Tak Hanya Jilbab, Ini Ragam Tudung Kepala Jadi Tradisi Kristen-Yahudi

1 hour ago 1

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

18 February 2026 19:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Penggunaan jilbab atau kerudung sering identik dengan Islam. Namun secara historis dan kultural, tradisi menutup kepala sebenarnya juga hadir dalam berbagai agama lain dengan beragam motivasinya.

Berikut sejumlah tradisi penutup kepala dalam beberapa agama di dunia:

Hindu: Ghoonghat sebagai Simbol Hormat dan Kesopanan

Dalam tradisi Hindu, khususnya di anak benua India, terdapat kerudung yang umum dipakai perempuan Hindu yang sudah menikah. Kerudung tersebut dikenal dengan nama ghoonghat.

Penggunaan ghoonghat sering dikaitkan dengan bentuk penghormatan kepada Tuhan saat ritual ibadah (pooja). Selain itu, penggunaannya juga menjadi simbol kesopanan, kerendahan hati, dan rasa syukur.

Meski begitu, tidak ada teks kitab suci Hindu yang secara eksplisit mewajibkan perempuan menutup kepala. Secara historis, perempuan India kuno bahkan diketahui tidak selalu memakai kerudung.

Kristen Ortodoks: Kerudung sebagai Ekspresi Penghormatan

Dalam tradisi Kristen Ortodoks, penggunaan kerudung oleh perempuan memiliki akar dalam Perjanjian Baru serta tulisan para Bapa Gereja. Penggunaan penutup kepala ini menyimbolkan sifat kerendahan hati dan kesopanan serta sebagai bentuk penghormatan kepada Yesus Kristus.

Saat ini, pemakaiannya untuk sehari-hari lebih bersifat pilihan individu, bukan kewajiban formal. Namun penggunaannya menjadi wajib saat akan memasuki gereja dan melakukan ritual ibadah.

Yahudi: Penutup Rambut sebagai Hukum Religius

Dalam hukum agama Yahudi (halacha), perempuan Yahudi yang sudah menikah dianjurkan menutup rambut ketika berada di hadapan pria selain suami atau keluarga dekat. Tradisi ini dikenal sebagai kisui rosh.

mitpachatFoto: mecanica.edu
mitpachat

Jenis penutup kepala dalam tradisi Yahudi cukup beragam, namun kerudung kainnya dikenal dengan nama tichel atau mitpachat. Penggunaannya umumnya berkaitan dengan nilai religius, seperti menjaga standar kesopanan (tzniut), menandakan status pernikahan, menunjukkan identitas sebagai bagian dari komunitas religius, sekaligus menjadi simbol penghormatan kepada Tuhan.

Katolik: Mantilla dalam Liturgi Gereja

Dalam tradisi Katolik, perempuan dikenal memakai mantilla, yaitu kerudung renda yang digunakan saat misa atau perayaan liturgi tertentu.

Pengenaan mantilla salah satunya berkaitan dengan contoh yang diberikan oleh Bunda Maria. Selain sebagai simbol kesucian dan kerendahan hati, pemakaian mantilla juga menjadi bentuk penghormatan terhadap Sakramen Mahakudus.

kerudung MantillaFoto: Lookphoto
kerudung Mantilla

Dulu mantilla sempat diwajibkan dalam Kitab Hukum Kanonik, namun kini sifatnya opsional. Tradisi ini masih bertahan di sejumlah komunitas Katolik, terutama di Amerika Latin, Eropa, dan Asia.

Zoroastrian: Mathabana sebagai Simbol Kesederhanaan

Dalam budaya Parsi yang menganut Zoroastrianisme, perempuan mengenakan mathabana, yaitu kain tipis putih yang digunakan untuk menutup kepala. Praktik ini bertujuan menjaga kesederhanaan dan kesopanan, menghormati tradisi budaya serta agama, sekaligus menghindari penonjolan kecantikan fisik secara berlebihan.

Dalam tradisi lama, laki-laki juga mengenakan penutup kepala berupa skull cap, sementara perempuan diwajibkan memakai mathabana. Kepala yang tidak tertutup bahkan kerap dianggap berdosa dan bertentangan dengan ajaran agama.

(mae/mae)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |