Jakarta, CNBC Indonesia - Swiss merupakan salah satu negara dengan tarif pajak yang relatif tinggi di dunia. Salah satu pungutan yang berlaku di negara tersebut adalah pajak gereja atau church tax.
Penerapan pajak gereja bahkan membuat sebagian warga akhirnya memutuskan untuk menjadi ateis demi menghindari pungutan tersebut.
Besaran pajak tersebut berbeda-beda tergantung kanton tempat tinggal. Pajak ini dikenakan kepada setiap orang yang terdaftar sebagai anggota gereja yang diakui negara, dengan tarif berkisar 1% hingga 3%.
Satu-satunya cara untuk tidak membayar pajak tersebut adalah dengan keluar dari gereja.
Menurut laporan media lokal Le News, pada 2023 ada 67.497 orang meninggalkan Gereja Katolik di Swiss. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibanding 2022. Untuk gereja Protestan, sekitar 39.517 orang secara resmi meninggalkan gereja pada tahun yang sama. Jika ditotal, ada sekitar 100.000 orang yang meninggalkan gereja pada 2023.
Data dari Institut Sosiologi Pastoral Swiss (SPI) menunjukkan provinsi dengan aksi mundur dari gereja tertinggi berada di Basel-Stadt dengan persentase 4,5%. Provinsi yang terletak di Swiss utara tersebut memiliki sistem "berhenti dari keanggotaan gereja" yang memungkinkan orang tidak membayar pajak gereja.
Meski data resmi tidak selalu menyebutkan alasan kenapa orang meninggalkan gereja, statistik menunjukkan di provinsi di mana ada pajak gereja, tingkat orang yang meninggalkan Kristus cenderung lebih tinggi, menurut laporan Religion Watch.
Selain pajak, alasan lainnya yang mendorong orang meninggalkan gereja termasuk sekularisme hingga skandal di lingkungan rumah ibadah.
Survei dan data demografis menunjukkan semakin banyak warga Swiss yang mengidentifikasi diri sebagai ateis (sekitar ~34% dari populasi pada 2022). Angka ini menunjukkan banyak orang benar-benar melepaskan diri dari agama, terlepas dari pajak atau tidak.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

5 hours ago
2
















































