Susi Setiawati, CNBC Indonesia
09 January 2026 11:35
Jakarta, CNBC Indonesia - Proyek pengolahan sampah menjadi energi terbarukan atau waste to energy (WTE) makin serius digarap pemerintah. Kabarnya, pada Januari tahun ini akan diumumkan pemenang tender-nya.
Sejauh ini ada empat emiten yang diketahui punya proyek WTE yaitu PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI) PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) dan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC).
Seiring dengan semakin dekat pengumuman hasil tender, empat saham itu dalam seminggu terakhir naik cukup signifikan, mayoritas mencetak dua digit persen, bahkan ada yang sampai 95% yaitu saham BIPI dan kini malah kena suspensi.
Pada dasarnya, proyek Waste to Energy atau WtE adalah program pemerintah untuk mengolah sampah menjadi sumber energi, terutama listrik.
Sampah yang sudah tidak bisa didaur ulang akan diproses menggunakan teknologi khusus agar bisa menghasilkan energi. Tujuan utamanya bukan cuma mengurangi tumpukan sampah, tapi juga menekan risiko kesehatan, sekaligus menambah pasokan energi nasional yang lebih ramah lingkungan.
Lewat proyek ini, pemerintah berharap bisa mengurangi ketergantungan pada batu bara dan mendorong kemandirian energi, sejalan dengan agenda hilirisasi dan transisi energi.
Pemerintah berencana membangun fasilitas WtE di 34 kabupaten dan kota yang masing masing menghasilkan lebih dari 1.000 ton sampah per hari. Proyek ini dijadwalkan mulai groundbreaking pada periode Januari hingga Maret 2026. Pengumuman pemenang tender diperkirakan dilakukan pada awal Januari 2026, sehingga sentimen ini mulai menjadi perhatian pelaku pasar sejak sekarang.
Proyek Waste to Energy masuk dalam daftar 18 proyek hilirisasi strategis nasional dengan nilai investasi mencapai Rp600 triliun. Pelaksanaannya akan dipimpin oleh Danantara Indonesia.
Teknologi WtE ini diharapkan mampu mengubah sampah menjadi listrik, panas, atau bahan bakar alternatif, sekaligus mengurangi volume sampah terbuka yang selama ini menjadi masalah di banyak daerah.
Kemudian, kalau kita merinci lagi terkait emiten WTE, mulai dari TOBA yang dulu-nya terkenal sebagai perusahaan batu bara, lalu akhirnya mengubah diri-nya fokus ke energi terbarukan sampai kendaraan listrik.
TOBA menjadi sorotan karena mengakuisisi Sembcorp Enviro, membuat bisnisnya semakin dalam ke sektor pengelolaan sampah.
Berikutnya ada IMPC yang masuk ke bisnis pengelolaan sampah. Beda dengan TOBA yang beralih signifikan dari bisnis lama-nya batu bara. IMPC ini masih ada related dengan bisnis lama-nya yaitu di packaging plastik sampai bahan bangunan yang berbasis plastik. Sebagaimana kita tahu, plastik itu kan termasuk salah satu bahan yang mudah untuk didaur ulang.
IMPC mengelola sampai melalui anak usaha-nya, PT Sirkular Karya Indonesia (SKI). Diketahui, SKI telah menandatangani nota kesepahaman dengan PT CCEPC Indonesia untuk menjajaki pengembangan proyek waste to energy (WtE) di wilayah Bali.
Dalam kolaborasi tersebut, SKI akan berperan sebagai penyedia dukungan investasi, sementara CCEPC akan menangani aspek teknis sebagai kontraktor EPC sekaligus operator O&M. Ruang lingkup kerja sama mencakup penyusunan studi kelayakan, survei lokasi, hingga penilaian karakteristik limbah yang akan diolah di fasilitas SKI. CCEPC juga menyatakan komitmen untuk mendukung SKI secara eksklusif dalam setiap tender proyek WtE yang diikuti.
CCEPC sendiri merupakan perusahaan rekayasa internasional yang fokus pada teknologi energi ramah lingkungan dan proyek infrastruktur, dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang riset, desain, konstruksi, hingga pengelolaan operasional. Dukungan teknis dari mitra ini menjadi nilai tambah penting bagi SKI dalam mengembangkan proyek WtE yang lebih matang dan terukur.
Manajemen SKI menilai kerja sama ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat komitmen perusahaan di sektor keberlanjutan. Selain proyek WtE, SKI juga terus mengembangkan solusi daur ulang dan ekonomi sirkular. Dengan inisiatif ini, IMPC dinilai memiliki prospek tambahan dari bisnis pengelolaan sampah yang sejalan dengan agenda energi bersih dan pengurangan limbah nasional.
Emiten ketiga yang potensi dapat tender WTE ada MHKI yang diketahui merupakan pengelola limbah di Bantargebang, Bekasi, dan tengah menyiapkan ekspansi pengelolaan sampah ke wilayah lain seperti Lamongan, Jawa Timur.
Emiten ini juga mendapat dukungan pembiayaan dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp4,95 miliar untuk memperkuat operasional dan pengembangan teknologi pengolahan limbah yang lebih modern.
Terakhir, ada OASA yang ikut aktif membangun proyek PLTSa, termasuk di Jakarta Timur yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2026, serta proyek PLTSa Cipeucang di Tangerang Selatan dengan kapasitas 25 MW.
OASA juga telah mengonfirmasi partisipasinya dalam lelang proyek WtE yang digarap Danantara. Perusahaan ini juga menjajaki kerja sama dengan mitra konsorsium, termasuk perusahaan asal China yang memiliki kapasitas pengolahan sampah berskala besar. Selain proyek di Bali, OASA juga terlibat dalam proyek WtE di Tangerang Selatan yang berdiri di atas lahan lebih dari 5 hektare.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(mae/mae)

16 hours ago
2
















































