Penemuan Terbaru! Parasit Penghisap Darah Ini Bisa Jadi Obat Autoimun

9 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Parasit penghisap darah atau kutu yang kerap dianggap merugikan, ternyata menyimpan potensi medis yang menjanjikan. Para peneliti dari Monash University Biomedicine Discovery Institute menemukan bahwa protein khusus yang dihasilkan oleh parasit tersebut dapat membuka jalan bagi pengobatan baru untuk penyakit autoimun dan peradangan kronis.

Secara biologis, sistem kekebalan tubuh manusia mengandalkan sinyal kimia yang disebut kemokin untuk melawan ancaman. Saat mendeteksi mikroba atau zat asing, kemokin bertindak layaknya alarm yang memanggil sel-sel imun ke area terinfeksi untuk menghancurkan penyusup tersebut.

Namun, kutu memiliki cara unik untuk melewati sistem alarm pertahanan. Saat menempel dan menghisap darah, kutu melepaskan protein khusus yang dikenal sebagai evasin. Protein itu berfungsi mencegat kemokin sebelum sistem imun menyadari adanya ancaman. Dengan memblokir sinyal tersebut, kutu dapat menghindari reaksi peradangan dan terus menghisap darah inangnya tanpa terdeteksi dalam waktu yang lama.

Mekanisme peredaman itulah yang menjadi fokus para ilmuwan. Pada manusia, kemokin tidak selalu membawa dampak positif. Ketika aktivitasnya berlebihan dan tidak terkendali, kemokin justru memicu peradangan kronis. Proses tersebut merupakan faktor utama penyebab berbagai penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis (RA), multiple sclerosis (MS), penyakit radang usus, hingga kerusakan jaringan pada penderita kanker.

Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Structure pada Februari 2026 seperti dilansir Scitechdaily, tim peneliti yang dipimpin oleh Prof. Martin Stone dan Dr. Ram Bhusal berhasil mengidentifikasi jenis evasin baru dari kutu.

Berbeda dengan evasin yang diketahui sebelumnya yang hanya bisa menargetkan satu kelompok kemokin, evasin jenis baru ini terbukti mampu mengikat dan menghambat dua kelompok utama kemokin sekaligus.

Surendra Kunwar, menjelaskan bahwa selama ini para ilmuwan meyakini bahwa kutu menekan respons imun inangnya dengan cara melepaskan campuran berbagai evasin yang masing-masing menargetkan kelompok kemokin yang berbeda.

"Namun, dalam studi ini, kami telah mengidentifikasi evasin alami yang dapat menghambat kedua kelas utama kemokin. Ini adalah temuan baru dan mewakili kemajuan yang signifikan di bidang ini," ujar Kunwar, dilansir Scitechdaily, dikutip Minggu (5/4/2026).

Dr. Shankar Raj Devkota, menambahkan bahwa kemampuan evasin yang bekerja secara ganda itu menawarkan potensi terapeutik yang besar.

"Penemuan ini membuka peluang baru untuk mengembangkan terapi yang menargetkan kemokin pemicu penyakit peradangan seperti RA dan MS. Meskipun saat ini sudah ada pengobatan yang tersedia, masih ada kebutuhan besar akan terapi yang lebih efektif untuk mencegah perkembangan penyakit," pungkas Devkota.

(haa/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |