Jakarta, CNBC Indonesia - Masifnya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya berisiko menghilangkan lapangan kerja, tetapi juga berdampak pada penurunan gaji karyawan.
Biro Statistik Tenaga Kerja (Bureau of Labor Statistics/BLS) Amerika Serikat (AS) melaporkan bahwa upah dan gaji yang telah disesuaikan dengan inflasi mengalami penurunan sebesar 0,4% secara tahunan (year-on-year) hingga Juni lalu, mengutip CNBC International, Senin (14/9/2026).
BLS juga mencatat bahwa pangsa tenaga kerja dari output atau pendapatan sektor bisnis nonpertanian berada di level 52,8% pada kuartal kedua 2026. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak kuartal pertama tahun 1947.
Kendati demikian, CNBC International menilai masih terlalu dini untuk memastikan apakah AI menjadi pemicu utama lambatnya pertumbuhan gaji atau tekanan upah saat ini. Faktor lain, seperti dinamika pertumbuhan upah era pandemi COVID-19 serta gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor teknologi bergaji tinggi, turut memengaruhi kondisi tersebut.
Namun, sejumlah riset telah mengaitkan fenomena ini dengan proses otomatisasi yang telah berlangsung selama beberapa dekade dan kini semakin terakselerasi oleh kehadiran AI.
Studi yang dilakukan oleh Kepala Ekonom Apollo Global Management, Torsten Slok, bersama rekannya, Sania Edlich, menemukan bahwa pekerja pada sektor yang sangat terpapar AI mengalami kelambatan pertumbuhan upah sebesar 6,7% setelah tahun 2023, jika dibandingkan dengan mereka yang pekerjaannya lebih sedikit terpapar.
Menariknya, studi tersebut tidak menemukan dampak signifikan terhadap jumlah lapangan kerja itu sendiri. Menurut para peneliti, hal ini terjadi karena perusahaan memilih meraup peningkatan produktivitas dari AI melalui penekanan laju kenaikan gaji alih-alih melakukan pengurangan karyawan.
Di sisi lain, sejumlah ahli pasar tenaga kerja menilai temuan tersebut perlu disikapi secara hati-hati karena ketersediaan data yang masih sangat terbatas.
Ekonom Senior di Economic Policy Institute, Ben Zipperer, tidak menampik bahwa AI dapat memengaruhi permintaan terhadap jenis pekerjaan tertentu. Namun, ia mengingatkan agar tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa dinamika tersebut langsung menekan upah secara masif.
Menurutnya, sampel yang digunakan dalam studi Apollo terlalu kecil, sehingga pendekatan yang dipakai berpotensi melebih-lebihkan dampak negatif AI.
"Hal itu membuat pekerjaan yang sangat terpapar AI terlihat lebih buruk, meski sebagian kerugian terukur itu hanya pengalihan atau peningkatan pendapatan bagi sektor pekerjaan lain," ucap Zipperer.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
2
















































