Sentimen MSCI, Moody’s Dan Geopolitik Global Tekan IHSG, IPOT Rekomendasi Saham Ini

3 hours ago 3

JAKARTA (Waspada.id): Selama satu pekan terakhir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi cukup dalam sebesar -4,73% ke level 7935 diikuti oleh outflow di pasar regular sebesar Rp1,2 triliun. Sentimen MSCI yang memberikan ancaman Indonesia akan masuk ke frontier market jika tidak dapat memenuhi permintaan MSCI terkait transparansi pemegang saham masih menjadi penyebab utama. Selain itu, pasar juga dipengaruhi oleh berbagai sentimen, baik global maupun domestik.

Dari global ada sentimen geopolitik AS-Iran, dimana Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan tidak langsung AS-Iran yang dimediasi Oman di Muscat berjalan sangat baik dan membuka peluang pertemuan lanjutan awal pekan depan, sejalan dengan pernyataan Iran bahwa perundingan awal berlangsung positif untuk meredam ketegangan dan menghindari konflik militer. Teheran menegaskan pembahasan hanya soal nuklir, sementara AS ingin memperluas ke isu rudal dan milisi regional. Kabar ini sempat menekan harga minyak Brent di bawah US$67 per barel sebelum stabil

“IPOT melihat risiko geopolitik tetap tinggi karena AS pada saat yang sama menjatuhkan sanksi baru terkait ekspor minyak Iran. Iran menyita kapal tanker kecil di Teluk Persia dan kedua pihak saling melontarkan ancaman. Kami menilai peluang eskalasi serangan terbatas di maritim masih terbuka meski jalur diplomasi berlanjut,” jelas Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, Senin (9/2).

Selanjutnya, Imam melihat meredanya ketegangan perang dagang AS-India memberikan sentimen positif bagi ekonomi domestik karena India merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Presiden Donald Trump telah menghapus tarif tambahan 25% dan memangkas tarif “resiprokal” sehingga tarif efektif turun menjadi 18%. Sebagai imbalannya, India berkomitmen untuk membatasi impor minyak Rusia, meningkatkan pembelian energi dari AS, serta sepakat membeli produk AS senilai US$500 miliar dalam lima tahun. Kesepakatan ini juga mencakup penghapusan berbagai hambatan perdagangan di sektor pertanian, manufaktur, kesehatan dan teknologi.

Sementara itu dari domestik, ada sentimen Moody’s yang memangkas outlook Indonesia dan beberapa emiten. Moody’s mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2, namun menurunkan outlook menjadi negatif karena meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan melemahnya prediktabilitas serta koordinasi pemerintah yang dinilai berisiko menggerus kredibilitas kebijakan dan kepercayaan investor, meski fundamental ekonomi masih relatif solid dengan pertumbuhan sekitar 5%, defisit fiskal terjaga di bawah 3% PDB, dan rasio utang pemerintah yang tetap rendah.

“Moody’s menyoroti risiko fiskal dari perluasan belanja sosial, basis penerimaan negara yang lemah, serta ketidakjelasan tata kelola dan mandat sovereign wealth fund Danantara yang mengelola aset BUMN besar, sementara eskalasi risiko politik dan volatilitas pasar keuangan berpotensi menekan stabilitas makro jika tidak diimbangi dengan konsistensi kebijakan yang lebih kuat,” ujarnya.

Penurunan outlook sovereign Indonesia menjadi negatif oleh Moody’s berdampak langsung pada penurunan batas atas peringkat (rating cap) berbagai emiten besar, termasuk BUMN seperti Telkom, Pertamina, dan bank-bank utama (Mandiri, BRI, BNI, BCA, BTN). Bagi emiten non-BUMN seperti Indofood CBP dan United Tractors, risiko meningkat melalui ketergantungan pada stabilitas makro dan akses pendanaan.

Kondisi ini mempersempit ruang kenaikan peringkat serta membuat seluruh kelompok emiten lebih sensitif terhadap potensi penurunan peringkat lebih lanjut jika tekanan fiskal dan ketidakpastian kebijakan terus berlanjut. Selain itu, ICBP juga memiliki eksposur utang berdenominasi dolar AS yang digunakan dalam akuisisi Pinehill, sehingga pelemahan stabilitas makro, volatilitas nilai tukar, maupun kenaikan premi risiko negara berpotensi mempengaruhi ICBP.

Selain itu, ada pula sentimen pertumbuhan ekonomi Indonesia, dimana ekonomi Indonesia pada tahun 2025 mencatat pertumbuhan yang solid sebesar 5,11%, mengungguli capaian tahun sebelumnya, dengan lonjakan signifikan pada triwulan IV sebesar 5,39% (yoy) yang didorong oleh sektor transportasi dan pergudangan.

Pertumbuhan ini ditopang oleh permintaan domestik yang kuat melalui sektor jasa dan konsumsi digital, aktivitas produksi di zona ekspansi, serta investasi yang masif, termasuk lonjakan belanja modal pemerintah hingga 40,14% (yoy). Keseluruhan faktor tersebut berhasil menjaga momentum ekspansi ekonomi nasional tetap stabil hingga akhir tahun.

Proyeksi dan Rekomendasi IPOT Pekan Ini

Memasuki pekan 9–13 Februari 2026, perhatian pasar akan tertuju pada sejumlah rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, China, dan Indonesia yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan global maupun domestik.

Dari Amerika Serikat, data inflasi menjadi sorotan utama dengan proyeksi penurunan ke level 2,5% yoy dari 2,7% yoy pada periode sebelumnya, yang dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed. Selain itu, initial jobless claims diperkirakan berada di kisaran 235 ribu, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,4% mencerminkan pasar tenaga kerja yang mulai melandai.

Dari China, pasar akan mencermati rilis data inflasi yang diproyeksikan turun menjadi 0,4% yoy dari 0,8% yoy, mengindikasikan tekanan permintaan domestik yang masih lemah dan ruang kebijakan yang lebih longgar bagi otoritas setempat. Data ini penting mengingat peran China sebagai mitra dagang utama Indonesia dan pengaruhnya terhadap sentimen komoditas global.

Di dalam negeri, fokus investor tertuju pada rilis penjualan ritel Desember 2025 sebagai indikator daya beli masyarakat menjelang akhir tahun, serta data penjualan mobil Januari 2026 yang akan memberikan gambaran awal mengenai tren konsumsi dan permintaan domestik di awal tahun. Data-data ini akan menjadi konfirmasi lanjutan atas ketahanan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Di luar rilis data ekonomi, pasar juga masih akan mencermati perkembangan kebijakan Moody’s, khususnya dampaknya terhadap perusahaan-perusahaan Indonesia yang mengalami penurunan outlook, mengingat potensi implikasinya terhadap persepsi risiko, biaya pendanaan, dan sentimen investor. Secara keseluruhan, dengan masih tingginya faktor kehati-hatian global dan domestik, pergerakan pasar pada pekan ini diproyeksikan bervariasi cenderung melemah terbatas, dengan level support di 7.716 dan resistance di 8.207.

Merespons dinamika market ini, IPOT yang kini telah bertransformasi menjadi Wealth Creation Platform merekomendasikan strategi investasi dengan Booster Modal dan instrumen Power Fund Series (PFS) yang kesemuanya ini bisa dikelola dengan fitur Multi-Account untuk memisahkan setiap strategi ataupun tujuan investasi sehingga risiko lebih mudah untuk dikelola dan fitur Shared Access yang dapat digunakan keluarga dan komunitas untuk berkolaborasi dan berinvestasi bersama.

1.    Buy On Pullback PNLF (Entry: 270 – 272, TP: 292  dan SL: <260). PNLF menjadi representasi pemulihan sektor asuransi jiwa seiring pertumbuhan kelas menengah dan meningkatnya kebutuhan proteksi finansial. Perbaikan kualitas bisnis tercermin dari peningkatan profitabilitas, manajemen risiko yang lebih konservatif, serta potensi pertumbuhan premi yang stabil. Dengan valuasi yang masih relatif atraktif dibanding prospek jangka panjangnya, PNLF menawarkan risk–reward yang menarik di sektor keuangan non-bank.

2.    Buy ADRO  (Entry 2080, TP: 2240 dan  SL <2000. ADRO memiliki posisi kas yang sangat kuat dan struktur bisnis yang relatif defensif di tengah volatilitas harga komoditas. Normalisasi harga batu bara masih dapat diimbangi oleh efisiensi biaya produksi, diversifikasi ke energi terbarukan, serta rekam jejak pengelolaan modal yang disiplin, termasuk kebijakan dividen. Dengan neraca yang solid dan fleksibilitas dalam menghadapi transisi energi, ADRO tetap relevan baik sebagai saham berorientasi income maupun jangka menengah.

3.    Buy PANI (Entry: 8925, TP: 9600, SL: <8600). PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) membukukan pra penjualan sebesar Rp4,3 triliun sepanjang 2025, setara 100% dari target yang ditetapkan, mencerminkan kuatnya permintaan terhadap proyek-proyek yang dikembangkan perseroan. Capaian ini menegaskan efektivitas strategi pengembangan kawasan serta kemampuan monetisasi land bank premium yang dimiliki. Dengan visibilitas pendapatan yang lebih terjaga dan potensi value unlocking dari pengembangan tahap lanjutan, PANI memiliki ruang pertumbuhan yang menarik seiring membaiknya sentimen sektor properti.

4.    Buy Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD). Penurunan harga yang terjadi pada konstituen XIHD berpotensi mendorong dividend yield XIHD menjadi semakin atraktif, seiring karakteristik underlying asetnya yang berfokus pada saham-saham dengan pendapatan dividen stabil. Dengan demikian, investor dapat mengambil pendekatan yang lebih konservatif melalui strategi buy on weakness, memanfaatkan koreksi harga sebagai momentum akumulasi bertahap untuk memperoleh kombinasi arus kas dividen yang akan berimplikasi terhadap NAV dan potensi pemulihan nilai dalam jangka menengah hingga panjang. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |