Jakarta, CNBC Indonesia - Perekonomian dunia masih diliputi ketidakpastian akibat dari geopolitik antar Amerika Serikat dan Iran. Namun, dibalik itu ada satu negara kecil di Amerika Selatan yang menjadi negara paling diuntungkan, yaitu Guyana
Guyana telah menjadi ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia sebelum perang AS-Israel melawan Iran yang memicu kenaikan harga minyak. Kini, negara Karibia kecil berpenduduk hampir 1 juta jiwa tersebut akan menuai keuntungan yang jauh lebih besar seiring dengan ketegangan konflik yang mengubah peta pasar energi global.
Presiden Irfaan Ali dalam pidatonya di Baker Institute mengatakan, perang yang menyebabkan gangguan energi terbesar dalam sejarah ini menyoroti pentingnya negara-negara seperti Guyana yang menawarkan stabilitas politik dan akses geografis tanpa hambatan ke cadangan minyak yang diperkirakan mencapai 11 miliar barel.
Keuntungan besar dari sektor minyak mentah ini menimbulkan tekanan dari pengusaha dan warga lokal kepada pemerintah untuk menggunakan miliaran dolar tersebut guna meningkatkan sektor-sektor lain dalam perekonomian.
"Dunia telah menyaksikan terlalu banyak booming energi yang meninggalkan kota-kota hantu, hutan yang terkuras, dan penduduk yang kecewa. Guyana tidak akan menjadi cerita seperti itu," ujarnya, di Universitas Rice mengutip Reuters, Senin (1/6/2026).
Produksi minyak konsorsium yang dipimpin ExxonMobil meningkat pesat hingga melampaui 900.000 barel per hari hanya dalam tujuh tahun sejak penemuan ladang minyak besar pertama. Data Bank Dunia menunjukkan produk domestik bruto (PDB) Guyana melonjak lebih dari empat kali lipat dari 2019 hingga 2024 menjadi sekitar US$27,5 miliar.
Guyana telah berubah dari salah satu negara termiskin di kawasan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Pertumbuhan yang didorong oleh minyak tercermin di seluruh ibu kota Georgetown, yang mana sedang berlangsung pembangunan gedung perkantoran modern baru, hotel-hotel mewah, serta deretan rumah tinggal yang mirip dengan yang biasa ditemukan di pinggiran kota Amerika Serikat.
Bahkan papan iklan Exxon dan iklan perusahaan minyak lainnya diputar di radio, menjadi pengingat akan industri yang turut mendorong pertumbuhan tersebut.
Berdasarkan perhitungan Reuters, harga minyak mentah, yang telah naik 30% sejak dimulainya perang di Iran pada akhir Februari, berpotensi semakin meningkatkan pendapatan minyak Guyana. Dengan asumsi harga minyak sebesar US$100 per barel hingga akhir tahun ini pada tingkat produksi saat ini, porsi pendapatan minyak Guyana diperkirakan mencapai sekitar US$4,3 miliar, atau 67% lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
Saat ini Guyana siap mulai menerima porsi produksi minyak yang jauh lebih besar lebih awal dari yang diperkirakan. Konsorsium Exxon saat ini mengambil 75% minyak untuk menutupi biaya eksplorasi dan pengembangan awalnya. Dan kini, konsorsium tersebut diperkirakan dapat menutupi biaya tersebut tahun ini. Ketika hal itu terjadi, porsi negara dari keuntungan minyak akan naik dari 12,5% menjadi 50%.
Guyana, sebuah negara di Amerika Selatan dengan populasi sekitar 800.000 orang, diyakini akan menjadi negeri dengan pertumbuhan ekonomi tercepat. (Dok. dpi.gov.gy) Foto: Guyana, sebuah negara di Amerika Selatan dengan populasi sekitar 800.000 orang, diyakini akan menjadi negeri dengan pertumbuhan ekonomi tercepat. (Dok. dpi.gov.gy)
Meskipun demikian, tantangan jangka panjang pemerintah adalah memperkuat negara ini terhadap jebakan tersembunyi dari siklus ekonomi yang naik-turun karena harga minyak. Guyana tidak perlu mencari contoh lebih jauh dari tetangganya, Venezuela, untuk melihat bagaimana disfungsi politik dan ketergantungan berlebihan pada uang minyak dapat melumpuhkan perekonomian meskipun memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia.
Salah satu yang menjadi strategi Guyana adalah dana kekayaan negara tahun 2019 yang menampung seluruh pendapatan minyak akan digunakan untuk proyek-proyek pembangunan dengan laju yang stabil.
Ali mengingatkan bahwa ekspektasi perlu dikelola, karena setiap keuntungan tak terduga akibat kenaikan harga minyak akan diimbangi oleh biaya impor yang lebih tinggi untuk hampir semua barang, termasuk bahan bakar dan pupuk.
"Inilah kompleksitas pesan yang disampaikan ketika orang bangun setiap pagi dan melihat headline bahwa negara ini berlimpah uang, hal itu memicu ekspektasi tertentu," katanya dalam pidatonya di Baker Institute.
Apalagi, beberapa infrastruktur lokal belum berkembang secepat perkembangan industri minyak. Saluran pembuangan limbah terbuka berjejer di jalan-jalan Georgetown dan pemadaman listrik masih sering terjadi.
Seperti diketahui, Guyana terletak di tengah-tengah kawasan yang mencakup negara-negara dengan industri minyak dan gas yang sudah mapan seperti Venezuela dan Trinidad dan Tobago, serta Suriname, di mana sektor ini sedang berkembang. Kawasan ini diuntungkan oleh akses langsung dan tanpa hambatan ke Samudra Atlantik, tanpa adanya titik-titik krusial di laut yang rentan terhadap blokade seperti Selat Hormuz.
Profesor ekonomi dan studi internasional di New College of Florida Tarron Khemraj mengatakan, harga impas Guyana yang rendah, berkisar antara US$25 hingga US$35 per barel, serta kedekatannya dengan pasar AS yang mendukung pengembangan bahan bakar fosil, semakin memperkuat keunggulan jangka panjangnya,
Harga spot untuk empat jenis minyak mentah Guyana, yang dihargai karena kualitasnya yang ringan hingga sedang dan manis, telah melonjak selama tiga bulan terakhir, dengan patokan Liza mencapai puncak US$120 per barel dari US$68,98 pada 27 Februari sebelum konflik di Timur Tengah dimulai.
Bahkan jika lalu lintas melalui Selat Hormuz segera berlanjut dan harga minyak kembali ke level sebelum perang, para ahli mengatakan rekam jejak Guyana sebagai sumber minyak yang stabil secara geopolitik akan semakin menguat.
"Perang mungkin berakhir bulan depan, tetapi dunia akan berubah," kata Khemraj.
Meskipun demikian, angka-angka yang tampak seperti ledakan pertumbuhan mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan realitas ekonomi secara keseluruhan. Meskipun Guyana telah mencatat pertumbuhan PDB dua digit setiap tahun sejak produksi minyak dimulai, sebagian besar pertumbuhan tersebut terkonsentrasi di sektor perminyakan, bukan pada aktivitas ekonomi yang lebih luas.
Data pemerintahnya menyebut, sektor minyak dan gas serta layanan pendukung menyumbang lebih dari 75% PDB negara tersebut tahun lalu.
Sebagai bagian dari upayanya untuk memastikan lebih banyak pendapatan minyak mengalir ke masyarakat, pemerintah juga berupaya memperluas undang-undang konten lokal yang awalnya disahkan pada tahun 2021, yang mewajibkan perusahaan minyak dan gas untuk mengontrak pemasok dan vendor milik warga Guyana di sejumlah bidang tertentu, seperti kebersihan, makanan, atau transportasi.
Peraturan tersebut mewajibkan perusahaan minyak dan gas untuk memperoleh persentase tertentu dari layanan bisnis Guyana, seperti misalnya, 25% dari layanan medis dan 90% dari layanan katering.
Direktur Sekretariat Konten Lokal, Michael Munroe mengatakan, pemerintah sedang mempertimbangkan amandemen untuk menambahkan lebih banyak bidang layanan dan meningkatkan persyaratan persentase untuk beberapa bidang yang sudah ada.
Pendiri dan CEO sebuah klinik kesehatan yang berbasis di Georgetown Ayesha Wilburg, merespons, bahwa perluasan persyaratan tersebut akan membantu menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan pengembangan tenaga kerja terampil.
"Kami mampu menyediakan semua layanan medis yang sama seperti perusahaan internasional," imbuhnya.
Meningkatnya aktivitas minyak juga telah menyebabkan lonjakan permintaan yang serupa terhadap layanan transportasi pribadi di Georgetown, di mana penduduknya sering bepergian menggunakan taksi.
Nazim Baksh, manajer umum Sean's Transportation Services, mengatakan perusahaannya berkembang dari tujuh karyawan menjadi sekitar 20 orang dan juga memperbarui armadanya dari sedan menjadi SUV.
Namun, tantangan tetap ada, termasuk keluhan dari pemilik usaha Guyana mengenai praktik yang disebut "fronting". Para panelis di Konferensi Energi Guyana pada bulan Februari mengakui masalah ini, yang mana perusahaan asing menggunakan entitas lokal namun tetap memegang kendali sebenarnya atas bisnis tersebut.
Direktur Medis dan Pendiri Phoenix Clinicare Vanita Ally mengatakan, pihaknya yang bergerak dibidang pusat kesehatan milik warga Guyana mengaku memperoleh sertifikat untuk memberikan layanan kepada perusahaan minyak tidak menghasilkan banyak pendapatan tambahan. Bahkan inflasi juga meningkatkan biaya operasionalnya.
"Perusahaan internasional mendapatkan keuntungan jauh lebih besar daripada masyarakat lokal (dari industri minyak)," kata Ally.
Para pengemudi kini harus membayar lebih mahal di pom bensin, sama seperti di negara-negara lain, yang semakin menambah kekhawatiran terkait biaya hidup. Sebab, Guyana tidak memiliki kilang minyak dan harus mengimpor bensin, solar, serta produk olahan lainnya.
Presiden Operasi Exxon di Guyana, Alistair Routledge mengatakan, bagi Guyana, sebagai negara yang kini menjadi produsen dan eksportir energi bersih, tidak selalu terlihat dan dirasakan orang setiap hari. Sebab itu pertanda harga energi sedang naik.
"Kami menyadari ini merupakan berkah yang campur aduk bagi masyarakat Guyana," tutupnya.
(wur/wur)
Addsource on Google

2 hours ago
4

















































