Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menyoroti ketimpangan biaya teknologi militer modern. Departemen Pertahanan AS (Pentagon) melaporkan harus mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar untuk menghalau serangan pesawat tak berawak (drone) berbiaya rendah yang diluncurkan oleh Iran.
Melansir CNBC International, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya telah memperingatkan situasi tersebut. Dia menekankan bahwa militer AS tidak bisa terus-menerus menggunakan amunisi mahal untuk menangkis persenjataan murah musuh.
"Kita tidak mampu menembak jatuh drone murah dengan rudal seharga US$ 2 juta. Kita sendiri harus mampu mengerahkan drone serang yang mumpuni dalam jumlah besar," tegas Hegseth, dilansir CNBC International, dikutip Minggu (29/3/2026).
Berdasarkan estimasi publik, Iran menggunakan kawanan drone Shahed yang harganya hanya berkisar US$ 20.000 hingga US$ 50.000 per unit. Drone murah itu terbukti mampu menembus dan merusak pangkalan militer dan fasilitas terkait AS.
Sebaliknya, AS dilaporkan menghabiskan senilai US$ 5,6 miliar hanya dalam dua hari pertama perang untuk keperluan amunisi.
Merespons ketimpangan tersebut, militer AS mulai melirik teknologi pertahanan dari perusahaan rintisan (startup) di Silicon Valley. Saat ini, AS telah mengerahkan Low-cost Uncrewed Combat Attack System (LUCAS), sebuah drone buatan SpektreWorks asal Arizona yang dibanderol sekitar US$ 35.000 per unit.
Namun, CEO Govini Tara Murphy Dougherty mencatat bahwa produksi LUCAS masih dalam jumlah moderat. Mayoritas kemampuan udara AS di Iran saat ini masih sangat bergantung pada jet tempur dan pesawat pengebom tradisional.
Di sektor pertahanan anti-drone, inovasi penekanan biaya juga terus dipacu.
Perusahaan Aerovironment baru-baru ini merilis sistem laser Locust X3 yang diklaim hanya menelan biaya operasional di bawah US$ 5 untuk setiap kali tembakan. Perusahaan teknologi lain seperti Anduril, Epirus, hingga Axon juga mulai meningkatkan skala produksi teknologi anti-drone mereka.
Konflik tersebut menjadi katalis bagi perusahaan teknologi pertahanan. Data Pitchbook menunjukkan nilai kesepakatan pendanaan Venture Capital (VC) di sektor ini melonjak hampir dua kali lipat menjadi US$ 49,9 miliar pada tahun lalu dari US$ 27,3 miliar pada 2024.
Adapun, perusahaan besar seperti Palantir dan Anduril baru-baru ini menandatangani kontrak bernilai miliaran dolar dengan Pentagon.
Meski antusiasme di Silicon Valley tinggi, data dari Ronald Reagan Presidential Foundation and Institute menunjukkan bahwa pengeluaran untuk startup teknologi pertahanan masih di bawah 1% dari total nilai kontrak pertahanan AS pada 2025. Dari porsi kecil tersebut, 88% di antaranya dikuasai oleh tiga perusahaan besar yakni Anduril, Palantir, dan SpaceX.
Permintaan terhadap teknologi murah dan efisien ini meroket sejak AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari lalu. Beberapa startup mengaku diminta oleh Pentagon untuk segera meningkatkan kapasitas produksi.
CEO Chaos Industries, John Tenet, menyatakan tim manufakturnya bekerja siang dan malam untuk memenuhi permintaan tersebut tanpa menunggu kontrak resmi turun terlebih dahulu.
Pergeseran fokus ke teknologi otonom berbiaya rendah ini sejalan dengan target Presiden AS Donald Trump yang mengajukan anggaran militer sebesar US$ 1,5 triliun pada 2027. Hegseth menargetkan industri pertahanan AS mampu memproduksi dan mengoperasikan 300.000 drone berbiaya rendah secara cepat pada tahun 2027 mendatang.
(mkh/mkh)
Addsource on Google

4 hours ago
2
















































