Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
19 February 2026 20:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Memasuki bulan suci Ramadan, rupiah justru terpantau makin melemah terhadap mata uang Arab Saudi, riyal.
Mengacu pada data Refinitiv, pada Kamis (19/2/2026) pukul 14.10 WIB, kurs rupiah berada di level Rp4.497/SAR atau menguat tipis 0,04%. Namun, penguatan ini tidak bisa dilihat hanya dari pergerakan harian.
Dalam 12 bulan terakhir, rupiah tercatat mengalami tren pelemahan dengan total penurunan hingga 3,51%. Pada periode yang sama tahun lalu, tepatnya 19 Februari 2025, rupiah masih berada di level Rp4.354/SAR.
Artinya, dalam setahun terakhir rupiah telah kehilangan nilai sekitar Rp153 per riyal. Kondisi ini membuat biaya perjalanan ke Tanah Suci bagi masyarakat Indonesia, khususnya umat Muslim yang ingin menunaikan umrah, menjadi lebih mahal.
Biaya Umrah Kala Ramadan Ikut Naik
Seperti diketahui, memasuki Ramadan banyak orang yang tertarik untuk menghabiskan ibadah puasanya di tanah suci. Sehingga biasanya, di bulan-bulan Ramadan permintaan untuk umroh oleh warga Indonesia cukup tinggi.
Namun, dengan melemahnya kurs rupiah ini akan membuat biaya yang dibutuhkan menjadi lebih besar ketimbang dengan Ramadan tahun lalu.
Berdasarkan berbagai sumber yang dikumpulkan, berikut ini adalah estimasi perbedaan harga paket umroh di saat bulan Ramadan tahun lalu dengan 2026.
Berdasarkan estimasi tersebut, biaya umrah saat Ramadan pada 2026 terlihat naik di semua durasi paket dibandingkan Ramadan 2025. Kenaikannya bukan lagi ratusan ribu, melainkan sudah masuk hitungan jutaan rupiah.
Untuk paket 9 hari, rentang biaya yang tahun lalu berada di Rp32 juta sampai Rp35 juta kini bergeser menjadi Rp34 juta sampai Rp38 juta. Artinya, jamaah perlu menambah dana sekitar Rp2 juta sampai Rp3 juta untuk durasi yang sama. Jika dihitung persentase, kenaikannya berada di kisaran 6% sampai 9%.
Pada paket 12 hari, pergeserannya lebih terasa. Dari Rp35 juta sampai Rp40 juta pada 2025 menjadi Rp38 juta sampai Rp44 juta pada 2026. Dengan kata lain, ada tambahan biaya sekitar Rp3 juta sampai Rp4 juta, atau setara 10%.
Kenaikan paling besar terlihat pada paket 16 hari. Rentang biaya naik dari Rp38 juta sampai Rp45 juta menjadi Rp42 juta sampai Rp50 juta. Ini berarti ada tambahan sekitar Rp4 juta sampai Rp5 juta, atau kira kira 10% sampai 11% dibanding tahun lalu.
Sementara itu, untuk paket 30 hari yang biasanya dipilih jamaah yang ingin beribadah lebih lama selama Ramadan, rentang biayanya naik dari Rp48 juta sampai Rp70 juta menjadi Rp52 juta sampai Rp75 juta. Kenaikannya sekitar Rp4 juta sampai Rp5 juta, atau sekitar 7% sampai 8%.
Jika ditarik benang merahnya, semakin panjang durasi, semakin besar tambahan dana yang harus disiapkan.
Di tengah kurs rupiah yang melemah terhadap riyal, kenaikan ini membuat kebutuhan biaya umrah Ramadan menjadi lebih besar dibandingkan tahun lalu, terutama bagi mereka yang menargetkan perjalanan dengan durasi lebih panjang.
Biaya Oleh-Oleh Makin Mahal
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap riyal juga berpengaruh langsung terhadap kenaikan harga barang yang biasa dibeli oleh jamaah Indonesia sebagai oleh-oleh.
Berikut ini beberapa contoh barang yang sering dibeli oleh jamaah Indonesia, namun kini mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak.
Contohnya, kurma Ajwa seharga 60 riyal kini setara Rp269,8 ribu naik dari Rp261,2 ribu.
Air zamzam kemasan 5 liter seharga 12,5 riyal kini menjadi sekitar Rp56,2 ribu, dari sebelumnya Rp54,4 ribu. Sementara parfum Arab yang seharga 279 riyal ikut naik dari sekitar Rp1,21 juta menjadi Rp1,25 juta.
Artinya, semakin banyak oleh oleh yang diborong, semakin besar tambahan dana yang perlu disiapkan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

1 hour ago
2
















































