Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak konflik di Timur Tengah mulai merembet ke sektor penerbangan Asia. Pemerintah Filipina mengungkapkan kemungkinan terburuknya bahwa pesawat bisa terpaksa tidak beroperasi akibat krisis bahan bakar.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menyebut penghentian operasional pesawat (grounding) menjadi "kemungkinan nyata" jika pasokan bahan bakar jet terus terganggu akibat perang di Iran.
"Beberapa negara sudah memberi tahu maskapai kami bahwa mereka tidak bisa menyediakan bahan bakar, sehingga pesawat harus membawa bahan bakar sendiri untuk perjalanan pulang-pergi," ungkap Marcos dalam sebuah wawancara, dikutip dari Straits Times, Selasa (24/3/2026).
"Penerbangan jarak jauh akan menjadi yang paling terdampak dalam situasi ini," ujarnya.
Meski pemerintah berharap skenario terburuk bisa dihindari, risiko tersebut tetap terbuka. Kondisi ini terjadi di tengah kekhawatiran meningkatnya konflik Timur Tengah yang berpotensi memicu krisis minyak terbesar sejak 1970-an.
Sejumlah maskapai di Asia pun mulai menyiapkan langkah darurat. Filipina menjadi salah satu negara yang paling rentan karena ketergantungan tinggi terhadap impor minyak mentah, sebagian besar berasal dari Timur Tengah.
Situasi ini membuat negara tersebut lebih mudah terdampak lonjakan harga energi dan potensi kelangkaan pasokan. Dampaknya pun mulai terasa. Maskapai berbiaya rendah Cebu Air mengumumkan rencana pengurangan jumlah penerbangan mulai awal April akibat kenaikan harga bahan bakar.
Tak hanya Filipina, maskapai di Vietnam juga mulai melakukan penyesuaian. Vietnam Airlines menghentikan sementara sejumlah rute domestik, sementara VietJet mengurangi frekuensi penerbangan. Bamboo Airways juga memberi sinyal pengurangan layanan jika harga minyak tetap tinggi.
Walau begitu, pernyataan Marcos sedikit bertolak belakang dengan Kementerian Energi Filipina. Otoritas energi setempat menyebut maskapai masih memiliki pasokan bahan bakar yang cukup untuk saat ini.
Pemerintah mengaku telah berkoordinasi dengan maskapai untuk memastikan kebutuhan bahan bakar tetap terpenuhi. Namun, ketidakpastian global membuat risiko gangguan operasional penerbangan masih membayangi kawasan.
"Kami bertemu mereka karena kami ingin tahu apakah mereka membutuhkan bantuan dalam pengadaan, tetapi mereka telah meyakinkan kami bahwa mereka baik-baik saja," ujar Menteri Energi Filipina Sharon Garin.
(wia)
Addsource on Google

3 hours ago
2
















































