Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membeberkan data hisab dan kesiapan rukyat hilal sebagai dasar penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah, sekaligus membuka live streaming agar publik dapat memantau langsung proses pengamatannya.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florid, memastikan seluruh data hisab tersebut telah disiapkan sebagai acuan utama bagi para pengamat di lapangan.
"Data hisab hilal telah kami siapkan secara rinci untuk menjadi panduan pengamatan yang dibutuhkan para pengamat di seluruh Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, Pelaksana Harian Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG A. Fachri Radjab menjelaskan, hasil rukyat dari seluruh lokasi akan dihimpun dan disampaikan kepada Kementerian Agama.
"Hasil pengamatan dari seluruh lokasi akan kami kumpulkan dan disampaikan kepada Kementerian Agama sebagai bahan pertimbangan Sidang Isbat, melengkapi informasi hisab," katanya.
Untuk mendukung penentuan awal Ramadan, BMKG menurunkan tim dan peralatan terbaik di 37 titik pengamatan yang tersebar di seluruh Indonesia pada 17-18 Februari 2026. Data hisab dan hasil rukyat dari seluruh lokasi tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat yang digelar oleh Kementerian Agama RI.
Berdasarkan perhitungan BMKG, pada Selasa (17/2/2026, hari ini), posisi hilal saat matahari terbenam masih berada di bawah ufuk di seluruh wilayah Indonesia.
Tinggi hilal tercatat berkisar dari minus 2,41 derajat di Jayapura, Papua, hingga minus 0,93 derajat di Tua Pejat, Sumatra Barat. Elongasi geosentris berada pada rentang 0,94 derajat di Banda Aceh hingga 1,89 derajat di Jayapura, sehingga belum memenuhi kriteria MABIMS yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Selain itu, umur bulan pada 17 Februari masih sangat muda, yakni minus 3,07 jam di Jayapura hingga minus 0,16 jam di Banda Aceh, dengan selisih waktu terbenam matahari dan bulan (lag) antara minus 8,27 menit hingga minus 3,11 menit. Fraksi iluminasi bulan pun masih sangat kecil, hanya berkisar 0,01% hingga 0,05%, sehingga peluang keterlihatan hilal sangat rendah.
Kondisi berbeda terjadi pada Rabu, 18 Februari 2026. Data hisab BMKG menunjukkan hilal sudah berada di atas ufuk dan memenuhi kriteria MABIMS di seluruh Indonesia.
Tinggi hilal diperkirakan mencapai 7,62 derajat di Merauke, Papua, hingga 10,03 derajat di Sabang, Aceh. Elongasi geosentris meningkat ke kisaran 10,7 derajat hingga 12,21 derajat, dengan umur bulan antara 20,92 jam sampai 23,84 jam.
Pada hari tersebut, waktu lag matahari-bulan juga semakin panjang, yakni sekitar 34,99 menit hingga 45,17 menit, sementara fraksi iluminasi bulan meningkat menjadi 0,74% hingga 0,98%, sehingga secara astronomis peluang keterlihatan hilal jauh lebih besar.
BMKG menegaskan penetapan resmi 1 Ramadan 1447 Hijriah tetap menjadi kewenangan Sidang Isbat Kementerian Agama yang digelar pada 17 Februari 2026.
Meski demikian, masyarakat dapat ikut memantau proses pengamatan hilal secara langsung melalui live streaming resmi BMKG di laman https://hilal.bmkg.go.id sebagai bagian dari keterbukaan informasi dan edukasi publik terkait proses ilmiah penentuan awal bulan hijriah.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2















































