Ukuran Font
Kecil Besar
14px
LISBOU (Waspada.id): Insiden panas terjadi ketika Jose Mourinho kartu merah dalam laga leg pertama babak gugur Liga Champions antara Benfica melawan Real Madrid.
Sang pelatih asal Portugal tersebut harus diusir keluar lapangan setelah melakukan protes keras terhadap keputusan wasit di menit-menit krusial babak kedua. Ketegangan memuncak di Estadio da Luz saat Mourinho dianggap melewati batas dalam menyuarakan kekecewaannya di pinggir lapangan.
Pertandingan yang awalnya berjalan sangat taktis ini berubah menjadi drama penuh emosi di paruh kedua. Mourinho, yang dikenal dengan gaya meledak-ledaknya, tidak mampu membendung amarahnya melihat beberapa keputusan pengadil lapangan yang merugikan timnya.
Puncaknya terjadi di menit ke 85 ketika sebuah insiden pelanggaran di tepi kotak penalti menyulut emosi mantan pelatih Real Madrid tersebut hingga wasit tak punya pilihan lain selain mengusirnya.
Kejadian yang melibatkan Jose Mourinho kartu merah ini bermula dari intensitas tinggi yang dibangun oleh kedua tim sejak awal babak kedua. Berikut adalah urutan kejadian yang memicu pengusiran sang Special One:
Menit ke 85 Richard Rios dijatuhkan oleh Vinicius Junior tepat di tepi kotak penalti Real Madrid. Mourinho dan seluruh staf pelatih Benfica menganggap itu adalah pelanggaran fatal yang layak membuahkan kartu bagi pemain Madrid.
Melihat wasit tidak memberikan respon yang diinginkannya, Mourinho beraksi dengan sangat keras di area teknis. Ia tampak berteriak ke arah asisten wasit dan ofisial keempat.
Wasit utama segera menghampiri pinggir lapangan dan memberikan kartu kuning kepada Mourinho sebagai peringatan pertama atas perilaku agresifnya.
Bukannya mereda, Mourinho justru terus melontarkan kata-kata pedas secara langsung ke wajah wasit. Tanpa ragu, wasit langsung mencabut kartu merah dari sakunya.
Setelah menerima kartu merah, Mourinho sempat menolak untuk pergi sebelum akhirnya dikawal menuju tribun penonton, meninggalkan bangku cadangan Benfica tanpa pemimpin utama di sisa waktu pertandingan.
Keputusan wasit ini menambah daftar panjang catatan disiplin Mourinho dalam karier kepelatihannya, terutama saat menghadapi mantan klubnya. Kehilangan sosok pelatih di pinggir lapangan terbukti berdampak pada organisasi permainan Benfica yang sedang berupaya mengejar ketertinggalan skor.
Sebelum insiden Jose Mourinho kartu merah, atmosfer pertandingan sudah memanas karena keterlibatan Vinicius Junior dalam berbagai momen provokatif. Pemain asal Brasil ini menjadi pusat perhatian bukan hanya karena gol indahnya, tetapi juga karena gesekan dengan pemain dan pendukung Benfica.
Pada menit ke 50, Vinicius berhasil memecah kebuntuan setelah menerima assist dari Kylian Mbappe. Gol tersebut dicetak dengan tendangan melengkung yang sangat indah ke sudut jauh gawang Trubin.
Namun, perayaan golnya yang mengarah ke tribun pendukung tuan rumah memicu kemarahan publik Estadio da Luz. Wasit bahkan harus memberikan kartu kuning kepada Vinicius karena dianggap memprovokasi penonton.
Ketegangan semakin meningkat di menit ke 53 saat terjadi keributan antar pemain di tengah lapangan. Vinicius tampak sangat marah setelah terlibat adu mulut dengan Gianluca Prestianni.
Pemain Benfica tersebut terlihat menutup mulutnya saat berbicara, yang memicu reaksi luar biasa dari Vinicius. Laga bahkan sempat terhenti selama hampir sepuluh menit karena ofisial pertandingan berusaha menenangkan situasi dan berkomunikasi dengan kapten kedua tim.
Real Madrid di bawah asuhan Alvaro Arbeloa tampil dengan kedisiplinan tinggi meski harus bermain di bawah tekanan suporter lawan. Arbeloa melakukan beberapa rotasi penting dalam susunan pemainnya, termasuk memasukkan Alexander Arnold, Rudiger, dan Camavinga sejak menit awal. Keputusan ini terbukti tepat karena Madrid mampu meredam agresivitas Benfica di lini tengah.
Camavinga dan Tchouameni menjadi aktor kunci dalam memutus aliran bola Benfica yang dimotori oleh Fredrik Aursnes. Meskipun Benfica sempat memberikan perlawanan sengit di babak pertama lewat aksi Pavlidis, barisan pertahanan Madrid yang dipimpin Rudiger tetap solid. Keberadaan Mbappe di lini depan juga memaksa lini belakang Benfica untuk tidak terlalu berani membantu serangan, karena kecepatan Mbappe selalu menjadi ancaman nyata dalam skema serangan balik.
Statistik menunjukkan bahwa Real Madrid menguasai xG sebesar 0.9 di babak pertama dibandingkan hanya 0.16 milik Benfica. Dominasi ini berlanjut hingga babak kedua, di mana kreativitas individu dari pemain depan Madrid akhirnya menjadi pembeda. Kegagalan Benfica memanfaatkan status sebagai tuan rumah tentu menjadi catatan besar bagi Mourinho, terlepas dari insiden kartu merah yang ia terima.
Dampak Absennya Mourinho Di Leg 2
Kejadian Jose Mourinho kartu merah ini memiliki konsekuensi jangka panjang bagi Benfica di kompetisi Liga Champions musim ini. Berdasarkan aturan UEFA, pengusiran langsung karena protes keras biasanya berujung pada larangan mendampingi tim minimal dalam satu pertandingan. Artinya, Benfica kemungkinan besar tidak akan dipimpin oleh Mourinho saat mereka bertandang ke Santiago Bernabeu untuk melakoni leg kedua.
Absennya Mourinho di pinggir lapangan akan menjadi kerugian besar mengingat ia adalah ahli strategi yang sangat berpengalaman di fase gugur Eropa. Asisten pelatih harus mampu mengambil alih tanggung jawab dan menjaga mentalitas pemain di stadion yang sangat angker bagi tim tamu. Selain itu, Benfica juga harus mengevaluasi efektivitas lini serang mereka yang gagal mencetak gol meski bermain di kandang sendiri. (id08/rtr)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.





















































