Jakarta, CNBC Indonesia - Sosok Abdullah Al Qasemi kerap dipandang sebagai salah satu cendekiawan paling kontroversial dalam sejarah dunia Arab. Kepopulerannya tidak hanya bersumber dari pemikiran-pemikirannya yang kritis, tetapi juga jalan hidupnya yang bertolak belakang secara drastis dari tradisi keagamaan tempat ia dibesarkan.
Dilahirkan pada tahun 1907 di Buraydah, Arab Saudi, Al Qasemi tumbuh di tengah keluarga yang sangat taat menjalankan ajaran Islam. Masa kecilnya diisi dengan bimbingan rohani yang ketat di bawah arahan sang ayah langsung, menjadikannya pribadi yang patuh tanpa kesempatan untuk meragukan dogma yang ditanamkan sejak dini.
Didikan tersebut menempa Al Qasemi menjadi sosok yang haus pengetahuan. Ia dikenal cerdas dan tekun mempelajari hadis, hukum Islam, hingga bahasa dan sastra Arab. Kapasitas intelektualnya mengantarkan Al Qasemi ke salah satu pusat pendidikan Islam paling bergengsi di dunia, Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.
Saat berkuliah, dia mulai dikenal sebagai tokoh intelektual yang menawarkan gagasan baru soal pola pikir bangsa Arab. Melansir Al Arabiya, Jumat (30/1/2026) Qasemi sempat mendorong negara-negara Arab mengedepankan unsur rasional agar terbebas dari pemikiran mitologis.
Ia juga membela gerakan Salafi yang dituangkan dalam berbagai karya dan orasi ilmiah. Sebagai catatan, menurut situs Britannica, gerakan Salafi adalah gerakan Islam yang berusaha meniru praktik al-salaf al-salih atau para pendahulu yang saleh. Pendahulu yang dimaksud merujuk pada generasi awal umat Islam selama dan setelah masa hidup Nabi Muhammad.
Atas dasar ini, penganut Salafi, termasuk Qasemi, berpegang teguh pada Al-Qur'an, hadis, dan konsensus ulama. Mereka menolak bid'ah dan mendukung penerapan syariat Islam. Meski demikian, dukungan Qasemi terhadap Salafi justru memicu ketegangan dengan pihak kampus. Pada 1931, ia dikeluarkan dari Universitas Al-Azhar.
Setelah tak lagi menjadi mahasiswa, arah pemikiran Qasemi berubah drastis. Dari sosok religius hasil didikan keluarga, lalu pendukung Salafi garis keras, ia perlahan meninggalkan praktik-praktik keagamaan Islam. Pada titik tertentu, Qasemi bahkan menyatakan diri sebagai ateis, menolak konsep ketuhanan yang sebelumnya ia bela.
Keputusan tersebut mengejutkan banyak pihak, terlebih karena disertai terbitnya karya-karya baru yang kian kontroversial.
Salah satu yang paling menuai kecaman adalah buku The Lie to See God Beautiful.
Melalui buku itu, Qasemi mempertanyakan rasionalitas dan dogma agama yang selama ini dianut masyarakat. Kritik tajam tersebut membuatnya menjadi sasaran hujatan luas dan dianggap sebagai musuh publik. Perlahan, buku-buku dan karya lain yang mengkritik agama dilarang di berbagai negara Timur Tengah.
Tak sedikit pihak yang menuntut agar Qasemi dijatuhi hukuman mati. Masih mengutip Al Arabiya, pada 1954 pemerintah Mesir menetapkannya sebagai persona non grata dan mengusirnya dari negara tersebut karena pengaruh pemikirannya dinilai berbahaya dan berpotensi meluas.
Dalam hidupnya, Qasemi juga berulang kali menjadi target upaya pembunuhan, baik saat berada di Mesir maupun selama masa pengasingan di Lebanon. Hingga akhirnya, perjalanan intelektual penuh kontroversi itu berakhir pada 9 Januari 1996, ketika ia meninggal dunia akibat kanker.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2

















































