Rupiah Butuh Diselamatkan, BI Ogah Pangkas Suku Bunga?

3 hours ago 3

Polling CNBC Indonesia

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

18 February 2026 14:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI), pelaku pasar memperkirakan BI masih akan menahan suku bunga acuannya pada pertemuan kali ini.

BI akan menggelar RDG yang kedua kalinya pada 2026 ini yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu-Kamis (18-19 Februari 2026).

Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 11 lembaga/institusi semuanya solid dengan seluruhnya memproyeksikan BI akan kembali menahan suku bunga di level 4,75% pada pertemuan RDG kali ini.

Pada RDG bulan lalu, Dewan Gubernur BI kembali memutukan untuk kembali mempertahankan BI Rate di level 4,75%, dengan deposit facility 3,75% dan lending facility 5,50%. Keputusan tersebut menjadi kali keempat BI menahan suku bunga sejak pemangkasan terakhir pada RDG September 2025.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 20 dan 21 Januari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate tetap sebesar 4,75%," ujar Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers yang diadakan secara daring pada Rabu (21/1/2026).

Perry mengatakan keputusan tersebut konsisten dengan fokus kebijakan saat ini pada upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ke depan, BI juga menegaskan akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh, serta tetap mencermati ruang penurunan BI Rate lebih lanjut.

Pertimbangan itu mengacu pada prakiraan inflasi 2026-2027 yang tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1%, sekaligus kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Sementara itu, kondisi nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Secara month to date (mtd) hingga Rabu (18/2/2026) pukul 11.20 WIB, rupiah melemah 0,60% atau terdepresiasi ke level Rp16.880/US$.

Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menilai keputusan menahan suku bunga menjadi opsi paling realistis di tengah kondisi pasar global yang belum stabil.

"Kemungkinan BI menahan suku bunga ini sejalan dengan upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian pasar global dan meningkatnya tensi geopolitik," ujar Juniman kepada CNBC Indonesia pada Rabu (18/2/2026).

Meski begitu, Juniman menilai BI masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga ke depan, mengingat tekanan inflasi domestik dinilai relatif rendah.

"Inflasi Januari 2026 tercatat 3,55% secara tahunan (year on year/yoy), naik dari 2,92% pada bulan sebelumnya. Di sisi lain, pelonggaran suku bunga juga dapat menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi domestik," lanjut Juniman.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan pada Januari 2026 mencapai 3,55%. Namun secara bulanan (month to month/mtm), Indonesia justru mengalami deflasi sebesar 0,15%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan perbedaan arah inflasi tersebut disebabkan oleh low base effect yang terjadi pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Seperti diketahui, pada Januari dan Februari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik. Kebijakan tersebut sukses Indeks Harga Konsumen (IHK) pada awal 2025 dan menyebabkan deflasi di dua bulan pertama tahun 2025.

"Inflasi yang tinggi di Januari 2026 secara year on year dipengaruhi adanya low base effect pada Januari dan Februari 2025 pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik menekan IHK Januari dan Februari serta mendorong adanya penurunan inflasi Januari dan juga Februari 2025 menyebabkan deflasi di kedua bulan tersebut akibat penurunan diskon tarif listrik," papar Ateng, dalam rilis data BPS, Senin (2/2/2026).

Sementara itu, Ezaridho Ibnutama, Analis NH Korindo Sekuritas, menilai arah kebijakan BI kali ini akan sangat bergantung pada prioritas pemerintah dalam menjaga stabilitas rupiah.

Karena itu, Ezaridho memperkirakan BI akan menahan suku bunga pada RDG Februari. Namun, pada Maret peluang pemangkasan suku bunga mulai terbuka, meski tetap akan sangat bergantung pada dinamika pasar ke depan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |