Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
03 April 2026 13:00
Jakarta, CNBC Indonesia- Di ujung timur Flores, saat matahari jatuh perlahan ke Laut Sawu, kota kecil Larantuka berubah menjadi panggung sunyi yang bergerak.
Lilin menyala sepanjang jalan. Lonceng berdentang pelan. Ribuan orang berjalan tanpa suara, mengikuti dua patung tua Tuan Ma dan Tuan Ana yang diarak dengan ritme lambat, seperti waktu yang ditarik mundur lima abad ke belakang.
Ritual ini dikenal sebagai Semana Santa.
Tradisi yang lahir dari hasil perjalanan panjang lintas samudra, politik iman, dan perdagangan global abad ke-16.
Semana Santa berakar dari Eropa Katolik, terutama Spanyol dan Portugal. Pada abad ke-16, setelah gelombang Reformasi Protestan mengguncang Eropa, Gereja Katolik merespons melalui gerakan Kontra-Reformasi.
Melansir EBSCO, maasalah yang dihadapi saat itu sederhana, ajaran sulit dipahami oleh publik luas. Tingkat literasi rendah, akses ke kitab terbatas. Gereja lalu mengubah pendekatan.
Kisah sengsara Yesus dipindahkan ke ruang terbuka.
Prosesi jalanan menjadi alat komunikasi dengan patung dibuat menyerupai manusia nyata, musik dan urutan peristiwa disusun seperti narasi visual.
Setiap elemen memiliki fungsi seperti mengajarkan, menggugah, dan mengikat umat dalam pengalaman kolektif.
Model ini berkembang kuat di wilayah seperti Andalusia, Spanyol selatan. Kota seperti Sevilla dan Málaga menjadi referensi utama.
Foto: Smart Insider
Samana Santa Madrid
Struktur dasarnya tetap sama sampai hari ini, kelompok persaudaraan, patung (pasos), prosesi malam, dan rute yang sudah ditentukan.
Samana Santa di Larantuka
Flores Timur punya satu fakta demografis yang membentuk seluruh lanskap ritual ini. Mayoritas penduduknya beragama Katolik, dengan konsentrasi kuat di Larantuka sebagai ibu kota kabupaten.
Semana Santa sendiri berarti Pekan Suci istilah yang berasal dari bahasa Portugis. Di Larantuka, ini dijalankan sebagai rangkaian disiplin yang dimulai jauh sebelum Jumat Agung.
Dimulai sejak Rabu Abu. Umat menjalani masa puasa selama 40 hari. doa bersama, jalan salib, dan tradisi mengaji semana di Kapela Tuan Ma setiap akhir pekan. Ini menjadi fase persiapan sebelum masuk ke inti prosesi.
Melansir Exotic East Nusa Tenggara, Prosesi berjalan selama satu pekan dan mencapai puncak pada Jumat Agung. Siang hari, arak-arakan dimulai dari kapela menuju Katedral Reinha Rosari. Malamnya, prosesi keluar kembali dan mengelilingi kota lewat jalur yang sama setiap tahun.
Di sepanjang rute, ada delapan armida titik perhentian yang sudah ditetapkan. Jumlah ini mengikuti urutan kisah sengsara Yesus. Setiap armida mewakili satu fase, dari pengutusan hingga penurunan dari salib.
Pengelolaannya dipegang oleh suku-suku tertentu. Mulawato di Pantai Besar membuka rangkaian. Ama Kelen, Kapten Jentera, Riberu, Sau (Diaz), hingga keluarga Diaz Viera de Godinho mengambil peran di fase berikutnya. Perhentian terakhir berada di Kapela Tuan Ana yang dijaga Suku Amaleken Lewonama.
Setiap kali prosesi berhenti, nyanyian ratapan dilantunkan. Lamentasi dari Kitab Yeremia, Popule Meus, dan O Vos Omnes dinyanyikan dalam Latin dan Portugis lama. Ritmenya lambat, diulang, dan menjaga suasana tetap hening meski ribuan orang hadir.
Di barisan depan, simbol sengsara dibawa dengan urutan tetap, salib, paku, mahkota duri, tombak, hingga lentera. Tanpa ada perubahan posisi.
Dari sisi sejarah lokal, ada satu cerita yang terus beredar. Seorang pemuda bernama Resiona menemukan patung perempuan di pesisir Larantuka. Patung itu kemudian disimpan di korke, rumah adat, dan diperlakukan sebagai benda sakral. Ketika misionaris datang, patung tersebut diidentifikasi secara simbolis sebagai Bunda Maria.
Catatan awal prosesi sudah muncul sejak abad ke-17, sekitar 1617. Detail kedatangan patung ini tidak pernah dibuka sepenuhnya.
Dalam struktur adat Larantuka, informasi tersebut masuk kategori yang dijaga dan tidak dibicarakan bebas.
Hari ini, Semana Santa di Larantuka berdiri sebagai salah satu tradisi Katolik paling unik di dunia. Ia membawa jejak Eropa abad pertengahan, jalur rempah Asia, dan kosmologi lokal Flores dalam satu ruang yang sama.
Prosesi ini tidak berubah menjadi pertunjukan, Ia tetap dijaga dalam ritme lambat, dengan disiplin simbolik yang ketat.
Di jalanan Larantuka, sejarah berjalan, menyala dalam lilin, dan berulang setiap tahunnya memperingati kisah sengsara, wafat dan kebangitan Yesus Kristus.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

4 hours ago
3
















































