Jakarta, CNBC Indonesia - Produksi batu bara nasional pada tahun 2026 rencananya bakal dipangkas kurang lebih menjadi 600 juta ton. Jumlah ini mengalami penurunan sekitar 190 juta ton dibandingkan realisasi produksi 2025 sebesar 790 juta ton.
Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy menyadari keputusan tersebut dilakukan guna mendongkrak kenaikan harga batu bara di pasar global. Namun, menurutnya kenaikan harga batu bara tidak serta merta ditentukan oleh pasokan dari Indonesia.
"Memang penurunan supply batubara Indonesia ke pasar internasional diduga dapat menaikkan harga. Namun demikian, faktor demand atau permintaan dari negara importir batubara besar seperti China dan India juga sangat dapat mempengaruhi perubahan harga," kata Widhy kepada CNBC Indonesia, Senin (12/1/2026).
Ia menambahkan pada tahun 2025, volume impor batu bara oleh China mengalami penurunan yang disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain turunnya industri domestik untuk beberapa saat ketika terjadi perang tarif antara China dengan AS, serta akibat dari meningkatnya produksi batu bara dalam negeri.
Kondisi tersebut berdampak kepada turunnya harga batu bara secara signifikan. Mengingat China merupakan salah satu negara utama pengimpor batu bara dari pasar internasional, selain negara India.
"Jadi seandainya di tahun 2026 ini China dan India kembali menurunkan impor volume batu baranya dari pasar internasional, maka bukan tidak mungkin penurunan volume produksi batu bara dari Indonesia juga tidak banyak mempengaruhi untuk kenaikan harga batu bara di pasar internasional," kata dia.
Menurut Widhy, kemungkinan penurunan impor batu bara oleh China dan India antara lain dapat disebabkan berbagai faktor seperti meningkatnya produksi dalam negeri, dan mengurangi penggunaan batu bara sebagai sumber energi dengan meningkatkan produksi listrik dari sumber energi lain seperti energi baru terbarukan (EBT).
"Kemungkinan mereka mengalihkan impor batu baranya dari negara produsen batu bara lain selain Indonesia, seperti misalnya dari Rusia, Mongolia, Australia, maupun negara-negara eksportir batu bara lainnya," katanya.
(ven)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1

















































