Sering Diabaikan, Ini 9 Gejala Depresi yang Wajib Diwaspadai

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Depresi selama ini identik dengan kesedihan mendalam, tangisan, atau ketidakmampuan untuk bangkit dari tempat tidur. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Faktanya, gangguan kesehatan mental ini sering kali muncul dalam bentuk gejala fisik dan perubahan perilaku yang mengejutkan, membuat banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami depresi.

"Depresi tidak selalu tampak seperti kesedihan yang melemahkan," ujar Richard Kravitz, salah seorang profesor penyakit dalam di Universitas California, Davis, sekaligus ahli dalam mengidentifikasi depresi.

Menurutnya, banyak pasien enggan mengaitkan gejala fisik mereka dengan depresi karena adanya stigma kelemahan atau sekadar tidak tahu bahwa hal tersebut saling berhubungan.

Melansir data dari Prevention, Senin (27/7/2026), berikut adalah sembilan tanda halus dan terselubung dari depresi yang wajib diwaspadai:

1. Nyeri Kronis yang Tak Kunjung Sembuh
Depresi dan rasa sakit fisik ternyata berbagi jalur biologis dan zat kimia otak (neurotransmiter) yang sama. Sebuah studi dalam jurnal Pain mengungkapkan bahwa 56% orang dengan depresi atau kecemasan juga mengalami nyeri kronis.

Dr. Kravitz menjelaskan bahwa saat seseorang berada dalam kondisi mental negatif, mereka cenderung merasakan ketidaknyamanan tubuh seperti sakit perut atau sakit kepala dengan lebih tajam.

2. Kenaikan Berat Badan
Hubungan antara depresi dan berat badan bersifat dua arah. Depresi dapat memicu kenaikan berat badan atau obesitas, dan sebaliknya. Namun, Anxiety & Depression Association of America juga mencatat bahwa sebagian orang justru kehilangan nafsu makan secara drastis, yang berujung pada penurunan berat badan.

3. Kemarahan atau Amarah yang Meluap
Jika Anda menjadi sangat sensitif dan mudah mengamuk karena kesalahan kecil, ini bisa jadi lampu kuning. Simon Rego, seorang profesor psikiatri klinis di Albert Einstein College of Medicine, menjelaskan bahwa berada di fase mental negatif membuat seseorang lebih mudah mengakses emosi buruk lainnya, seperti iritabilitas, frustrasi, dan kemarahan.

4. Merasa Hampa Seperti "Zombie"
Kehilangan motivasi dan mati rasa secara emosional adalah ciri khas depresi. Hal-hal yang biasanya memicu tawa atau tangis kini terasa datar. Perilaku seperti zombie ini sering kali membuat penderitanya tampak dingin dan menjauhkan mereka dari orang-orang terdekat yang ingin memberi dukungan.

5. Pelarian ke Alkohol
Banyak orang menggunakan alkohol sebagai bentuk pengobatan mandiri (self-medication) untuk meredakan ketegangan. Sayangnya, konsumsi yang berlebihan justru akan memperkuat emosi negatif seperti kecemasan dan agresivitas. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) membatasi konsumsi aman maksimal satu gelas per hari untuk wanita dan dua gelas untuk pria.

6. Kecanduan Media Sosial dan Belanja Online
Sebuah ulasan dalam Psychiatry Research menyebutkan adanya tumpang tindih yang besar antara depresi dan kecemasan dengan kecanduan internet. Menggulir media sosial, bermain game, atau berbelanja secara berlebihan sering kali digunakan sebagai mekanisme pelarian (coping mechanism) untuk mendapatkan kesenangan instan jangka pendek dan menghindari pikiran buruk.

7. Kesulitan Mengambil Keputusan
Saat depresi menyerang, proses kognitif otak akan terganggu. Keputusan-keputusan kecil yang biasanya dilakukan secara otomatis-seperti memilih menu sarapan atau menentukan pakaian-bisa terasa sangat berat dan melelahkan untuk diputuskan.

8. Mengabaikan Kebersihan Diri
Sebuah studi di Australia menemukan bahwa menjaga kebersihan pribadi dan rutinitas perawatan diri menjadi tantangan berat bagi penderita depresi. Penurunan drastis pada perawatan penampilan fisik ini menjadi tanda bahaya ketika sudah mulai mengganggu fungsi sosial sehari-hari.

"Ini adalah spektrum. Mengabaikan kesejahteraan fisik dan penampilan Anda hanya menjadi masalah ketika hal itu melampaui batas menjadi tekanan atau disfungsi," kata Rego.

9. Gangguan Tidur yang Ekstrem
Depresi merusak pola tidur manusia dengan dua cara ekstrem. Banyak penderita yang mengalami insomnia kronis, namun tidak sedikit pula yang justru tidur berlebihan (hipersomnia) sepanjang malam hingga siang hari. Penelitian dalam Journal of Affective Disorders mengonfirmasi bahwa kurang tidur maupun terlalu banyak tidur sama-sama berkaitan erat dengan depresi.

(miq/miq)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |