Peta Risiko Investasi Global: Kanada Paling Aman, Bagaimana RI dan AS?

4 hours ago 5

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

27 March 2026 12:40

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah volatilitas geopolitik, lonjakan suku bunga, dan pergeseran arus modal, tiap negara kini hadir dengan profil risiko dan potensi imbal hasil yang sangat berbeda-memaksa pelaku pasar untuk semakin selektif dalam menempatkan dana.

Perbedaan ini tergambar jelas dalam peta terbaru yang diestimasikan oleh Aswath Damodaran, Profesor NYU.

Damodaran mengukur equity risk premium (ERP) atau tambahan imbal hasil yang diminta investor untuk menanamkan modal di suatu negara. Semakin tinggi angkanya, semakin besar risiko yang dipersepsikan.

Sebaliknya, negara dengan stabilitas ekonomi dan politik yang kuat cenderung memiliki premi risiko yang lebih rendah, sejalan dengan tingkat imbal hasil yang ditawarkan.

Kesenjangan Risiko Global: Dari 4% hingga 30%

Data menunjukkan adanya jurang besar dalam persepsi risiko antarnegara. Negara-negara dengan kondisi ekstrem seperti perang, terkena sanksi, dan kolaps ekonomi menempati posisi paling berisiko, dengan ERP menembus angka sekitar 30%.

Negara seperti Belarus, Lebanon, Sudan, dan Venezuela masuk dalam kategori ini, mencerminkan ketidakpastian tinggi yang membuat investor hanya bersedia masuk jika imbal hasilnya sangat besar.

Sementara itu, negara-negara maju seperti Kanada, Jerman, Swiss, Singapura, hingga Swedia berada di spektrum sebaliknya, dengan premi risiko hanya sekitar 4-5%.

Stabilitas institusi, ekonomi, dan kebijakan menjadi faktor utama yang membuat negara-negara ini dianggap sebagai "safe haven" oleh investor global.

Eropa Tak Seragam, AS Mulai Naik Tipis

Menariknya, bahkan di kawasan maju seperti Eropa, risiko investasi tidak merata.

Negara-negara Eropa Selatan seperti Spanyol, Portugal, Italia, hingga Yunani memiliki premi risiko lebih tinggi dibandingkan Eropa Barat atau Utara, sebagian besar karena dampak krisis utang 2009 yang masih terasa hingga kini.

Sementara itu, Amerika Serikat mencatat premi risiko sekitar 4,5%, sedikit lebih tinggi dibanding negara maju lainnya. Hal ini mencerminkan meningkatnya volatilitas pasar dan dinamika politik domestik yang lebih kompleks dalam beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, AS tetap masuk dalam kelompok negara dengan risiko rendah secara global.

Posisi Indonesia: Di Antara Peluang dan Risiko Emerging Markets

Dalam peta global tersebut, Indonesia berada dalam kategori emerging markets. Emerging markets adalah negara dengan pasar modal yang berkembang dan likuid, serta lebih banyak menjadi tujuan aliran modal global. Sehingga secara umum memiliki premi risiko lebih tinggi dibanding negara maju, namun lebih rendah dibanding negara konflik.

Jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara, Indonesia berada di kelompok menengah. Negara ini tidak seaman Singapura yang mendekati level negara maju, tetapi juga tidak termasuk kategori berisiko ekstrem.

Secara umum, kawasan Asia Tenggara menunjukkan variasi yang cukup lebar:

Singapura memiliki tingkat resiko yang sangat rendah bahkan menandingi negara-negara Eropa. Sementara Indonesia dan beberapa negara berkembang lainnya berada pada posisi menengah.

Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih dipandang sebagai pasar dengan potensi pertumbuhan. Namun Indonesia tetap harus memperbaiki stabilitas ekonomi, reformasi kebijakan, dan kepastian investasi untuk menekan persepsi risiko di mata investor global.

Walaupun tidak ada negara ASEAN yang masuk kategori risiko ekstrem seperti kawasan konflik, Kamboja, Laos, dan Myanmar menjadi negara dengan ERP tertinggi di kawasan, yaitu di atas 10%.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |