketahanan pasokan BBM sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber energi domestik.
Strategi pemerintah juga mencakup penguatan kelembagaan sektor migas. Salah satunya melalui rencana pembentukan Badan Usaha Khusus (BUK) Migas yang akan diatur melalui revisi Undang-Undang Migas. Dalam konsep yang disampaikan pemerintah, BUK Migas nantinya berada di bawah Presiden dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.
(ven/ven)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
2
















































