Pergerakan Kripto Jelang Keputusan The Fed: Kebakaran di Zona Merah

3 hours ago 3

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

16 September 2026 12:20

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar aset kripto bergerak di zona merah pada perdagangan Rabu (16/9/2026), menjelang pengumuman kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed, pada Kamis dini hari waktu Indonesia.

Berdasarkan data terakhir, Bitcoin melemah 2,66% dalam 24 jam terakhir ke posisi US$75.718,75. Dalam sepekan, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar tersebut telah terkoreksi 3,70%.

Ethereum turun lebih dalam sebesar 4,18% dalam sehari menjadi US$2.399,53. Tekanan paling besar dialami XRP yang anjlok 8,69%, disusul Solana sebesar 4,57% dan Dogecoin sebesar 3,95%.

Kenaikan Suku Bunga Sudah Masuk Harga?

Tekanan terhadap kripto terjadi ketika pasar hampir sepenuhnya memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan tersebut telah mencapai sekitar 92,5%, melonjak dari 59,4% sepekan sebelumnya.

Jika terealisasi, rentang federal funds rate akan naik dari 3,50%-3,75% menjadi 3,75%-4,00%. Tingginya probabilitas tersebut menunjukkan kenaikan 25 basis poin sudah cukup banyak diperhitungkan atau priced in oleh pasar.

Artinya, keputusan menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi belum tentu langsung membuat Bitcoin kembali jatuh. Sebagian tekanan jual kemungkinan telah terjadi sebelum pengumuman ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Pasar bahkan berpeluang mengalami pola sell the rumor, buy the fact. Bitcoin dilepas sebelum keputusan karena kekhawatiran kenaikan bunga, tetapi kembali dibeli apabila kebijakan yang diumumkan ternyata tidak lebih buruk dibandingkan perkiraan.

Karena itu, fokus investor akan beralih kepada proyeksi suku bunga dalam dot plot serta pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh.

Jika The Fed tidak membuka peluang pengetatan lanjutan yang agresif, Bitcoin berpeluang mengalami relief rally. Sebaliknya, sinyal suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama dapat kembali menekan pasar.

Yield Treasury Tertinggi Sejak 2007

Sentimen kripto semakin tertekan setelah yield US Treasury tenor 10 tahun sempat mencapai sekitar 5,04%, tertinggi sejak 2007 atau dalam 19 tahun terakhir.

Yield sebesar 5% meningkatkan biaya peluang untuk memegang Bitcoin yang tidak menghasilkan arus kas.

Investor dapat memperoleh imbal hasil nominal sekitar 5% dari obligasi pemerintah AS apabila dipegang hingga jatuh tempo, meskipun harga obligasinya tetap dapat berfluktuasi selama diperdagangkan.

Tingginya yield juga memperketat kondisi keuangan, menopang dolar AS, dan membuat investor lebih selektif terhadap aset berisiko.

Dampaknya biasanya lebih besar terhadap altcoin karena kapitalisasi dan likuiditasnya lebih kecil, serta volatilitasnya lebih tinggi dibandingkan Bitcoin. Kondisi tersebut terlihat dari penurunan XRP, Solana, Hyperliquid, dan Dogecoin yang lebih dalam.

Namun, pelemahan kripto tidak hanya dipicu faktor moneter. Senat AS juga gagal melanjutkan pembahasan CLARITY Act, regulasi yang diharapkan memberikan kepastian bagi industri aset digital. Kekecewaan regulasi tersebut ikut menjelaskan mengapa XRP jatuh jauh lebih dalam dibandingkan Bitcoin.

Ke Mana Arah Bitcoin?

Bitcoin saat ini menguji zona penopang penting di kisaran US$75.000-US$76.000. Dalam jangka sangat pendek, pergerakannya masih cenderung defensif selama belum mampu kembali menembus US$78.000-US$80.000.

Dalam skenario utama, The Fed menaikkan bunga sebesar 25 basis poin, namun apabila The Fed bernada agak hawkish dan mengindikasikan beberapa kenaikan tambahan, Bitcoin berisiko menembus level di bawah US$70.000. Jika penurunan memicu likuidasi besar di pasar derivatif, area US$65.000-US$67.000 dapat menjadi support berikutnya.

Hal ini membuka kemungkinan kembali lebih besar bagi investor yang belum melakukan akumulasi Bitcoin yang berada di level US$50.000-US$60.000 yang merupakan titik sedikit di atas konsensus pasar akan harga bottom Bitcoin pada siklus kali ini.

Dengan demikian, kenaikan suku bunga bukan lagi satu-satunya penentu. Arah Bitcoin selanjutnya akan lebih bergantung pada nada pernyataan The Fed, proyeksi kenaikan berikutnya, serta apakah yield Treasury tetap bertahan di sekitar 5%.

Karena Bitcoin secara tahunan merupakan salah satu aset dengan performa terburuk, maka Bitcoin dapat menjadi salah satu alternatif investasi yang secara historis mampu memberikan big return pada siklus kali ini apabila tensi geopolitik tidaklah berkepanjangan dan menyerap likuiditas di pasar.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |