Ramai-Ramai Pengusaha Teriak Minta AI Direm, Ternyata Ini Alasannya

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kian masif sudah membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat, mulai dari gelombang PHK yang terus terjadi, ancaman profesi manusia digantikan mesin, penyebaran disinformasi dan penipuan yang makin marak, hingga terbaru insiden AI canggih yang 'kabur' dari laboratorium pengujian dan membobol layanan internet.

Beberapa saat lalu, seorang mantan peneliti AI di Anthropic, Jacob Coxon, viral di internet lantaran blak-blakan menyebut bahaya besar yang bisa mengarah ke 'kepunahan' manusia dalam dekade ke depan. Ia bahkan menolak menerima 'jatah' saham dari Anthropic karena tak mau membuat perusahaan itu makin bernilai.

Tak berselang lama dari pernyataan kontroversialnya, CEO Anthropic, Dario Amodei, merilis esai panjang yang meneriakkan pentingnya mengerem laju pengembangan AI. Ia mendesak perusahaan-perusahaan pengembang AI untuk memperlambat peningkatan kemampuan AI di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap penyalahgunaan teknologi tersebut.

Ia memaparkan kerangka kerja tiga langkah yang bertujuan untuk mengatur kecepatan pengembangan sekaligus menciptakan lebih banyak waktu guna mengelola risikonya.

"Kita harus memperlambat kecepatan peningkatan kemampuan model AI. Kemajuan akan tetap terlihat cepat, dan kita harus memanfaatkan waktu yang kita peroleh dengan bijak," tulis Amodei dalam sebuah esai panjang yang dibagikan di platform X pada Sabtu (12/9) waktu setempat.

Rencana tiga langkah Amodei menyerukan penempatan evaluator independen internal dengan akses seperti karyawan untuk memverifikasi praktik keselamatan, koordinasi antarperusahaan AI terdepan untuk menetapkan standar keselamatan dan membatasi pengembangan AI yang tak terkendali, serta kerja sama internasional untuk mengelola risiko AI.

Pernyataan Amodei diamini pemimpin-pemimpin AI lainnya, yakni Sam Altman dari OpenAI, Elon Musk, dan xAI, hingga Satya Nadella dari Microsoft.

Respons Elon Musk, Sam Altman, Satya Nadella

"Dario benar," kata Elon Musk, membalas unggahan X Amodei yang membagikan esai panjangnya.

Lebih dalam, Altman membagikan unggahan yang lebih panjang dan komprehensif untuk mendukung pernyataan Amodei.

"Dunia berhak mendapat keyakinan bahwa perusahaan-perusahaan AS yang mengembangkan AI dengan kemampuan kian pesat akan bertindak secara bertanggung jawab, terutama karena laju kemajuannya makin curam," tulis Altman dalam unggahan X-nya.

"Ketika kita berbicara tentang "penentuan laju" (pacing), yang kami maksud bukanlah "penghentian". Kemajuan telah berlangsung cepat dan akan terus berlanjut. Namun, lajunya harus lebih lambat dari yang seharusnya; intervensi seperti kasus keselamatan dan pemantauan memerlukan biaya yang tidak sedikit," ia menambahkan.

Terpisah, Nadella juga membuat unggahan panjang di X yang turut mendukung ajakan Amodei untuk memprioritaskan keselamatan dalam peningkatan kemampuan AI.

"Setiap upaya mengejar superinteligensi harus berakar pada prinsip inti bahwa jika AI yang kita bangun tidak membantu umat manusia dan berada di bawah kendali manusia, maka AI tersebut tidak layak untuk dikejar," tulis Nadella dalam unggahan X-nya.

Nadella lebih menekankan pada pola pengembangan AI yang bermanfaat dan tidak boleh hanya dinikmati segelintir orang. Untuk itu, ia mengajak kolaborasi yang lebih solid antar perusahaan pengembang AI.

"Kuncinya adalah hal ini tidak boleh dikendalikan oleh segelintir entitas saja, melainkan harus memiliki representasi yang luas di seluruh ekosistem, negara, dan bidang, termasuk akademisi. Inilah pendekatan yang kami ambil: akses dan pilihan yang luas di setiap lapisan tumpukan AI (AI stack), kendali perusahaan atas siklus pembelajaran dan model, serta "Kode Etik" yang mendasari model MAI pihak pertama kami sendiri yang akan kami publikasikan besok untuk konsultasi publik," ia menjelaskan.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |