Terbongkar, Modus Turis Asing Bisnis Sewa Vila Ilegal-Menjamur di Bali

15 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan kunjungan wisatawan asing ke Bali belakangan justru memunculkan kegelisahan di kalangan pelaku industri perhotelan. Di balik ramainya turis mancanegara, muncul fenomena menjamurnya vila dan homestay yang diduga beroperasi secara ilegal dan kian diminati wisatawan beranggaran terbatas.

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya mengakui persoalan ini bukan isu baru dan kini semakin terasa dampaknya. Ada indikasi kuat keterlibatan oknum asing dalam kepemilikan maupun pengelolaan akomodasi yang tidak tercatat resmi.

"Iya emang disinyalir ada juga akomodasi seperti vila-vila itu, guesthouse yang dimiliki orang asing, itu oknum-oknum juga ada yang ilegal. Artinya begini, dia dapat menyewa, misalnya nih orang asing nyewa guesthouse kemudian dia sewakan lagi ke tamu-tamunya melalui online," katanya kepada CNBC Indonesia, Jumat (9/1/2025).

"Nah ini kan dia akhirnya tidak membayar pajak ya karena reservasi yang dilakukan pemesanan kamar melalui online kemudian pembayarannya pun melalui rekeningnya masuk ke bank yang ada di luar negeri kan. Jadi gimana kita bisa mengenakan pajak," tambah Rai.

Praktik semacam ini dinilai menciptakan persaingan yang tidak seimbang, terutama bagi hotel dan akomodasi resmi yang taat aturan dan kewajiban pajak. Apalagi persaingan tidak hanya datang dari sesama pelaku di dalam negeri, tetapi juga dari destinasi lain di kawasan regional yang agresif menarik wisatawan.

"Yang jelas persaingan akan lebih ketat di tahun 2026 ini. Jadi tantangannya juga akan lebih keras. Jadi kalau kita tidak mempunyai strategic plan yang jitu ya, ya itu akan kalah dalam berkompetisi baik internal maupun eksternal nanti."

Ia juga menyoroti perubahan perilaku wisatawan jika dibandingkan dengan periode pascapandemi Covid-19. Saat itu, dorongan berlibur sangat tinggi dan diiringi dengan belanja yang relatif besar setelah lama tertahan pembatasan.

"Iya waktu pasca pandemi kan mereka semua orang ingin berwisata ya. Jadi apalagi yang punya-punya duit kan? Sudah dua tahun misalnya di rumah, terkekang begitu kan karena pandemi begitu pasca pandemi banyak yang berwisata dia spending-nya cukup tinggi. Dan sekarang untuk tahun ini kan mereka juga berpikir-pikir ya, pasti juga melirik destinasi lain gitu," kata Rai.

Kondisi saat ini berbeda. Komposisi wisatawan mancanegara yang datang ke Bali tidak lagi didominasi oleh segmen berdaya beli tinggi. Sebagian besar justru berasal dari kelompok menengah ke bawah yang sangat sensitif terhadap harga.

"Nah yang kedua juga adalah wisatawan yang datang ini kebanyakan menengah ke bawah. Sehingga dia menyasar penginapan-penginapan yang sesuai dengan isi kantongnya mereka. Jadi banyak yang nginep di vila-vila, guesthouse, apartemen. Jadi sebagian saja yang nginep di hotel-hotel berbintang," kata Rai.

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |