Putin Pasang Badan Lindungi Armada Bayangan Rusia, Warning Keras NATO

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di jalur maritim global meningkat setelah seorang pejabat senior Rusia menyatakan bahwa Moskow siap mengerahkan angkatan lautnya untuk melindungi kapal-kapal yang terkait dengan Rusia dari potensi penyitaan oleh negara-negara Eropa. Langkah ini memicu kekhawatiran akan adanya aksi balasan terhadap pelayaran Eropa seiring dengan meningkatnya tekanan Barat terhadap armada bayangan atau shadow fleet milik Kremlin.

Ketua Dewan Maritim Rusia sekaligus mantan Direktur FSB, Nikolai Patrushev, menegaskan pada Selasa (17/2/2026) waktu setempat bahwa angkatan laut negara tersebut harus dalam posisi siap sedia. Menurutnya, militer harus mampu menghadapi apa yang ia gambarkan sebagai tindakan pembajakan oleh pihak Barat.

"Jika situasi ini tidak dapat diselesaikan secara damai, angkatan laut akan menembus blokade apapun dan bergerak untuk melenyapkannya. Jangan lupa bahwa banyak kapal berlayar di laut dengan bendera Eropa, kami pun mungkin akan menaruh minat pada apa yang mereka bawa dan ke mana tujuan mereka," ujar Patrushev kepada surat kabar Rusia, Argumenty i Fakty.

Patrushev menambahkan bahwa setiap upaya untuk memberlakukan blokade maritim terhadap Rusia adalah tindakan ilegal menurut hukum internasional. Ia juga mengklaim bahwa penggunaan istilah armada bayangan oleh Uni Eropa tidak memiliki dasar hukum yang kuat dalam regulasi maritim dunia.

Pernyataan keras ini muncul saat pejabat senior Ukraina dan Rusia bertemu di Jenewa untuk putaran terbaru pembicaraan tingkat tinggi yang ditengahi oleh pemerintahan Trump. Pertemuan ini berlangsung menjelang peringatan empat tahun invasi besar-besaran Moskow ke Ukraina yang semakin mendekat.

Istilah armada bayangan sendiri merujuk pada sekitar 1.500 kapal tanker minyak tua atau yang regulasinya minim, beroperasi di bawah struktur kepemilikan yang tidak jelas. Kapal-kapal ini digunakan untuk membantu Rusia mengekspor minyak mentah ke pembeli seperti China dan India guna menghindari sanksi Barat, di mana lebih dari 600 kapal telah menjadi target sanksi Uni Eropa, Inggris, dan AS.

Meskipun tekanan politik meningkat, pemerintah negara-negara Eropa masih kesulitan menyusun mekanisme hukum yang koheren untuk menghentikan atau menyita kapal-kapal tersebut secara fisik. Sejauh ini, mereka masih mengandalkan sanksi, pembatasan asuransi, dan inspeksi, namun sekutu Barat memperingatkan bahwa kapal tanpa dokumentasi lengkap dapat diperlakukan sebagai kapal tanpa kewarganegaraan.

Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, dilaporkan telah bertemu dengan rekan-rekan Eropanya di sela-sela Konferensi Keamanan Munich akhir pekan lalu. Pertemuan tersebut secara khusus membahas kemungkinan langkah-langkah untuk menyita kapal tanker yang terkait dengan armada bayangan Rusia tersebut.

Pada awal tahun ini, Angkatan Laut Prancis sempat mencegat sebuah kapal tanker yang diduga beroperasi dalam armada bayangan sebelum akhirnya mengizinkannya melanjutkan perjalanan. Sementara itu, Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir telah bergerak lebih jauh dengan melakukan intersepsi fisik dan menyita beberapa tanker terkait armada bayangan yang membawa minyak dari Rusia, Venezuela, dan Iran.

(tps/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |