Pulau Mungil 500 Penduduk Jadi Rebutan, Ternyata Surga Kasino-Bordil

8 hours ago 10

Jakarta, CNBC Indonesia - Pulau bernama Migingo yang terletak di kawasan perbatasan Kenya dan Uganda mendadak menyita perhatian dunia. Selain dihuni ratusan warga, lokasinya yang berada di perairan dengan sumber daya ikan melimpah membuat pulau mungil tersebut menjadi objek sengketa berkepanjangan antara dua negara tetangga itu.

Pulau berukuran sangat kecil di tengah Danau Victoria ini memiliki luas hanya sekitar 2.000 meter persegi-atau kurang dari setengah lapangan sepak bola. Kendati demikian, wilayah ini dihuni oleh lebih dari 500 orang, menjadikannya salah satu kawasan dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di dunia.

Mengutip Al Jazeera, pulau yang awalnya hanya berupa gundukan batu karang kecil tersebut kini telah berubah wujud, dipenuhi bangunan-bangunan sederhana berdinding seng. Di area yang sangat terbatas itu berdiri rumah tinggal, warung, bar, rumah bordil, hingga kasino terbuka yang riuh melayani para nelayan dan pendatang.

Emmanuel Kisiangani, seorang peneliti senior di kantor Institut Studi Keamanan Pretoria, menjelaskan bahwa Migingo dulunya tidak lebih dari sekadar batu yang menjorok keluar dari air sebelum permukaan Danau Victoria mulai surut pada awal 1990-an.

Hasil tangkapan ikan di komunitas nelayan sekitar Danau Victoria merosot drastis selama bertahun-tahun akibat penangkapan ikan berlebihan (overfishing) serta invasi tanaman eceng gondok yang menghambat jalur transportasi dan akses pelabuhan. Kendati demikian, spesies seperti ikan Nil-yang kerap disebut sebagai ikan barramundi Afrika-masih

melimpah ruah di perairan dalam di sekitar Migingo, menjadikan pulau karang ini sebagai pusat ekonomi perikanan yang sangat bernilai.

Sengketa Dua Negara: Kenya vs Uganda

Meski secara fisik sangat kecil, Migingo terbukti mampu menyulut ketegangan politik bertahun-tahun. Kenya dan Uganda sama-sama ngotot mengklaim kepemilikan pulau ini. Kedua negara bahkan sempat membentuk komite bersama pada 2016 guna merampungkan batas wilayah, namun jalan buntu tak terelakkan lantaran masing-masing pihak merujuk pada peta kolonial era 1920-an yang kerap saling bertentangan.

"Pulau ini sebenarnya tanah tak bertuan," ungkap Eddison Ouma, seorang nelayan asal Uganda.

Tidak sedikit kalangan pengamat internasional yang menjuluki gesekan teritorial ini sebagai "perang terkecil di Afrika".

Di tengah himpitan ruang hidup yang sangat sempit dan ketidakpastian hukum, denyut kehidupan di Migingo terus berputar. Para nelayan datang dan pergi membawa hasil tangkapan yang bernilai tinggi di pasar global. Namun di balik geliat ekonomi tersebut, infrastruktur dasar yang sangat minim, sanitasi buruk, serta kekosongan hukum yang jelas menjadi realitas pahit sehari-hari.

Didorong oleh masifnya ekspor ke Uni Eropa serta lonjakan permintaan ikan barramundi di pasar Asia, komoditas ikan berukuran besar ini menjelma menjadi sumber devisa bernilai jutaan dolar. Situasi ini memicu Uganda mengerahkan pasukan polisi bersenjata dan marinir ke Migingo untuk memungut pajak dari para nelayan.

Langkah sepihak tersebut langsung memicu protes keras dari nelayan Kenya yang mengeluhkan arogansi aparat Uganda. Mereka kerap dituding melakukan pelecehan dengan dalih penangkapan ikan ilegal di perairan teritorial Uganda. Sebagai bentuk perlindungan, pemerintah Kenya sempat mengerahkan armada marinirnya ke Migingo, sebuah langkah provokatif yang nyaris menyulut bentrokan terbuka antar-militer kedua negara.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |