Tanpa Beli di SPBU, Begini Cara Bikin Solar dari Sampah Plastik

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Sampah plastik bisa diubah menjadi bahan bakar minyak solar setara yang disebut Petasol. Caranya dengan menggunakan teknologi pirolisis multikondensor yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Heru Susanto menjelaskan sampah plastik bernilai rendah seperti kemasan sachet, plastik multilapis, kantong tipis dan residu kotor belum tertangani dengan optimal. Ini dikarenakan nilai ekonominya rendah.

Untuk mengatasi hal tersebut, dikembangkanlah teknologi pirolisis multikondensor. Teknologi ini akan mengolah sampah plastik bernilai rendah serta dalam kondisi kotor dan basah menjadi Petasol.

Proses pengolahan ini dengan pemanasan tanpa oksigen yang akan memecahkan polimer menjadi senyawa hidrokabron.

"Setiap kilogram sampah plastik menghasilkan rata-rata 0,8 liter Petasol, bahkan dapat mencapai 1 liter. Proses berlangsung sekitar delapan jam pada suhu 250-350 derajat Celsius tanpa distilasi ulang, melainkan melalui tahap pemurnian," kata Heru dalam keterangannya dikutip Senin (1/6/2026).

Petasol yang dihasilkan melalui proses karakterisasi dan telah memenuhi standar bahan bakar minyak solar sesuai Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor 146/2020. Dia juga menjelaskan bahan bakar telah diterapkan pada kendaraan diesel, perahu nelayan, dan alat pertanian, selama lebih dari 4 tahun pengunaannya dinilai aman.

Pengguna bahan bakar Petasol juga akan merasakan performa lebih baik. Sebab nilai kalornya lebih tinggi dari biosolar.

Penggunaan teknologi telah direplikasi pada lebih 60 lokasi di Indonesia. Mulai dari Cimahi, Yogyakarta, Semarang dan didukung Dinas Lingkungan Hidup (DLH serta bank sampah setempat.

Biaya produksi Petasol juga sangat murah. Hanya berkisar Rp 5.000-Rp 6.160 per liter, dengan harga bahan baku plastik Rp 1.800 per kilogram.

Namun harga bisa ditekan lagi dengan bahan baku dari bank sampah yang sekitar Rp 200, membuat ongkos produksi menjadi Rp 4.000-Rp 5.000.

"Karena belum terdapat regulasi jual beli di pasar domestik, harga Petasol ditetapkan Rp10.000 per liter. Selisih harga tersebut menghasilkan keuntungan Rp4.000-Rp5.000 per liter. Dengan kapasitas 100 kilogram per hari, laba bersih sekitar Rp8,6 juta per bulan dan titik impas dicapai dalam sekitar 2,5 tahun," jelasnya.

(wur/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |