Jakarta, CNBC Indonesia - Iran mengecam keras gelombang baru sanksi ekonomi Amerika Serikat (AS), menyebut kebijakan Washington sebagai bentuk "terorisme negara". Di saat yang sama, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei melarang tindakan yang dinilai dapat merusak "kohesi sosial" di tengah kekhawatiran tekanan ekonomi yang semakin berat memicu gejolak di dalam negeri.
Perang AS-Iran kini telah memasuki bulan keenam tanpa penyelesaian. Perundingan kedua negara juga masih menemui jalan buntu, sementara pemerintahan Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran melalui kebijakan yang disebut sebagai "Hari D ekonomi".
Sanksi terbaru tersebut makin menambah beban perekonomian Iran yang telah terpukul perang. Inflasi tahunan Iran bahkan mencapai 66% pada bulan lalu.
Di sisi lain, kebuntuan terkait Selat Hormuz masih menjadi salah satu titik konflik paling sensitif. Sebelum perang pecah, jalur pelayaran tersebut menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Washington sebelumnya telah memperingatkan negara-negara agar mengurangi hubungan bisnis dengan Iran atau menghadapi sanksi sekunder. Namun, Departemen Keuangan AS sejauh ini belum benar-benar menjatuhkan hukuman terhadap negara-negara tersebut.
Kementerian Luar Negeri Iran dalam pernyataan pada Jumat (28/8/2026) mengatakan seluruh negara berdasarkan hukum internasional wajib menolak penerapan sanksi AS terhadap Teheran.
Iran bahkan menyebut langkah terbaru Washington sebagai "kejahatan terhadap kemanusiaan" yang dapat membahayakan kesehatan serta kehidupan jutaan warga sipil.
Khamenei Larang Tindakan yang Picu Perpecahan
Di tengah tekanan tersebut, Khamenei meminta para pejabat Iran menjaga persatuan nasional.
Khamenei, yang mengalami luka dan tidak terlihat di hadapan publik sejak serangan pada 28 Februari yang menewaskan ayahnya, menyampaikan pernyataan tertulis pada Jumat.
Dalam pernyataan tersebut, ia mengatakan telah melarang para pejabat "melakukan apa pun yang merusak kohesi sosial".
Khamenei menyampaikan pesan tersebut kepada jajaran kepemimpinan yang mencakup unsur ulama, militer, dan pemerintahan sipil. Ia juga meminta para pejabat menghindari pernyataan yang dapat memperburuk kondisi psikologis masyarakat.
Ia secara khusus memperingatkan agar tidak ada "pernyataan yang mengecilkan hati yang melemahkan motivasi nasional dan publik".
Seruan tersebut muncul di tengah kekhawatiran bahwa tekanan finansial yang semakin besar terhadap ekonomi Iran yang telah babak belur akibat perang dapat memicu demonstrasi di jalanan.
Khamenei juga meminta pemerintah mengambil langkah konkret untuk mengatasi kesulitan ekonomi yang semakin parah akibat perang.
"Perlu ada upaya serius untuk mengatasi rangkaian tantangan ekonomi dan kehidupan, seperti inflasi, pengangguran, pengelolaan harga dan pasar barang serta jasa," kata Khamenei dalam pernyataannya, dilansir Reuters.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan perdagangan luar negeri negaranya telah menyusut hampir 35% akibat sanksi AS dan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pezeshkian juga mengatakan Iran menjual sekitar 90 juta barel minyak selama masa berlaku singkat nota kesepahaman yang ditandatangani AS dan Iran pada Juni. Pada periode tersebut, Washington mengizinkan penjualan minyak Iran.
AS Sanksi Bank Mesir
Tekanan ekonomi Washington tidak hanya menyasar Iran, tetapi juga mitra dagangnya.
Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap Banque Misr, salah satu bank besar Mesir, karena melakukan bisnis dengan Teheran. Washington juga mengusulkan aturan yang dapat menghentikan cabang bank tersebut di Uni Emirat Arab dari transaksi menggunakan dolar AS.
Bank sentral Mesir mengatakan pihaknya bersama Kementerian Luar Negeri telah berkomunikasi dengan pejabat AS mengenai persoalan tersebut.
Mesir menegaskan bahwa tindakan tersebut hanya berlaku terhadap transaksi dolar AS yang dilakukan Banque Misr UAE dengan bank koresponden.
Secara terpisah, pejabat Departemen Keuangan AS juga menjatuhkan sanksi terhadap satu entitas yang berbasis di Hong Kong serta satu individu yang terkait dengan Bank Melli Iran.
Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi Washington untuk memberikan tekanan kepada negara-negara yang menjadi mitra perdagangan Iran.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

4 hours ago
4

















































