Jakarta, CNBC Indonesia - Kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Inggris memasuki babak baru melalui skema Economic Growth Partnership (EGP). Perjanjian ini diharapkan bisa dikembangkan lebih jauh untuk mengembangkan kemitraan dalam jangka panjang yang lebih strategis dan menyeluruh.
EGP ditandatangani Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer dan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Januari 2026.
Perjanjian ini menjadi fondasi yang sangat penting untuk mendorong kerja sama ekonomi, perdagangan, investasi, dan inovasi antara Indonesia dan Inggris.
Perjanjian tersebut juga dirancang sebagai kerangka kerja sama yang praktis dan berorientasi pada pelaku usaha, mencakup sektor-sektor prioritas seperti energi bersih, ekonomi digital, keuangan, pendidikan, infrastruktur dan transportasi, pertanian dan pangan, kesehatan dan life sciences, penguatan rantai pasok, serta perdagangan dan pembangunan berkelanjutan.
Foto: Humas Ekon
"Melalui kemitraan tersebut, Indonesia dan Inggris diharapkan dapat memanfaatkan potensi ekonomi masing-masing secara optimal di tengah dinamika perekonomian global," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dikutip Rabu (21/1/2026).
Perjanjian ini menjadi upaya Indonesia dalam mengembangkan kerja sama bilateral yang lebih jauh seperti dengan sejumlah negara.
Indonesia telah memperluas akses pasar global melalui 18 skema perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA).
Beberapa perjanjian utama yang dimiliki Indonesia antara lain ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA), ASEAN-China FTA (ACFTA), ASEAN-Korea FTA (AKFTA), ASEAN-India FTA (AIFTA), hingga Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang merupakan blok dagang terbesar di dunia.
Selain melalui ASEAN, Indonesia juga memiliki kerja sama bilateral seperti Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), Indonesia-Australia CEPA (IA-CEPA), Indonesia-Korea CEPA (IKCEPA), serta Indonesia-Uni Emirat Arab CEPA (IUAECEPA).
Indonesia dan Uni Eropa (UE) juga resmi menyepakati substansi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) pada 23 September 2025 setelah 10 tahun negosiasi.
Bagaimana Posisi Inggris di Indonesia?
Hubungan diplomatik Indonesia dan Inggris secara resmi dimulai pada 1949 atau kini sudah berusia 77 tahun.
Perusahaan-perusahaan Inggris telah lama berkembang pesat di Indonesia, bahkan beberapa di antaranya telah beroperasi selama lebih dari 100 tahun. Di antaranya adalah Standard Chartered, Unilever, hingga Prudential.
Kehadiran mereka mencerminkan kuatnya hubungan ekonomi bilateral Indonesia-Inggris.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) total perdagangan Indonesia- Inggris mencapai US$ 2,68 miliar pada 2025 atau naik 4,35% dibandingkan 2021. Ekspor Indonesia mencapai US$ 1,6 miliar sementara impor menyentuh US$ 1,07 miliar. Artinya, Indonesia masih membukukan surplus sebesar US$ 529,8 juta di 2025
Kendati naik, nilai perdagangan Indonesia-Inggris masih kalah jauh dibandingkan negara Eropa lainnya. Mitra dagang Indonesia terbesar di Eropa adalah Bellanda dengan nilai ekspor mencapai US$ 5,69 miliar.
source on Google

3 hours ago
2

















































