Satu Nabi, Seribu Tradisi: Ini Beragam Peringatan Maulid di Dunia

54 minutes ago 2

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia

25 August 2026 13:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di sejumlah negara bisa memenuhi jalanan kota, melibatkan ribuan orang, hingga menjadi rangkaian acara yang berlangsung berhari-hari.

Istilah "maulid" atau "milad" dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Tradisi perayaan Maulid Nabi mulai dikenal secara luas pada abad ke-12 Masehi, sekitar 300 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Pakistan, Bangladesh, Malaysia hingga Maroko memiliki cara berbeda dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisinya pun berbaur dengan budaya setempat, mulai dari pawai dan lampu warna-warni hingga lantunan pujian, makanan dan kegiatan sosial.

Namun, ukuran kemeriahannya tidak selalu soal jumlah orang. Ada perayaan yang menonjol karena melibatkan negara, ada pula yang menjadi bagian kuat dari identitas budaya sebuah kota.

Pakistan, Maulid Jadi Perayaan Nasional

Di Pakistan, Maulid Nabi atau Eid Mawlid Al-Nabi dirayakan secara luas hingga ke tingkat pemerintahan. Pada 2021, pemerintah menetapkan hari tersebut sebagai hari libur nasional dan menyiapkan rangkaian acara di berbagai wilayah.

Di ibu kota, perayaan direncanakan diawali dengan Mehfil-e-Naat, konferensi dan kegiatan keagamaan. Pemerintah juga menyiapkan 31 tembakan penghormatan di tingkat federal dan 21 tembakan di ibu kota provinsi.

Perayaan tidak berhenti di acara resmi. Jalan, pasar, pusat perbelanjaan serta gedung pemerintah dan swasta dihiasi lampu selama beberapa hari. Pawai juga digelar di berbagai daerah, sementara makanan dan permen dibagikan di pasar, sekolah, panti asuhan hingga rumah bagi penyandang disabilitas.

Saat itu, Perdana Menteri Pakistan Imran Khan mendorong masyarakat merayakan Maulid dalam skala yang disebutnya "unprecedented manner" atau belum pernah terjadi sebelumnya.

Bangladesh, Ribuan Orang Ikut Arak-arakan

Di Bangladesh, kemeriahan Maulid terlihat dari arak-arakan yang membawa ribuan orang ke jalanan Dhaka.

Pada 28 September 2023, ribuan umat Muslim mengikuti Jashne Julush untuk memperingati Eid-e-Miladunnabi. Prosesi dimulai dari Suhrawardy Udyan dan melewati sejumlah kawasan, termasuk Shahbagh, Matsya Bhaban, Doyel Chattar hingga Engineers Institution.

Peserta membawa bendera Bangladesh, spanduk warna-warni serta sejumlah tulisan keagamaan. Setelah prosesi, digelar pula konferensi perdamaian di Suhrawardy Udyan.

Peringatan tersebut dipimpin Sayeed Saifuddin Ahmed Al Hasani, Ketua Bangladesh Supreme Party (BSP), Liberal Islamic Alliance dan Anjuman-e-Rahmania Mainia Maizbhandaria.

Dalam pidatonya, Saifuddin Ahmed mengatakan Nabi Muhammad SAW merupakan teladan bagi kehidupan manusia dan menekankan pentingnya perdamaian serta hidup berdampingan di tengah perbedaan.

Malaysia, 6.219 Orang Disiapkan Ikut Perayaan

Di Sarawak, Malaysia, perayaan Maulidur Rasul 2026 juga disiapkan dalam skala besar.

Sebanyak 125 kontingen dengan total 6.219 peserta dijadwalkan mengikuti perayaan tingkat Sarawak pada 24-25 Agustus 2026. Jumlah peserta tersebut masih dapat disesuaikan dengan kapasitas lokasi acara.

Deputy Minister in the Sarawak Premier's Department, Datuk Dr Abdul Rahman Junaidi, mengatakan penyesuaian dilakukan agar kegiatan berlangsung tertib dan tetap memperhatikan keselamatan serta kenyamanan peserta.

Rangkaian acaranya cukup panjang. Selain upacara zikir dan syukur di Masjid Al-Muttaqin, terdapat kompetisi Zikir Marhaban, forum urusan Islam, serta ceramah dan forum Maulidur Rasul di masjid dan surau sepanjang bulan Rabiulawal.

Dengan 6.219 peserta yang disiapkan, perayaan ini menunjukkan bagaimana Maulidur Rasul di Malaysia juga menjadi agenda komunitas yang terorganisasi, bukan hanya pertemuan kecil di lingkungan masjid.

Maroko Punya Parade Lilin

Jika Pakistan menonjolkan skala nasional dan Indonesia memperlihatkan kekayaan tradisi daerah, Maroko punya perayaan yang menjadi ciri khas sebuah kota.

Di Salé, kota yang berada di seberang Rabat, Maulid dirayakan dengan prosesi lilin yang dikenal sebagai Moussem of the Candles.

Menjelang Maulid, struktur lilin berbentuk menara dibawa melewati jalan-jalan kota tua. Lilin tersebut dibuat menggunakan kerangka kayu yang kemudian dilapisi lilin berwarna dan dihiasi menyerupai menara.

Prosesi berakhir di mausoleum Sidi Abdellah Ben Hassoun, yang dikenal sebagai tokoh penting bagi masyarakat Salé.

Tradisi tersebut dikaitkan dengan masa pemerintahan Sultan Ahmad al-Mansur dari Dinasti Saadian pada akhir abad ke-16. Gagasan perayaan lilin disebut terinspirasi dari tradisi yang dilihat di Istanbul.

Sudan Rayakan hingga 12 Hari

Di Sudan, kemeriahan Maulid tidak hanya terlihat dari keramaian pada satu hari.

Studi mengenai perayaan Maulid di berbagai negara mencatat bahwa perayaan di Sudan dapat berlangsung selama 12 hari. Tenda-tenda besar didirikan, dihiasi lampu, sementara masyarakat berkumpul untuk melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Prosesi juga menjadi bagian dari perayaan. Peserta bergerak di jalan utama sambil melantunkan pujian dan mengikuti irama musik tradisional.

Makanan turut menjadi bagian dari kegiatan, termasuk hidangan tradisional khalawiyah.

Durasi menjadi pembeda penting. Di Sudan, Maulid tidak hanya mengambil ruang di jalan, tetapi juga memperpanjang aktivitas komunitas selama hampir dua pekan.

Mesir Merayakan dengan Manisan

Di Mesir, Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan secara meriah dan telah menjadi bagian dari tradisi sosial serta keagamaan masyarakat.


Peringatan yang berlangsung setiap 12 Rabiul Awal ini biasanya diisi dengan pembacaan Al-Qur'an, zikir, doa bersama, ceramah, serta pembacaan syair dan pujian kepada Nabi. Masjid dan berbagai majelis keagamaan menjadi pusat kegiatan, sementara masyarakat juga berkumpul bersama keluarga dan berbagi makanan serta hidangan kepada sesama.

Umat ​​Muslim Sufi Mesir melantunkan zikir dalam prosesi untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad di distrik Al-Hussein dan Al-Azhar di Kairo, Mesir, 15 September 2024. (REUTERS/Amr Abdallah Dalsh)Umat ​​Muslim Sufi Mesir melantunkan zikir dalam prosesi untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad di distrik Al-Hussein dan Al-Azhar di Kairo, Mesir, 15 September 2024. (REUTERS/Amr Abdallah Dalsh) Foto: Umat ​​Muslim Sufi Mesir melantunkan zikir dalam prosesi untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad di distrik Al-Hussein dan Al-Azhar di Kairo, Mesir, 15 September 2024. (REUTERS/Amr Abdallah Dalsh)

Salah satu tradisi paling khas adalah manisan Maulid atau halawat al-Mawlid. Menjelang perayaan, toko-toko di berbagai kota Mesir dipenuhi aneka manisan yang dikemas khusus dan biasanya dibeli untuk diberikan kepada keluarga, kerabat, maupun teman.

Tradisi tersebut membuat Maulid di Mesir memiliki suasana yang unik, memadukan ibadah, silaturahmi, tradisi keluarga, dan budaya kuliner dalam satu perayaan besar..

Bagaimana di Indonesia?

Berbagai tradisi juga dilakukan oleh masyarakat Muslim di Indonesia untuk memperingati momen kelahiran Rasulullah ini, dengan setiap daerah memiliki cara yang khas dan unik.

Di Aceh, misalnya, perayaan Maulid Nabi berlangsung lebih lama dari kebanyakan daerah lainnya. Warga Aceh tidak hanya merayakannya pada bulan Rabiul Awal, tetapi juga selama 90 hari setelah bulan tersebut.

Tradisi ini dilakukan dengan mengadakan kenduri secara bergilir, di mana setiap keluarga memasak makanan yang kemudian dibawa ke masjid untuk disajikan kepada para tamu yang datang berzikir dan berdoa bersama.

Makanan ini biasanya disajikan dalam wadah khusus bernama amben, yakni alat berbentuk silinder dengan berbagai ukuran.

Sementara itu, di Madura, Jawa Timur, perayaan Maulid Nabi juga tidak kalah meriah dan berlangsung selama sebulan penuh. Peringatan ini diselenggarakan secara bergilir di rumah-rumah warga, di mana mereka melantunkan shalawat, barzanji, dan simthud durar.

Puncak dari perayaan ini adalah acara Mulot Agung, di mana warga berkumpul di masjid untuk bersholawat dan berdoa bersama. Setelah itu, mereka mengikuti acara berebut buah, uang, dan wangi-wangian yang telah didoakan.

Barang-barang ini dipercaya membawa berkah bagi siapa saja yang berhasil mendapatkannya.

Di Yogyakarta, tradisi Maulid Nabi dilaksanakan dengan upacara kebesaran Keraton yang dikenal sebagai Hajad Dalem Sekaten dan Grebeg Mulud. Rangkaian kegiatan dimulai dengan prosesi Miyos Gangsa, yang dilakukan seminggu sebelum perayaan, dan diakhiri dengan Grebeg Mulud pada 12 Rabiul Awal.

Grebeg MauludGrebeg Maulud Foto: Detik

Sekaten awalnya adalah upacara untuk menghormati leluhur di Tanah Jawa yang beragama Hindu, namun seiring waktu, tradisi ini digunakan sebagai sarana penyebaran agama Islam dengan pertunjukan gamelan sebagai daya tarik utama.

Selain prosesi upacara, Keraton Yogyakarta juga mengadakan Pasar Malam Perayaan Sekaten dan pameran di sekitar keraton untuk menyambut acara ini. Pada acara puncak Grebeg Mulud, iring-iringan gunungan yang berisi hasil bumi seperti sayuran dan buah-buahan diarak dan dibagikan kepada masyarakat yang berebut mendapatkannya, karena dipercaya membawa berkah.

Di Gorontalo, perayaan Maulid Nabi dikenal dengan nama Walima. Tradisi ini telah ada sejak abad ke-17, ketika Islam pertama kali masuk ke wilayah tersebut. Prosesi dimulai dengan dikili, atau zikir, di Masjid At-Taqwa yang terletak di Desa Bongo.

Masyarakat menyiapkan kue-kue tradisional seperti kolombengi, sukade, wapili, dan telur rebus yang disusun menjadi tolangga, struktur berbentuk menara atau kapal laut. Tolangga ini kemudian diarak ke masjid, dan setelah upacara zikir, makanan di dalamnya dibagikan kepada masyarakat.

Maulid NabiMaulid Nabi Foto: Pemprov Gorontalo

Di Kalimantan Selatan, masyarakat Banjar merayakan Maulid Nabi dengan tradisi unik yang disebut Baayan Maulid. Kata "baayan" berarti ayunan atau buaian, sedangkan "mulud" berasal dari kata bahasa Arab yang mengacu pada perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dalam tradisi ini, bayi-bayi diayunkan sambil diiringi lantunan shalawat sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini tidak hanya bertujuan untuk mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga diharapkan membawa berkah bagi anak-anak yang diayunkan.

Satu perayaan, banyak bentuk

Maulid Nabi memiliki momen yang sama, tetapi bentuk perayaannya dapat berubah mengikuti budaya masyarakat.

Di Pakistan, perayaan masuk ke agenda nasional dengan pawai, lampu dan kegiatan resmi. Bangladesh memperlihatkannya melalui prosesi massa di tengah kota. Indonesia membawa Maulid ke dalam tradisi gunungan, makanan dan hasil bumi.

Di tempat lain, bentuknya bisa berupa musik, pujian, kegiatan sosial, pertemuan keluarga atau prosesi khas seperti parade lilin di Maroko.

Unsur budaya lokal seperti bahasa, seni, tradisi masyarakat, struktur sosial hingga kebiasaan komunitas ikut membentuk cara perayaan tersebut berlangsung.

Karena itu, kemeriahan Maulid tidak hanya soal berapa banyak orang yang hadir. Di satu tempat ukurannya terlihat dari ribuan peserta yang memenuhi jalan, di tempat lain dari panjangnya rangkaian acara, sementara di daerah lain tercermin dari bagaimana sebuah tradisi telah menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.

(mae/mae)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |