Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
22 March 2026 11:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham Hybe Corporation (HYBE) ambruk pada pekan ini. Pergerakan sahamnya justru mengalami penurunan di tengah comeback grup global BTS.
Gerak saham HYBE bahkan jauh di bawah bursa saham Korea Selatan KOSPI. Sepanjang pekan ini, bursa KOSPI melonjak 5,36% tetapi saham HYBE justru anjlok 4,84%.
Sepanjang tahun ini, bursa KOSPI sudah terbang 37,18% sementara HYBE hanya naik 4,24%.
Foto: Seorang pedagang mata uang berjalan melewati papan elektronik yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) dan nilai tukar antara dolar AS dan won Korea Selatan di ruang perdagangan sebuah bank di Seoul, Korea Selatan, 3 Maret 2026. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Struktur Pasar dan Faktor Volatilitas KOSPI
Pergerakan KOSPI selama Maret 2026 menunjukkan rentang fluktuasi yang dipengaruhi oleh sentimen makroekonomi dan geopolitik global.
Berdasarkan data perdagangan historis, KOSPI sempat mencatatkan penurunan tajam ke level 5.093,54 pada 4 Maret 2026, merespons ketegangan yang terjadi di wilayah Timur Tengah. Indeks kemudian secara bertahap mengalami penyesuaian dan ditutup pada level 5.781,20 pada perdagangan Jumat kemarin atau menguat 0,31%.
KOSPI menguat sepanjang 2026, didorong oleh lonjakan sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI).
Permintaan dari AI, data center, dan cloud mendorong harga chip memori seperti DRAM dan NAND naik tajam. Hal ini mengangkat kinerja raksasa teknologi seperti Samsung Electronics dan SK Hynix, sekaligus menjadi motor utama kenaikan indeks.
Selain itu, industri chip juga memasuki fase pemulihan setelah slump 2022-2023, dengan margin produsen mulai membaik.
Dari sisi global, ekspektasi penurunan suku bunga mendorong arus dana asing masuk ke pasar Korea. Penguatan won dan reformasi pasar melalui program "Korea Value-Up" juga ikut meningkatkan daya tarik saham. Kebijakan ini mendorong perusahaan untuk meningkatkan dividen, melakukan buyback saham, serta memperbaiki transparansi, sehingga membuat valuasi saham menjadi lebih menarik di mata investor
Pemulihan ekspor, terutama chip dan kendaraan listrik, semakin memperkuat tren kenaikan KOSPI. Namun, ketergantungan besar pada sektor semikonduktor tetap menjadi risiko utama ke depan.
Global Investment Strategist di KB Financial Group, Peter S. Kim, mencatat bahwa pasar saham Korea Selatan masih dihadapkan pada tantangan valuasi struktural, atau yang di kalangan pelaku pasar dikenal dengan istilah "Korea discount".
Fenomena ini merujuk pada kondisi di mana valuasi perusahaan domestik cenderung berada di bawah standar pasar negara maju, meskipun mencatatkan fundamental laba yang memadai.
Tingginya partisipasi investor ritel yang berfokus pada perdagangan jangka pendek dan pemanfaatan instrumen leverage turut memengaruhi stabilitas indeks secara keseluruhan. Struktur pasar yang banyak didominasi oleh pergerakan hot money membuat KOSPI rentan terhadap perubahan sentimen secara seketika.
Kondisi struktural ini menyulitkan investor institusi dalam menempatkan modal jangka panjang serta melakukan lindung nilai pada portofolio.
Hal tersebut memicu terjadinya rotasi modal dan penarikan dana oleh investor setiap kali terjadi penyesuaian kondisi pasar global, sehingga fondasi pasar terkesan belum cukup stabil untuk menahan tekanan jual dalam jangka pendek.
Mengapa Saham HYBE Jatuh?
Pada tingkat pergerakan saham emiten, HYBE mencatatkan tren pelemahan seiring dengan mendekatnya jadwal konser kembalinya grup BTS di kawasan Gwanghwamun, Seoul pada Sabtu (21/3/2026). Pada penutupan perdagangan Jumat (20/3/2026), saham ditutup pada level KRW 344.000 atau jatuh 2,96%.
Pelemahan ini memperpanjang derita saham HYBE yang jatuh 6,4% dalam dua hari terakhir.
Angka ini melanjutkan tren koreksi berkala dari posisi puncaknya di KRW 404.500 yang sempat tercatat pada perdagangan 19 Februari 2026 lalu.
Penurunan ini justru terjadi di tengah comeback BTS dan konser perdana usai aktif kembali di dunia musik setelah hiatus empat tahun menjalani wajib militer.
BTS secara resmi mengumumkan album terbaru bertajuk "ARIRANG" dengan single utama "SWIM" yang rilis pada Jumat (20/3/2026). Mereka menggelar konser bertajuk BTS THE COMEBACK LIVE | ARIRANG pada Sabtu (21/3/2026).
Foto: RM BTS (Tangkapan Layar via Instagram @bts.bighitofficial)
Meskipun perusahaan melaporkan volume penjualan awal album baru bertajuk "Arirang" mencapai 3,98 juta kopi pada hari pertama, sentimen kehati-hatian dalam jangka pendek tetap mendominasi pasar.
Pelemahan saham HYBE di tengah comeback grup global BTS, memunculkan pertanyaan di kalangan investor. Pasalnya, kembalinya BTS seharusnya menjadi katalis positif bagi kinerja perusahaan.
Namun, pelaku pasar melihat situasi ini dari sudut pandang yang berbeda.
Salah satu faktor utama adalah fenomena klasik di pasar saham yakni buy the rumor, sell the news. Harga saham HYBE sudah lebih dulu naik sebelum comeback BTS, seiring ekspektasi tinggi investor. Ketika comeback benar-benar terjadi, banyak investor memilih mengambil untung, sehingga menekan harga saham.
Sebagai catatan, saham HYBE melonjak 2,3% pada 2 Januari 2026 atau setelah agensi musik HYBE, BigHit Music, mengumumkan bahwa BTS akan merilis album baru. Pada tiga hari setelahnya, saham HYBE terus naik hingga terbang 7,34%.
Selain itu, valuasi HYBE dinilai sudah cukup tinggi. Dengan rasio price-to-earnings (P/E) yang premium, comeback BTS diharapkan memberikan hasil luar biasa. Ketika realisasi tidak melampaui ekspektasi, pasar cenderung merespons negatif.
Data terbaru menunjukkan trailing P/E (TTM) perusahaan bisa mencapai sekitar 200 hingga 400 kali, bahkan sempat menembus di atas 400-800 kali tergantung periode laba. Artinya, investor "membayar" 200-800 tahun laba sekarang.
Sebagai perbandingan, kompetitor di industri K-pop seperti SM Entertainment hanya memiliki P/E di kisaran 8x sementara JYP Entertainment di kisaran 13x.
Tekanan juga datang dari sentimen jangka pendek.
Di tengah persiapan konser, BIGHIT MUSIC mengumumkan pada Jumat bahwa leader BTS, RM atau Kim Nam-joon mengalami cedera pergelangan kaki saat latihan sehari sebelumnya.
Cedera ini membuat pergerakan fisik di atas panggung terbatas dan meminimalisir mobilitas selama dua pekan ke depan.
Kabar cedera salah satu member BTS serta respons pasar yang tidak sepenuhnya euforia terhadap event comeback turut memicu aksi jual. Faktor-faktor seperti ini, meski terlihat kecil, dapat berdampak signifikan terhadap pergerakan saham.
Di sisi lain, investor juga menyoroti struktur bisnis HYBE yang masih sangat bergantung pada BTS. Meskipun perusahaan telah berupaya melakukan diversifikasi melalui artis lain seperti NewJeans dan Enhypen, dominasi BTS dalam kontribusi pendapatan masih menjadi perhatian utama pasar.
Kekhawatiran ini diperkuat oleh sejumlah isu internal, mulai dari aksi jual saham oleh pihak internal hingga dinamika konflik di dalam label, yang menambah ketidakpastian terhadap prospek perusahaan.
Lebih jauh, dampak finansial dari comeback BTS juga tidak bersifat instan. Meski penjualan album dan potensi tur global bernilai besar, pendapatan tersebut akan terealisasi secara bertahap dan belum langsung tercermin dalam laporan keuangan jangka pendek.
Dengan demikian, penurunan saham HYBE bukan mencerminkan kegagalan comeback BTS, melainkan respons pasar terhadap ekspektasi yang sudah terlalu tinggi sebelumnya.
Ke depan, pergerakan saham HYBE akan sangat bergantung pada keberhasilan monetisasi comeback BTS, serta kemampuan perusahaan dalam memperkuat diversifikasi bisnis di luar grup tersebut.
Sejumlah riset sekuritas, termasuk dari IBK Investment & Securities, sebenarnya memproyeksikan total pendapatan tur global yang dimulai dari Seoul ini dapat mencapai KRW 2,7 triliun hingga tahun 2027. Di samping itu, Yuanta Securities juga memproyeksikan peningkatan signifikan pada laba operasional perusahaan tahun ini.
Namun, indikator fundamental jangka panjang tersebut belum sepenuhnya mampu menahan tekanan jual jangka pendek yang ada saat ini.
Penyesuaian ekspektasi terhadap jalannya pertunjukan pembuka di Seoul memberikan alasan teknis bagi investor untuk mengambil sikap konservatif dan merealisasikan keuntungan lebih awal, sebelum acara resmi dilangsungkan dan hasil aktual dapat dievaluasi.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google

6 hours ago
3
















































