Jakarta, CNBC Indonesia - Gravitasi di Bumi tidak merata di setiap wilayahnya. Ada beberapa wilayah yang sangat kuat, namun adapula yang jauh lebih lemah dan titik terendahnya berada di Antartika.
Salah satu tandanya adalah terdapat penurunan ketinggian permukaan laut di wilayah itu. Sebab air secara alami akan bergeser ke daerah dengan gravitasi yang lebih kuat.
Sebuah penelitian menemukan lubang gravitasi yang berada di Antartika. Seiring berjalannya waktu, lubang itu terus menguat selama beberapa juta tahun terakhir.
"Jika kita bisa memahami cara bagian dalam Bumi membentuk gravitasi dan permukaan laut, kita akan mendapatkan wawasan soal faktor yang mungkin penting untuk pertumbuhan dan stabilitas lapisan es besar," jelas salah satu penulis dan Universitas Florida, Alessandro Forte, dikutip dari Scitechdaily, Jumat (20/2/2026).
Dia bersama Petar Glisovic dari Institut Fisika Bumi Paris mencoba memetakan lubang gravitasi Antartika. Keduanya melakukan penelusuran perkembangan selama jutaan tahun.
Untuk melakukan pemetaan, keduanya menggabungkan data gempa Bumi dan model komputer berbasis fisika. Dengan cara ini, mereka mencoba untuk melakukan rekonstruksi struktur tiga dimensi pada interior Bumi.
"Bayangkan seperti melakukan CT Scan di Bumi, namun bukan sinar-X. Kita punya gempa Bumi. Gelombang gempa Bumi menyediakan cahaya untuk menerangi bagian dalam planet," jelas Forte.
Dari hasil analisa gelombang seismik, tim peneliti menghasilkan peta medan gravitasi. Hasil temuan tersebut dinilai sesuai dengan pengukuran satelit, yang disebut sebagai tolak ukur melacak gravitasi di seluruh dunia.
Mereka juga melakukan rekonstruksi pada lubang gravitasi yang terbentuk dalam waktu geologis yang sangat panjang. Model yang dibuat berhasil melakukan penelusuran hingga zaman dinosaurus atau 70 juta tahun lalu.
Saat itu, lubang gravitasi masih memiliki kekuatan yang sangat lemah. Namun puluhan juta tahun berikutnya, yakni 50-30 juta tahun lalu, kekuatannya meningkat secara signifikan.
Para peneliti mencatat perubahan kekuatan itu berasal dari iklim Antartika dan mulainya glasiasi yang meluas di seluruh benua.
Penelitian Forte tak sampai di situ saja. Ke depannya dia ingin menyelidiki hubungan antara gravitasi, permukaan laut dan perubahan ketinggian benua dalam menentukan penguatan tekanan rendah gravitasi, yang pada akhirnya berdampak pada perkembangan lapisan es di Antartika.
(dem/dem)
Addsource on Google

1 hour ago
1














































