Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), Benjie Yap mengaku optimis bisa mendorong pertumbuhan bisnis di 2026.
Untuk memperkuat kinerja di 2026, Benjie mengatakan bahwa pihaknya akan terus disiplin dalam memperkuat kualitas produk dan memacu penjualan lewat kanal digital. Dengan begitu diharapkan volume penjualan perusahaan bisa terus meningkat hingga melampaui tren pasar.
"Kami memulai 2026 dengan keyakinan pada fondasi yang telah kami bangun dan fokus yang jelas untuk memberikan dampak. Prioritas kami adalah tetap disiplin, terus meningkatkan kinerja merek-merek kami, dan memperkuat cara kami menjalankan strategi di setiap kanal. Prioritas kami adalah untuk terus tumbuh secara berkelanjutan, bertanggung jawab, dan memberikan nilai nyata bagi masyarakat Indonesia di 2026 dan tahun-tahun mendatang," jelas Benjie dalamWawancara Eksklusif Virtual Laporan Kinerja Keuangan, Kamis (12/2/2026).
Benjie memperkirakan pertumbuhan pada kuartal pertama 2026 sendiri akan melambat sementara waktu, akibat perayaan Idul Fitri yang lebih awal dan memindahkan pola belanja konsumen ke kuartal sebelumnya.
Kendati demikian menurutnya, dampak ini akan bersifat musiman dan tidak mencerminkan momentum bisnis yang mendasar. Meskipun ada efek secara jangka pendek, Perseroan tetap yakin dengan arah perkembangan dan perbaikan struktural yang telah diimplementasikan sepanjang 2025.
Benji juga menyebut sejumlah rencana yang disiapkan sepanjang 2026 dan akan mendorong penjualan digital untuk menyesuaikan kondisi pasar.
"Kami akan konsisten dan memprioritaskan area dan nilai jangka panjang," tegas Benjie.
Untuk diketahui, pada tahun 2025, UNVR berhasil mencatatkan pendapatan bersih mencapai Rp31,9 triliun, atau meningkat 4,3% secara tahunan. Sementara itu, laba bruto untuk operasi yang masih berjalan sebesar 46,9%, melemah sebesar 60 basis poin dibandingkan tahun lalu dikarenakan biaya transformasi yang lebih tinggi. Di luar biaya transformasi, laba bruto meningkat sebesar 46 basis poin.
Sementara laba sebelum pajak untuk operasi yang masih berjalan meningkat menjadi 14,1%, peningkatan sebesar 183 basis poin dibandingkan tahun sebelumnya. Di luar biaya transformasi, laba sebelum pajak adalah 16,3%. Di sisi lain laba bersih dari operasi yang masih berjalan tercatat sebesar Rp3,5 triliun, atau meningkat 21,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Di luar biaya transformasi, laba bersih tercatat Rp4,1 triliun. Yang menarik, jika mengikutsertakan hasil discontinued operations / operasi yang dihentikan dan dari laba bersih penjualan Es Krim, laba bersih Perseroan adalah sebesar Rp7,6 triliun untuk tahun buku 2025. Free cash flow sebesar Rp4,9 triliun, 1,7x kali lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, dengan utang nol.
(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
1
















































