Jakarta, CNBC Indonesia — Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Jumat (9/1/2026) pagi.
Melansir dari Refinitiv hingga pukul 10.10 WIB, minyak Brent tercatat di US$62,41 per barel, sementara WTI berada di US$58,13 per barel.
Jika dibandingkan dengan posisi Senin (5/1/2026), Brent naik dari US$61,76 ke US$62,41, sementara WTI dari US$57,76 menjadi US$58,13 dengan volatilitas tinggi sepanjang pekan.
Lonjakan paling tajam terjadi sejak Rabu-Kamis, ketika Brent melonjak dari US$59,96 pada 7 Januari menjadi US$61,99 pada 8 Januari, lalu berlanjut ke atas US$62 hari ini.
Pergerakan ini mencerminkan kembalinya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan, terutama setelah serangkaian eskalasi geopolitik yang melibatkan Venezuela, Rusia, Irak, dan Iran.
Pasar minyak kembali bergerak ke level sebelum gejolak besar di Caracas, ketika Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap oleh militer AS, sebuah peristiwa yang sempat mengguncang arus minyak di kawasan Amerika Latin.
Meski Amerika Serikat kini membuka peluang kembalinya perusahaan minyak Barat ke Venezuela, pasar tidak melihat dampaknya akan cepat terasa. Potensi masuknya minyak Venezuela ke pasar global, terutama ke kawasan Teluk Meksiko AS, diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Itu sebabnya, lonjakan harga lebih banyak dipicu oleh faktor risiko jangka pendek, bukan oleh ekspektasi tambahan suplai.
Tekanan juga datang dari jalur pasokan Rusia. Sebuah tanker yang mengangkut minyak menuju Rusia dilaporkan diserang drone di Laut Hitam dan terpaksa mengubah rute. Pada saat yang sama, Washington mendorong pengesahan rancangan undang-undang sanksi baru terhadap negara atau entitas yang masih melakukan bisnis dengan Rusia, yang merupakan produsen minyak terbesar kedua dunia setelah AS.
Dari Timur Tengah, Irak menambah ketidakpastian dengan memutuskan menasionalisasi operasi ladang minyak raksasa West Qurna 2. Langkah ini diambil untuk menghindari gangguan produksi akibat sanksi AS terhadap perusahaan Rusia Lukoil, yang selama ini menjadi salah satu pemegang saham utama di lapangan tersebut. Setiap gangguan di ladang ini berpotensi langsung mempengaruhi pasokan global.
Iran juga menjadi sumber risiko baru. Protes nasional yang dipicu reformasi subsidi dan tekanan ekonomi disertai pemadaman internet secara luas memperbesar kekhawatiran pasar. Dengan Iran menyumbang sekitar 2% pasokan minyak dunia, setiap gangguan ekspor dari negara ini berpotensi memicu lonjakan harga lebih lanjut, terutama di tengah pasar yang sudah sensitif terhadap isu geopolitik.
Di sisi lain, keterlibatan AS dan Eropa di Venezuela belum serta-merta menurunkan harga. Rencana kunjungan perusahaan minyak besar seperti Chevron, ConocoPhillips, dan ExxonMobil ke Caracas justru dilihat pasar sebagai sinyal bahwa Washington ingin mengatur ulang aliran minyak Venezuela sesuai kepentingannya sendiri, bukan untuk menambah pasokan bebas ke pasar global.
Kombinasi risiko dari Amerika Latin, Eropa Timur, dan Timur Tengah membuat premi geopolitik kembali masuk ke harga. Ini terlihat dari konsistensi Brent bertahan di atas US$62 dan WTI di sekitar US$58, level tertinggi sejak akhir Desember, meskipun secara fundamental belum ada gangguan fisik besar terhadap arus minyak global.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(emb/emb)
[Gambas:Video CNBC]

16 hours ago
2
















































