Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
18 September 2026 20:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan harga bensin di Amerika Serikat (AS) mulai menjadi masalah politik bagi Presiden AS Donald Trump. Beban yang dirasakan langsung oleh masyarakat di pom bensin ikut menekan dukungan terhadap partai Republik menjelang pemilu sela (midterm election) 2026.
Pemilu sela akan menentukan siapa yang menguasai Kongres AS, yang terdiri dari DPR (House of Representatives) dan Senat. Jika partai Demokrat berhasil merebut keduanya, maka pemerintahan Trump akan menghadapi Perlawanan yang lebih kuat dalam menjalankan segala kebijakannya hingga akhir masa jabatan Trump.
Seperti melansir model pemilu milik The Economist, menunjukkan peluang Demokrat merebut DPR telah mencapai 93%, naik dari 77% pada pertengahan Juli 2026. Demokrat di perkirakan memperoleh 238 kursi, sedangkan Republik mendapatkan 197 kursi.
Peluang Demokrat untuk menguasai Senat juga mengalami peningkatan tajam. Dalam dua bulan terakhir, angkanya naik dari 45% menjadi 59%.
Perubahan terjadi ketika persaingan mulai memasuki masa kampanye yang lebih serius. Di AS, kampanye pemilu biasanya semakin ramai setelah peringatan Hari Buruh pada awal September.
Para pendukung Trump sejatinya telah menyiapkan belanja untuk kebutuhan iklan sebesar US$138 juta atau setara Rp (asumsi kurs Rp17.700/US$) untuk berbagai daerah yang memiliki persaingan ketat.
Namun, masuknya dana kampanye dalam jumlah besar belum mampu mengubah hasil survei yang terus bergerak ke Demokrat.
Peluang Demokrat dan Republik Menguasai DPR serta Senat AS Foto: The Economist
Harga Bensin Mengubah Arah Pemilih
Kenaikan dukungan terhadap partai Demokrat terlihat dalam survei yang menanyakan partai mana yang akan dipilih warga AS dalam pemilu kongres.
Survei Big Data Poll, Marquette Law School, serta survei The Economist bersama YouGov menunjukkan Demokrat unggul 12 hingga 13 poin persentase atas Republik. Survei The New York Times dan Siena University juga mencatat keunggulan Demokrat sebesar 8,5 poin.
Sebagian kenaikan itu terjadi karena lembaga survei mulai lebih fokus kepada responden yang kemungkinan besar benar-benar datang untuk memilih. Saat ini, pendukung Demokrat terlihat lebih bersemangat mengikuti pemilu dibandingkan pendukung Republik.
Meski perbedaan metode survei sudah diperhitungkan, rata-rata keunggulan Demokrat tetap meningkat. Model The Economist mencatat selisih dukungan naik dari 6,1 poin pada 9 September menjadi 7,4 poin pada 17 September 2026.
Partai yang tidak menguasai pemerintahan memang biasanya mendapat tambahan dukungan dalam pemilu sela. Namun, kenaikan Demokrat kali ini mempunyai penyebab yang lebih langsung, yakni harga bensin.
Pergerakan harga bensin dan dukungan terhadap Demokrat terlihat berjalan hampir bersamaan, dengan jeda sekitar dua pekan. Ketika harga bensin naik, keunggulan Demokrat dalam survei ikut meningkat sekitar dua minggu kemudian.
Hubungan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat mulai mengaitkan biaya mengisi bahan bakar dengan kebijakan pemerintahan Trump. Perang yang dijalankan Trump di Iran ikut mendorong kekhawatiran terhadap pasokan energi dan membuat harga bensin menjadi isu utama menjelang pemilu.
Berdasarkan hubungan antara harga bensin dan hasil survei sepanjang 2026, keunggulan Demokrat diperkirakan dapat meningkat menjadi 7,7 poin pada 1 Oktober.
Politikus Republik sebenarnya menyadari masalah tersebut. Sejumlah anggota Kongres dari partai itu sempat mendorong penghentian sementara pajak federal atas bensin hingga 2027. Namun, usulan tersebut tidak berhasil.
Hubungan Harga Bensin dan Keunggulan Demokrat dalam Survei Foto: The Economist
Perebutan Senat Lebih Sulit
Meski peluang demokrat semakin besar untuk menang, merebut Senat tetap jauh lebih sulit dibandingkan menguasai DPR.
Demokrat harus mempertahankan seluruh kursi yang saat ini mereka miliki.
Setelah itu, mereka masih perlu merebut empat kursi milik Republik untuk bisa mendapatkan suara mayoritas.
Setidaknya dua kursi yang harus direbut berada di negara bagian yang dimenangkan Trump dengan selisih dua digit pada pemilu presiden 2024 silam.
Ini membuat jalan kemenangan Demokrat akan cukup sulit.
Namun demikian, sejumlah persaingan mulai bergerak di luar perkiraan. Model The Economist memberikan peluang kemenangan sebesar 60% bagi Demokrat di Alaska dan 61% di Texas. Di Ohio, peluangnya bahkan mencapai 70%.
Texas selama ini dikenal sebagai salah satu target besar yang cukup sulit untuk direbut oleh Demokrat. Negara bagian itu telah lama menjadi basis partai Republik, namun persaingannya pada 2026 cukup ketat.
Rata-rata survei menunjukkan Demokrat memperoleh 51,6% dukungan di Texas. Demokrat juga unggul tipis di Alaska dengan 51,4% dan Ohio dengan 51,8%.
Maine dan Michigan tetap menjadi negara bagian yang cukup penting yang harus dipertahankan.
Rata-rata dukungan Demokrat di Maine mencapai 51,5%, sedangkan Michigan berada di 51,3%.
Persaingan yang jauh lebih ketat terlihat di Iowa. Dukungan Demokrat masih berada di 49,8%, sedikit di bawah batas 50%.
Demokrat juga mempunyai peluang di kawasan Great Plains. Model tersebut memberikan peluang kemenangan sebesar 35% di Iowa dan 30% di Kansas.
Di Nebraska, peluang kandidat independen mengalahkan petahana Republik mencapai 19%. Tidak ada kandidat Demokrat dalam persaingan tersebut.
Iowa, Kansas, dan Nebraska memiliki karakter pemilih yang cukup mirip. Perubahan besar di satu negara bagian dapat menjadi petunjuk adanya pergeseran yang sama di negara bagian tetangganya.
Jika Demokrat berhasil mencuri beberapa kursi di kawasan ini, mereka masih dapat menguasai Senat meski kalah di Maine atau Michigan.
Persaingan Demokrat dalam Perebutan Kursi Senat AS Foto: The Economist
Demokrat Belum Bisa Tenang
Angka survei yang kuat belum bisa menjamin kemenangan bagi Partai Demokrat. Pengalaman beberapa pemilu terakhir memperlihatkan dukungan terhadap partai itu sering kali terlihat lebih tinggi dalam survei dibandingkan hasil akhirnya.
Pada pemilu 2020,2022, dan 2024, survei Senat yang dilakukan pada tahap kampanye seperti sekarang, rata-rata melebihkan perolehan suara Demokrat sekitar tiga hingga empat poin.
Kesalahan beberapa poin ternyata bisa mengubah hasil di negara bagian yang memiliki persaingan ketat.
Keunggulan tipis Demokrat di Texas, Alaska, Maine, Michigan, atau Ohio masih bisa hilang ketika suara sebenarnya dihitung.
Pola yang sama juga terlihat dalam pemilu sela pada 2018, ketika Trump menjalani masa jabatan pertamanya. Secara nasional, rata-rata survei Senat saat itu cukup akurat. Namun, hasilnya berbeda ketika dilihat berdasarkan karakter negara bagian.
Survei cenderung meremehkan Demokrat di negara bagian yang memang menjadi basis partai. Sebaliknya, dukungan Demokrat justru selalu tinggi dalam survei di sejumlah negara bagian yang lebih condong kepada Republik.
Jika pola yang sama kembali terjadi pada 2026, Demokrat bisa unggul secara nasional tetapi tetap gagal merebut cukup banyak kursi di negara bagian yang dikuasai Republik. Kondisi tersebut dapat membuat Republik mempertahankan Senat hingga 2029.
[LETAK GRAFIS 4 – Perbandingan Survei dan Hasil Pemilu Senat 2018] Foto: The Economist
Untuk saat ini, jalan Demokrat menuju DPR terlihat semakin terbuka. Perebutan Senat masih lebih sulit, tetapi peluangnya sudah jauh lebih besar dibandingkan beberapa bulan lalu.
Harga bensin menjadi salah satu faktor yang dapat menentukan arah persaingan. Selama masyarakat masih menghadapi biaya bahan bakar yang tinggi, tekanan terhadap Trump dan Partai Republik kemungkinan tetap bertahan.
Namun, hasil pemilu tentunya masih bisa berubah. Harga energi masih bisa naik atau turun, serta kampanye masih terus berjalan, dan hasil survei belum tentu sepenuhnya sesuai dengan pilihan warga AS.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

8 hours ago
3
















































