Mengapa Leverage Tinggi Digunakan dalam Skema Penipuan Digital

3 hours ago 2

Oleh: Dr. M. Irsan Nasution

Di tengah fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dalam beberapa waktu terakhir bergerak tidak menentu, banyak investor ritel mulai mencari alternatif investasi yang dianggap lebih cepat menghasilkan. Ketika pasar saham bergejolak akibat tekanan global, kebijakan suku bunga, dan ketidakpastian ekonomi, ruang digital menjadi pilihan baru. Aset kripto dan berbagai platform trading daring tampil dengan janji efisiensi serta potensi keuntungan tinggi.

Namun, meningkatnya partisipasi masyarakat dalam investasi digital belum sepenuhnya diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai. Dalam kondisi seperti ini, istilah teknis seperti leverage kerap dipahami secara parsial, bahkan disalahartikan sebagai jalan pintas menuju keuntungan cepat.

Leverage dan Mekanisme Risiko
Secara sederhana, leverage adalah fasilitas yang memungkinkan seseorang bertransaksi dengan nilai lebih besar dari modal yang dimiliki. Dengan modal Rp1 juta dan leverage 10 kali (10x), seseorang dapat membuka posisi seolah-olah memiliki Rp10 juta. Jika harga bergerak sesuai prediksi, keuntungan memang dapat meningkat signifikan. Namun jika harga bergerak berlawanan, kerugian pun akan membesar dalam waktu yang sama cepatnya.

Dalam praktik trading yang sehat, leverage tidak diberikan sembarangan. Platform yang kredibel biasanya membatasi leverage berdasarkan tingkat likuiditas dan volatilitas aset. Aset besar seperti Bitcoin atau Ethereum memang memiliki leverage lebih tinggi karena didukung volume transaksi besar. Sebaliknya, untuk koin kecil yang lebih fluktuatif, leverage umumnya dibatasi rendah guna mencegah risiko likuidasi ekstrem.

Ketika Sistem Tidak Transparan
Pola berbeda justru sering muncul dalam skema penipuan digital. Sejumlah platform tidak transparan menawarkan leverage sangat tinggi, bahkan untuk aset yang tidak terdaftar di bursa resmi atau tidak memiliki likuiditas yang dapat diverifikasi. Dalam konteks seperti ini, leverage bukan lagi instrumen manajemen risiko, melainkan alat untuk mempercepat kerugian.

Dengan leverage ekstrem, pergerakan harga kecil saja dapat langsung menghabiskan saldo investor. Ketika kerugian terjadi, penjelasan yang diberikan biasanya sederhana: risiko pasar. Investor pun kerap menerima alasan tersebut karena sejak awal telah diyakinkan bahwa trading memang berisiko tinggi.

Padahal, dalam sistem trading tertutup, harga yang menjadi dasar likuidasi sering kali tidak dapat diperiksa secara independen. Semua data hanya tersedia di dalam aplikasi itu sendiri. Investor tidak bisa membandingkan harga dengan bursa resmi atau memverifikasi apakah transaksi benar-benar terjadi di pasar nyata. Dalam kondisi seperti ini, batas antara risiko pasar dan risiko sistem menjadi kabur.

Dimensi Psikologis: Antara Ilusi Kendali dan Budaya Serba Instan
Dalam banyak kasus, leverage tinggi bukan sekadar persoalan teknis perdagangan, melainkan persoalan cara manusia memaknai risiko dan harapan. Ketika investor melihat angka keuntungan bertambah di layar, muncul rasa seolah-olah ia memegang kendali. Keuntungan awal, meskipun belum tentu berasal dari transaksi pasar yang nyata, memberi sensasi keberhasilan. Pada titik itu, logika sering perlahan tergeser oleh keyakinan bahwa sistem telah dipahami dan risiko bisa ditaklukkan.

Leverage memperbesar bukan hanya nilai transaksi, tetapi juga memperbesar emosi. Semakin besar posisi, semakin tinggi adrenalin. Rasa takut ketinggalan peluang dan dorongan untuk “mengejar momentum” membuat keputusan diambil dengan cepat, sering kali tanpa perhitungan matang.

Ketika kerugian muncul, reaksi yang timbul bukan menghentikan risiko, melainkan menambahnya, dengan harapan dapat segera membalikkan keadaan. Di sinilah ilusi kendali bekerja: kerugian dianggap sebagai kesalahan strategi pribadi, bukan kemungkinan adanya sistem yang tidak transparan.

Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial yang lebih luas. Generasi muda hari ini hidup dalam budaya serba cepat, informasi instan, transaksi instan, bahkan kesuksesan yang dipamerkan secara instan di media sosial. Narasi tentang “cuan cepat”, “profit harian”, dan “financial freedom di usia muda” menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Dalam lingkungan seperti ini, kesabaran sering kalah oleh dorongan untuk segera berhasil. Leverage tinggi pun tampil sebagai simbol percepatan: cara untuk melompat lebih jauh dalam waktu lebih singkat.

Namun sejarah ekonomi selalu menunjukkan satu hal: keuntungan yang dipercepat tanpa pemahaman risiko yang seimbang cenderung membawa konsekuensi yang juga dipercepat. Dalam ruang digital, di mana batas antara realitas dan tampilan layar semakin tipis, tantangan terbesar bukan hanya membaca grafik, melainkan membaca diri sendiri. Apakah keputusan diambil karena analisis yang matang, atau karena tekanan sosial dan ilusi bahwa kesempatan tidak boleh dilewatkan?

Pada akhirnya, persoalan leverage bukan hanya tentang angka dan persentase, melainkan tentang kedewasaan finansial. Di tengah budaya instan, kemampuan untuk menunda, mempertanyakan, dan bersikap skeptis justru menjadi bentuk keberanian yang paling relevan. Sebab dalam investasi, seperti dalam banyak aspek kehidupan, kecepatan sering kali memikat, tetapi kehati-hatianlah yang menjaga.

Literasi dan Pilihan Platform
Leverage sendiri bukanlah instrumen yang keliru. Dalam sistem yang diawasi dengan baik dan memiliki transparansi jelas, leverage dapat digunakan secara disiplin oleh investor yang memahami risiko. Namun ketika leverage tinggi ditawarkan pada aset yang tidak jelas legalitasnya, tidak terdaftar di bursa resmi, serta tidak memiliki likuiditas yang dapat diverifikasi, kewaspadaan harus ditingkatkan.

Karena itu, memilih platform yang kredibel menjadi langkah awal perlindungan diri. Secara internasional, sejumlah exchange kripto memiliki reputasi relatif lebih baik karena likuiditas tinggi dan transparansi operasional, seperti Binance, Coinbase, dan Kraken. Di tingkat nasional, investor Indonesia sebaiknya menggunakan exchange yang terdaftar dan diawasi regulator dalam negeri, seperti Indodax, Tokocrypto, dan Pintu. Meski demikian, tetap penting dipahami bahwa tidak ada exchange yang 100% bebas risiko. Volatilitas pasar kripto tetap tinggi, dan keamanan akun tetap bergantung pada kedisiplinan pengguna dalam menjaga akses serta autentikasi.

Pada akhirnya, persoalan leverage bukan semata soal teknis perdagangan, melainkan soal kedewasaan dalam mengambil keputusan finansial. Pasar yang bergejolak boleh mendorong pencarian peluang baru, tetapi kehati-hatian tetap menjadi fondasi utama. Investasi yang sehat tidak lahir dari janji keuntungan instan, melainkan dari pemahaman risiko dan transparansi. WASPADA.id

Tentang Penulis
Dr. M. Irsan Nasution adalah akademisi dan pengamat isu sosial serta investasi. Ia aktif meneliti literasi keuangan, tata kelola, dan risiko di sektor keuangan digital serta tekun menulis opini edukatif mengenai perlindungan investor.

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |