Tren Baru Korea Bangkitkan Orang yang Sudah Meninggal, Bayar Rp 7 Juta

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Korea Selatan sedang menggandrungi tren menghidupkan orang yang sudah meninggal. Bukan dalam pengertian sebenarnya, namun dihidupkan melalui video berbasis AI dengan harga berkisar Rp 7 jutaan.

Salah satu yang menyediakan layanan ini adalah perusahaan teknologi Vaice berbasis di Seoul. Lee Geon Hui, pelanggannya, meminta video animasi mendiang kakeknya dengan pesan yang dia buat sendiri.

Karakter dalam video itu mengucapkan permintaan maaf pada putranya, ayah Lee Geon Hui, karena membuatnya membantu pekerjaan pertanian saat kecil. Selain itu juga meminta maaf karena menentang keputusan putranya menjadi penata rambut.

"Ayah saya bilang tidak akan menontonnya. Namun dia menontonnya dan menangis. Saya puas. Saya menulis naskahnya...itu yang sebenarnya ingin saya sampaikan kepada ayah saya," kata Lee Geon Hui, dikutip dari The Star, Senin (27/7/2026).

Tren ini memang semakin sering dilakukan seiring dengan banyaknya masyarakat Korea Selatan yang melek digital dengan kemampuan AI. Vaice mendapatkan 300 pelanggan per bulan, berusia 40-50 tahun meminta dibuatkan video orang tua hingga kakek-nenek mereka yang telah meninggal.

Untuk membuat satu video, CEO Vaice Jeongu Won menjelaskan perusahaannya butuh sejumlah foto dan sampel suara singkat dari mendiang. Dari sana, Vaice akan membuat gambar yang menyerupai wajah orang dalam video nanti.

Para kliennya akan menulis sendiri naskah yang akan disebutkan karakter dalam video. Kebanyakan video juga berakhir dengan ucapan 'Aku mencintaimu'.

Beberapa video juga berisi permintaan maaf atas konflik yang belum terselesaikan dan harapan agar bisa mengatasinya.

Terkait harga, Vaice membanderolnya US$390 (Rp 7 juta) untuk video berdurasi tiga hingga lima menit.

Video orang terkasih yang sudah meninggal akan diputar saat keluarga berkumpul untuk ritual peringatan kematian orang tersebut atau hari libur besar Korea.

Namun di sisi lain, praktik ini juga menimbulkan kekhawatiran. Sejumlah orang menanyakan soal etis, psikologis dan hukum yang pelik dari 'menghidupkan' orang yang sudah meninggal.

"Ini seperti pedang bermata dua, karena berkaitan dengan emosi manusia. Seiring AI jadi bagian dari kehidupan masyarakat, teknologi ini dapat menghadirkan pengalaman dan kejutan budaya yang belum pernah dialami sebelumya," ucap ahli AI dari Korea Addvanced Institute of Science and Technology, Yong Man Ro.

Profesor emeritus di Fakultas Hukum Universitas Kyung Hee Seoul, Choung Wan mengatakan perlu adanya aturan untuk melindungi martabat dan hak lain dari mereka yang telah meninggal. Aturan itu harus memuat larangan pembuatan video mereka dengan AI jika telah ditolak sebelum berpulang.

Dia juga mengatakan aturan juga perlu menetapkan batasan jelas pada penggunaan komersial gambar dan suara orang.

(dem/dem)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |