Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan berhasil meyakinkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk meluncurkan serangan gabungan ke Iran. Langkah berisiko tinggi tersebut diambil setelah adanya janji manis mengenai skenario kudeta kilat yang diklaim akan meruntuhkan pemerintahan Teheran dalam waktu singkat.
Laporan eksklusif New York Times yang dirilis pada Minggu (22/03/2026) mengungkapkan rencana ini disusun sejak tahap persiapan konflik. Berdasarkan keterangan sumber anonim, Kepala Badan Intelijen Israel Mossad David Barnea mengusulkan agen mata-mata Israel tersebut mampu memicu pemberontakan besar di dalam negeri Iran.
"David Barnea mempresentasikan rencana tersebut kepada Netanyahu serta sejumlah pejabat senior Amerika Serikat pada Januari lalu. Ia menyatakan bahwa Mossad memiliki kemampuan untuk menggulingkan pemerintah Iran hanya dalam hitungan hari setelah serangan dimulai," tutur laporan itu yang juga dikutip Russia Today.
Meskipun pejabat senior di Washington dan Badan Intelijen Militer Israel (AMAN) meragukan kelayakan rencana tersebut, Trump dan Netanyahu justru tetap menunjukkan pandangan yang optimistis. Keduanya menargetkan terjadinya perubahan rezim di Iran dengan cara melenyapkan jajaran kepemimpinan tertinggi di negara tersebut.
Di sisi lain, Badan Intelijen AS atau CIA sebenarnya telah memberikan penilaian yang bertolak belakang terkait rencana ambisius tersebut. CIA menilai keruntuhan total pemerintah Iran adalah hasil yang relatif tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat.
Pejabat AS yang mendapatkan pengarahan mengenai penilaian tersebut memperingatkan dalam skenario yang paling mungkin terjadi, faksi garis keras di Teheran akan tetap mempertahankan kekuasaan mereka. Hal itu menjadi sinyal merah yang sebelumnya sempat diabaikan oleh Gedung Putih.
Sejak Washington dan Yerusalem Barat memulai serangan mereka pada akhir Februari, Trump telah berulang kali menyerukan kepada rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintah mereka sendiri. Seruan itu terus digaungkan di tengah eskalasi militer yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan hasil yang berbeda dari ekspektasi awal Israel. Meskipun sejumlah pejabat tinggi dan komandan Iran telah terbunuh, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, pemerintahan Iran nyatanya tidak runtuh dan masih berdiri tegak hingga saat ini.
Teheran justru terus melakukan pembalasan secara sistematis terhadap aset-aset milik AS dan Israel yang tersebar di Timur Tengah. Kegagalan skenario ini dilaporkan mulai memicu ketegangan internal di pihak sekutu, terutama terkait efektivitas strategi Mossad.
Netanyahu secara pribadi dikabarkan telah menyatakan rasa frustrasinya karena Mossad gagal menindaklanjuti rencana perubahan rezim yang dijanjikan. Selain itu, ia juga merasa khawatir bahwa Trump bisa saja mengakhiri perang ini kapan saja tanpa mencapai tujuan utama mereka.
Iran sendiri sudah sejak lama menuduh badan intelijen luar negeri Israel tersebut ikut campur dalam urusan dalam negeri mereka. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut bahwa operasi Mossad terlibat dalam kerusuhan mematikan yang melanda negaranya pada musim dingin 2025.
Araghchi mengatakan pada Januari lalu bahwa agen-agen tersebut menembaki pengunjuk rasa, warga sipil, dan personel keamanan untuk memicu kekacauan. Menurutnya, mereka sengaja meningkatkan kerusuhan dengan kekerasan demi memberi Washington alasan untuk melakukan intervensi militer.
Menanggapi situasi yang kian tak terkendali, Rusia secara tegas mengutuk serangan AS dan Israel terhadap Republik Islam Iran. Moskow mendesak Washington untuk segera menghentikan konfrontasi fisik dan mencari penyelesaian melalui jalur diplomatik.
(miq/miq)
Addsource on Google

2 hours ago
3
















































